Sejarah 11 Juli: Pembantaian Umat Muslim di Srebrenica, Tragedi Paling Sadis di Eropa Pasca Perang Dunia II

Makam korban pembantaian Srebrenica, masih rutin dikunjungi keluarga korban (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Hari ini 25 tahun silam dimulai sebuah pembantaian paling sadis di Eropa pasca-Perang Dunia II, demikian menurut mantan Sekjen PBB Kofi Annan. Ia merujuk pada genosida ribuan warga muslim Bosnia di Kota Srebrenica, Bosnia dan Herzegovina.

Kolapsnya Republik Federal Sosialis Yugoslavia menjadi penyebab utama. Deklarasi kemerdekaan Republik Bosnia dan Hezergovina tidak diakui oleh tentara Serbia dan Tentara Rakyat Yugoslavia (JNA). Keduanya ingin mengamankan teritori, tapi rupanya juga diikuti oleh pembersihan etnis non-Serbia di area yang coba mereka kontrol.

Dan Srebenica yang terletak di ujung timur Bosnia dan Hezergovina kemudian menjadi target selanjutnya setelah tentara Serbia dan JNA puas mengobrak-abrik Bratunac, wilayah yang juga terletak di perbatasan kedua Negara yang mayoritas penduduknya muslim Bosnia. Desa-desa di wilayah itu direbut, rumah dibakar, warganya dipukuli atau dibunuh. Tercatat 1.156 warga Bratunac tewas, sementara lainnya dipaksa mengungsi (dan akhirnya terkonsentrasi) ke Srebrenica.

Sama halnya dengan yang terjadi di banyak Negara lainnya, genosida tidak berlangsung instan sehari-semalam. International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia (ICTY) mencatat kampanye sekaligus serangan-serangan militer sebelum pembersihan etnis sudah dimulai sejak 1992. Mantan pejabat militer Bosnia dan Hezergovina, Naser Oric, berkata pada ICTY bahwa antara bulan April 1992 – Maret 1993 warga Srebrenica jadi target serangan artileri, bom pesawat tempur, dan penembak jitu oleh tentara Serbia. 

Para tentara Serbia digdaya sebab menguasai suplai air bersih dan sumber energi masyarakat desa. Kelaparan massal terjadi sebab bantuan dari lembaga humanitarian tidak diperbolehkan masuk. Secara tidak langsung kaum tua dan anak-anak yang lemah pun satu per satu tumbang.

Orang yang bertanggung jawab dari peristiwa kejam di Srebrenica adalah Jenderal Republik Srpska (Serbia) berjuluk Si Jagal Bosnia, Ratko Mladic. Ia tumbuh menjadi anggota Liga Komunis Yugoslavia, lalu berkarier di Tentara Rakyat Yugoslavia. Posisinya melejit dari perwira tinggi, Kepala Staf Angkatan Darat, sampai akhirnya ditunjuk sebagai jenderal saat memasuki Perang Bosnia tahun 1992-1995.

Dengan mengenakan seragam militer membuat Mladic menampakkan sifat buasnya. Pada tanggal 5 April 1992, di hari yang bersamaan dengan proklamasi kemerdekaan Bosnia dan Herzegovina, pasukan Yugoslavia mengepung ibukota Bosnia dan Herzegovina, Sarajevo.

Mladic dan pasukannya mencoba menduduki pusat kota dan menggulingkan pemerintahan resmi Bosnia lewat kudeta. Pengepungan Sarajevo, merujuk laporan final PBB, berlangsung selama 1.425 hari (5 April 1992 – 29 Februari 1996) dan menjadi pengepungan terlama dalam sejarah perang dunia.

Pada akhirnya Mladic dan pasukannyan memang mundur. Namun korban tewas mencapai 13.952 jiwa, 5.434 di antaranya berasal dari kalangan rakyat sipil. Memasuki 1995, situasi di Srebrenica makin berbahaya.

Baca Juga:   Sejarah 8 Agustus: Ken Kutaragi Sang Bapak Playstation

PBB kemudian membentuk pasukan UNPROFOR yang diisi oleh sekitar 400 tentara asal Belanda. Sejak April 1993, PBB juga menjadikan Srebrenica sebagai wilayah aman. Artinya kota tersebut tidak boleh dijadikan lahan pertempuran oleh seluruh pihak yang sedang berperang. Namun nayatanya tentara Belanda memilih untuk mundur karena jumlah prajurit yang kalah jauh dibanding pasukan Serbia.

Mereka ditarik dari zona serangan ke Kota Potocari. Begitu juga dengan pengungsi setempat, yang memilih untuk mengungsi ke Kota Potocari untuk menyelamatkan diri, meski sebagian banyak yang tertangkap pasukan Serbia.

Jenderal Mladic mengatakan bahwa pasukan perdamaian PBB gagal menetralisir zona aman dengan baik, karena kawasan tersebut dianggap pihak Serbia dipenuhi ‘teroris’. Akhirnya Serbia melancarkan serangan dengan dalih untuk “membersihkan teroris”.

Pasukan Serbia menangkap ribuan warga, termasuk 30 tentara Belanda yang bertugas sebagai pasukan perdamaian PBB. Tentara perdamaian PBB sebenarnya disokong pasukan tempur NATO yang sempat melancarkan serangan udara ke Serbia. Namun karena mendapat ancaman keras dari Serbia, Perdana Menteri Belanda Joris Voorhoeve Belanda memerintahkan penarikan mundur pasukannya.

Dengan kondisi tersebut, sikap PBB dipertanyakan Pemerintah Amerika Serikat. Menteri Pertahanan AS William Perry mempertanyakan “apakah sebenarnya bisa menjalankan misi kemanusiaan dengan menjaga stabilitas kawasan yang dirundung konflik.”

Beberapa hari kemudian, situasi Eropa berubah menjadi mencekam. Menurut saksi mata, Jenderal Serbia, Mladic mengancam kepada para tahanan Muslim bahwa jika ada satu warga dari kubunya yang mati, maka harus dibayar dengan 1.000 nyawa mereka.

Sekitar 2.700 Warga Muslim yang tertangkap pun mulai dibantai dengan ditembak mati. Jumlah korban terus bertambah hingga mencapai 8.000 orang selama 11 Juli hingga 22 Juli 1995 di Srebrenica dan sekitarnya. Para korban dieksekusi massal dengan disuruh menggali lubang beramai-ramai, kemudian ditembaki hingga mati. Konflik ini berangsur mereda hingga berdamai.

Jenderal Mladic dan Presiden Serbia Radovan Karadzic pada akhirnya ditangkap pada 2008 atas kejahatan perang dengan melakukan genosida atau pembantaian. Selain itu, salah satu pejabat senior Serbia, Radislav Krstic juga diadili.

Otoritas Mahkamah Internasional juga melakukan investigasi terhadap pemerintah dan tentara Belanda yang dianggap gagal menghadang pembantaian. Genosida ini merupakan pembantaian massal terkejam kedua setelah genosida Nazi terhadap kaum Yahudi.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password