Sejarah 16 Juli: Tragedi Maracanazo, Kutukan Bagi Sejarah Sepakbola Brasil

Moacyr Barbosa (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – “Hanya ada tiga orang dalam sejarah yang mampu membungkam keangkeran stadion Maracana dalam satu gerakan, yaitu Paus, Frank Sinatra, dan saya”. Itulah kalimat yang keluar dari mulut Alchides Ghiggia, salah satu pemain sepakbola Uruguay yang berhasil membuat seluruh Brasil dan 200.000-an penonton di stadion Maracana berduka, karena golnya menghapus harapan Brasil untuk menjadi juara piala dunia 1950.

Pada 16 Juli 1950, tepat hari ini 70 tahun yang lalu, suasana persiapan pesta terlihat di hampir seluruh penjuru Brasil. Sedari pagi, bangsa yang menyejajarkan sepakbola dengan agama itu, terutama di sekitaran Maracana, sudah menyiapkan segala sesuatunya. Kembang api, karnaval, makanan dan minuman khas pesta mulai disiapkan. Beberapa makanan dan minuman ada yang habis duluan. Guna mengisi perut untuk berangkat ke stadion.

Sementara di stadion, panitia tak mau kalah sigap. Mulai pukul 07:00 pagi waktu setempat, semua sudah bersiap-siap. Rela lembur dan bekerja lebih pagi demi pertandingan penting bagi seluruh rakyat Brasil pukul 15:00 sorenya; partai pamungkas sekaligus penentuan juara Piala Dunia 1950 antara Brasil melawan Uruguay.

Pada bagian dalam stadion, semua yang menjadi panitia sibuk dengan tugas-tugasnya. Di sebuah ruangan, tiga-empat orang sibuk memeriksa kembali dengan jeli 22 medali. Diperiksanya berulang-ulang setiap medali Piala Dunia 1950 yang sudah terlebih dahulu diukir dengan nama skuat Brasil. Padahal, kala itu FIFA belum memiliki tradisi memberikan medali pada pemenang Piala Dunia.

Di tribun VIP, petugas kebersihan mulai membersihkan bangku-bangku untuk para pejabat. Sementara di pinggir lapangan, para panitia sibuk dengan gladi resiknya. Bukan untuk seremonial sebelum pertandingan, karena memang sudah menjadi rutinitas selama sebulan ini, tapi untuk persiapan “pesta” setelah pertandingan.

Podium mana untuk pembagian medali dan angkat trofi, siapa saja yang harus berdiri di sana, kapan Julies Rimet (Presiden FIFA) memberikan pidatonya, di mana spot terbaik bagi fotografer mengambil gambarnya dan persiapan sejenisnya, semua disusun, diatur dan disiapkan dengan rapih.

Empat jam sebelum peluit panjang dibunyikan, stadion sudah dipenuhi hampir 200 ribu orang –dari hasil penjualan tiket tercatat 173.830, catatan lainnya sekitar 210.000. Pendukung-pendukung Brasil itu mengklaim dirinya beruntung karena bisa masuk ke stadion, meski sebenarnya melebihi kapasitas yang ada.

Mereka merasa beruntung menjadi bagian dari pemecahan rekor jumlah penonton terbesar dalam sejarah sepakbola. Beruntung, karena sebentar lagi menjadi saksi sejarah sepakbola Brasil yang mengangkat trofi Piala Dunia untuk kali pertama.

Penuh sesak tak dirasa. Berjemur di bawah mentari berjam-jam menunggu kick-off juga tetap terasa sejuk karena berlindung di bawah nyanyian juara. Semua itu dilakukan demi menyambut gelar juara dunia.

Ya, mereka menganggap tinggal menyambut, tidak untuk merebut. Meskipun faktanya pertandingan belum dimulai.

Di atas kertas Brasil memang sudah dibilang juara. Brasil hanya butuh hasil seri dari Uruguay di pertandingan terakhir dari final round ini. Faktor tuan rumah dan sukses mencetak 21 gol dari lima pertandingan sebelumnya cukup kuat untuk membuat mereka percaya diri.

Gemuruh gempita Maracana kian meninggi beberapa menit sebelum kick-off. Terutama saat selecao (pemain pilihan) disemangati oleh walikota Rio saat itu, Angelo Mendes de Moraes, usai balon seremonial dengan poster bertuliskan “Viva O Brasil” dilepas ke udara.

Pertandingan, yang menurut pendukung Brasil hanyalah formalitas karena hasilnya sudah dapat ditebak, ini pun dimulai. Seorang wasit asal Inggris, George Reader memimpin laga ini dengan ditemani dua asistennya, yakni rekan senegaranya Arthur Ellis sebagai asisten 1, dan asisten 2 George Mitchell dari Skotlandia.

Babak pertama pertandingan ini pun berjalan sesuai yang diprediksikan. Brasil mengurung pertahanan Uruguay. Gemuruh di Maracana seringkali meninggi kala tim asuhan Flavio Rodrigues da Costa itu mendapatkan peluang. Tapi paruh pertama tetap berakhir tanpa gol.

Sorak saorai dan gegap gempita di stadion pun mencapai puncaknya saat babak kedua baru berjalan dua menit. Brasil semakin dekat dengan tangga juara kala Friaca menaklukkan kiper Uruguay, Roque Maspoli. Friaca yang lepas dari jebakan offside berhadapan one on one dengan penjaga gawang dan dengan mudah membawa Brasil memimpin 1-0.

Baca Juga:   Sejarah 7 Agustus: Penerbangan Rahasia Sukarno ke Vietnam, untuk Apa?

Tapi selama dua per tiga terakhir laga, Brazil yang menganggap kemenangan sudah di depan mata harus menghadapi kenyataan pahit. Semua bermula pada menit ke-66, ketika Uruguay mencetak gol penyama kedudukan, lewat sepakan terukur Juan Alberto Schaffino dari jarak dekat. Lalu 13 menit berselang sebuah tembakan ke tiang dekat, yang dilepaskan winger Edgardo Alcides Ghiggia, malah berhasil mebalikan keadaan dan Uruguay berbalik unggul.

Gol Ghiggia menandai perubahan suasana di Maracana. Saat wasit asal Inggris, George Reader, meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan, skor akhir 1-2 untuk kemenangan Uruguay. Seketika, tribun di Stadion Maracana menjadi muram.

“Saya senang mencetak gol kemenangan Uruguay. Tapi, ketika melihat ke tribun dan mendapati orang-orang Brazil menangis tidak terkontrol, saya tidak bisa tidak merasa sedih,” ungkap Ghiggia.

Kekalahan mengejutkan itu mengundang banyak reaksi dari suporter. Sebagian besar menggambarkan betapa besar kekecewaan warga Brazil. Menurut laporanGuardian, sekurang-kurangnya 165 suporter terkena serangan jantung setelah pertandingan. Tiga diantaranya dikabarkan tewas meski telah mendapat pertolongan di rumah sakit. Seorang suporter Brazil—beberapa media malah mengklaim ada tiga orang—yang menyimak laga itu dari siaran radio bahkan nekat melakukan aksi bunuh diri.

Dan di lapangan, saking terperangah dan tidak percaya dengan kekalahan Brazil, panitia Piala Dunia dari FIFA sempat lupa menggelar upacara penyerahan trofi juara untuk Uruguay. Presiden FIFA Jules Rimet akhirnya turun tangan dan menyerahkan sendiri trofi tersebut kepada kapten Uruguay, Obdulio Varela, meski tanpa seremonial dan podium. Tidak ada pula penyerahan medali pada hari itu karena 22 medali yang disiapkan FIFA sudah terlanjur dihiasi ukiran nama-nama pemain Brazil.

Tragedi yang dialami Brazil pada 16 Juli 1950 itu biasa disebut dengan istilah ‘Maracanazo’ alias ‘pukulan untuk Maracana’. Tragedi ini membekas di ingatan semua orang, tak terkecuali bagi pemain legendaris Brazil, Pele, yang saat itu masih berusia 10 tahun.

Betapapun menyakitkan Maracanazo bagi Pele dan warga Brazil, tidak ada yang lebih merasa tersakiti ketimbang pemain-pemain Brazil itu sendiri. Dalam sebuah wawancara dengan FIFA, mendiang striker Brazil, Ademir, mengaku usai laga itu dia tidak berani bertemu kekasih dan keluarganya. Sekeluarnya dari Maracana, dia memacu mobil pribadinya sejauh mungkin, menuju sebuah dermaga terpencil. Dia menghabiskan waktu 15 hari hanya berdiam dan mengurung diri di dermaga itu. 

Pemain lain, Zizinho, merasakan trauma tidak kalah telak. Sampai 50 tahun sejak kekalahan itu, setiap tanggal 16 Juli Zizinho selalu mematikan telepon maupun jaringan internet di rumahnya. Dampak signifikan juga terjadi dalam karier masing-masing pemain.

Sebagian besar pemain tidak pernah lagi mendapat kesempatan memperkuat tim nasional untuk ajang Piala Dunia. Bahkan pemain sekelas Zizinho dan Ademir cuma boleh memperkuat Brazil lagi di ajang Copa America.

Hanya dua pemain yang masih boleh memperkuat timnas untuk Piala Dunia, yakni Nilton Santos dan Carlos Jose Castilho. Keduanya lantas berhasil membawa Brazil juara Piala Dunia 1958 dan 1962. Tapi ironisnya, di dua edisi itu Santos dan Castilho tidak diberi jatah medali emas sebagaimana rekan-rekan setim mereka.

Federasi sepakbola Brazil, CBF, mengambil beberapa kebijakan kontroversial lain. Dengan dalih membebaskan masyarakat Brazil dari trauma, seragam putih yang mereka pakai di laga terakhir kontra Uruguay dipensiunkan. CBF menganggap warna itu sebagai kutukan dan enggan memakainya lagi.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password