Sejarah 14 Juli: Hanya Karena Sepak Bola, Honduras dan El Salvador Berperang

Ilustrasi Bosscha.id

Bosscha.id – Perjuangan untuk menembus ajang Piala Dunia 1970 barangkali menjadi ingatan abadi bagi El Salvador dan Honduras. Pasalnya pada kualifikasi pra-Piala Dunia tahun 1970, dua negara yang bertetangga di kawasan Amerika tengah ini tak hanya menurunkan 11 pemainnya di lapangan hijau. Lebih dari itu, kedua Negara tersebut menurunkan ratusan pasukan militer untuk berperang.

Pada kualifikasi pra-Piala Dunia itu Honduras dan El Salvador bertemu. Pertandingan diselenggarkan di Tegucigalpa, Honduras. Tensi tinggi pun tersaji di luar lapangan. Malam sebelum pertandingan, Talksport menyebut para pendukung Honduras selaku tuan rumah memainkan perang psikologis dengan mengepung hotel para pemain El Salvador. Mereka mengklakson mobil, bernyanyi riuh, bersiul, menjerit sepanjang malam.

Usaha para penggemar Honduras tampaknya berhasil. Bermain di kandang dengan tekanan tinggi, Honduras pun akhirnya menang tipis 1-0 berkat gol Roberto Cardona di menit akhir.

Kekalahan El Salvador pun ternyata tidak diterima dengan baik oleh banyak pendukung. Seorang gadis El Salvador berusia 18, Amelia Bolanos, bahkan nekat bunuh diri dengan menembak kepalanya. Oleh publik Salvador, Bolanos seketika menjadi ikon pembangkit semangat nasionalisme.

Pemakaman Bolanos pun disiarkan di televisi. Ia digembar-gemborkan sebagai martir hingga Presiden El Salvador, para menteri, dan pemain timnas ikut mengantarkan jenazahnya ke liang lahat. 

Namun sebaliknya, Honduras mendapat tekanan berat. Ia harus menyambangi El Salvador untuk menjalani leg kedua yang diselenggarakan pada 15 Juni 1969. Sebelum pertandingan, giliran timnas Honduras yang harus menghabiskan malam tanpa tidur di hotel tempat mereka menginap. 

Seorang jurnalis asal Polandia, Ryszard Kapuscinski, dalam reportase panjangnya berjudul Soccer War, melaporkan dari lapangan bahwa para penggemar El Salvador menjerit-jerit, jendela banyak yang pecah, melempari telur busuk, bangkai tikus, dan lain sebagainya.

Timnas Honduras pun harus berangkat ke stadion dengan pengawalan ketat di mobil lapis baja, menerabas barikade pendukung Salvador yang berjejer di pinggir jalan dengan memegangi foto Bolanos. Pertandingan belum juga dimulai, tiga orang sudah tewas karena bentrokan. Tentara sudah mengepung stadion, beberapa regu bersenjata juga ada di dalam stadion. 

Di tengah riuhnya dukungan dan tensi panas yang tersaji, El Salvador akhirnya memang sukses menekuk Honduras dengan skor 3-0. Para penggemar pun merayakan kemenangan dengan membakar bendera Honduras, dan para pemain hingga staf segera berlari menyelamatkan diri.

Kekalahan ini tidak membuat Honduras kecewa, sebaliknya mereka malah bersyukur. “Kami sangat beruntung bahwa kami kalah. Jika tidak, kami tidak akan hidup hari ini,” tutur Mario Griffin, pelatih Honduras. 

Tapi beberapa penggemar Honduras memang benar-benar tidak beruntung. Dua orang Honduras tewas terbunuh di jalanan San Salvador, yang lain mendapat serangan fisik seperti ditendang dan dipukuli. Puluhan orang Honduras dilarikan ke rumah sakit. Ujungnya, perbatasan anatara kedua Negara pun ditutup.

Kala itu, sistem agregat skor belum dipakai. Maka, kedua tim harus melakoni pertandingan pamungkas sekali lagi untuk menentukan siapa yang berhak lolos melenggang ke Piala Dunia 1970 Meksiko. Menimbang tensi tinggi antar keduanya, dan menjunjung netralitas, maka pertandingan pun dihelat di Mexico City, Meksiko pada 26 Juni.

Meski tak digelar di negaranya, sekitar 5.000 pendukung El Salvador terbang ke Mexico City yang berjarak kurang lebih 770 mil. Seperti dilansir dari ESPN, seluruh timnas beserta jajaran dipanggil ke rumah Presiden untuk diberi motivasi kuat bahwa mereka sedang membela tanah air dan martabat bangsa. 

Pihak kepolisian Meksiko pun tak mau kecolongan, mereka mengerahkan sekitar 5.000 personel polisi dengan senjata lengkap untuk mengamankan kedua pendukung di stadion. Pertandingan pun berjalan seru. El Salvador unggul dua gol lebih dahulu. Namun Honduras berhasil menyamakan kedudukan sampai menit akhir, hingga memaksa pertandingan harus berlanjut dengan perpanjangan waktu.

Baca Juga:   Sejarah 8 Agustus: Ken Kutaragi Sang Bapak Playstation

El Salvador datang dengan semangat nasionalisme dan harga diri tinggi. Kemenangan menjadi harga mati. Pelatih El Salvador, Gregorio Bundio asal Argentina, memberikan bisikan maut dengan memerintahkan anak asuhnya menjegal para pemain Honduras dengan cara apapun selama dianggap pantas.

Penyerang andalan Honduras, Enrique Cardona, merasakan langsung kebrutalan para pemain Salvador. “Mereka menendang saya di lapangan!” ingat Cardona. “Aku mendapat sepatu lawan naik sampai ke dada. Aku pernah bermain di Spanyol, Inggris, Irlandia dan belum pernah mengalami seperti ini sebelumnya.”

Nyatanya, El Salvador berhasil melesakkan satu gol penentu lewat Mauricio Alonso Rodríguez. Skor akhir dalam pertandingan 120 menit itu 3-2 untuk kemenangan El Salvador. Surat kabar kedua negara saling melempar julukan negatif, mulai dari NAZI, kurcaci, pemabuk, sadis, agresor, hingga pencuri.

Lalu, dua minggu setelah pertandingan tersebut, sebuah perang dalam arti sesungguhnya benar-benar terjadi. Pada 14 Juli 1969, tepat hari ini 51 tahun lalu, di waktu senja sebuah pesawat terbang di atas Tegucigalpa menjatuhkan bom. Salvador resmi menginvasi Honduras. Jalan utama yang menghubungkan kedua negara pun tak luput menjadi target.

Armada militer El Salvador lebih dominan, sehingga pasukan Honduras harus mundur 8 km. Kendati demikian, Honduras berhasil memanfaatkan intensitas El Salvador melalui serangan udara. Militer El Salvador mengalami kelangkaan bahan bakar karena daerah cadangan minyak diserang oleh Honduras. Tiada klaim kemenangan. Satu hal yang pasti, lima ribu jiwa melayang dalam pertempuran seratus jam ini.

Boleh saja mengaitkan kericuhan sepakbola ini sebagai pemicu perang militer antar kedua negara. Tetapi itu hanya sebagian saja yang tampil di permukaan. Akar pertikaian kedua negara yang bertetangga ini jauh lebih dari sekadar gengsi di lapangan hijau.

Michael Brzoska dan Frederic S. Pearson dalam Arms and Warfare: Escalation, De-escalation, and Negotiation (1994) menyebut dekade 1960-an menjadi masa-masa sulit bagi negara-negara di Amerika tengah termasuk yang dialami Honduras dan El Salvador. Privatisasi ekonomi, penguasaan tanah, dan masalah kepadatan penduduk menjadi bom waktu bagi para buruh dan tani.

Di El Salvador, kepemilikan tanah amat terbatas dan tidak sebanding dengan tingkat kepadatan penduduk. El Salvador kala itu menjadi negeri dengan penduduk terpadat di benua Amerika. Sementara keadaan ini kontras dengan Honduras yang memiliki luas wilayah lima kali dari Salvador dengan penduduk yang relatif sedikit. 

Kondisi tersebut memaksa sekitar 300.000 penduduk Salvador menyerbu Honduras untuk mengadu nasib. Sampai akhir 1960-an jumlah petani El Salvador yang menggarap lahan di kebun Honduras mencapai 20 persen dari total penduduk pedesaan.

Status perang antar kedua Negara ini baru resmi berakhir saat keduanya menandatangani kesepakatan damai pada 30 Oktober 1980. Meski begitu, hubungan baik pun tidak segera terbangun. Baru pada 2006 lalu, dua presiden dari masing-masing negara sepakat berdamai dengan berjabat tangan di atas garis perbatasan kedua negara.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password