Sejarah 10 Juli: Menentang Uji Coba Nuklir Prancis, Kapal Milik Greenpeace Dibom

1971, Greenpeace

Bosscha.id – Jika bicara soal lingkungan tentu kita akan ingat akan sebuah organisasi yang  concern terhadap isu-isu yang bersinggungan seputar lingkungan, yaitu Greenpeace. Greenpeace adalah suatu lembaga swadaya masyarakat, organisasi lingkungan global, yang memiliki cabang di lebih dari 40 negara dengan kantor pusat di Amsterdam, Belanda.

Greenpeace dikenal sebagai organisai yang selalu melakukan aksi langsung tanpa kekerasan, konfrontasi damai dalam melakukan kampanye untuk menghentikan berbagai aksi perusakan lingkungan seperti pengujian nuklir, penangkapan paus besar-besaran, deforestasi, dan sebagainya.

Meski selalu melancarkan aksi damai dalam setiap protes dan penentangannya terhadap tindakan yang mengancam kerusakan lingkungan, greenpeace kerap mendapatkan terror dan intimidasi dari berbagai pihak yang tidak suka akan keberadaannya.

Dan aksi terror terhadap greenpeace yang cukup mengerikan itu pernah terjadi 35 tahun silam. Pada 10 Juli 1985, kesunyian dermaga Pelabuhan Auckland, Selandia Baru seketika berganti jadi menakutkan pada pukul 23.45 waktu setempat. Dentuman keras mengagetkan orang-orang di kapal-kapal yang bersandar maupun yang berada di daratan.

Rainbow Warrior, kapal milik Greenpeace yang kala itu sedang bersiap melancarkan aksi damai dalam menentang rencana uji coba nuklir Prancis di Atoll Moruroa tiba-tiba meledak, setelah agen rahasia Prancis menanam 2 bom, yang akhirnya meledak dan membuat kapal ini tenggelam yang memakan korban jiwa, satu orang awak kapal.

Kemudian diketahui bahwa agen rahasia Prancis yang menggunakan peralatan selam, berhasil menanamkan 2 paket bahan peledak, yang dibungkus plastic yang ditempelkan di baling-baling kapal dan di dinding luar ruang mesin.

Setelah pemboman, Rainbow Warrior kemudian dikirim ke peristirahatan terakhirnya di teluk Matauri, Kepulauan Cavalli, Selandia Baru. Dan menjadi terumbu karang hidup, mengundang kehidupan bawah laut dan wisatawan penyelam.

Rainbow Warrior merupakan kapal Greenpeace, yang berasal dari Kanada, yang dibeli pada 1978. Bekas kapal Sir William Hardy milik Skotlandia itu lalu direparasi ulang agar berfungsi untuk pekerjaan lingkungan. Untuk menyelaraskan dengan misi yang diembannya, cat kapal didominasi warna putih dan hijau tua.

Tak lama setelah melakukan pelayaran perdana usai reparasi ulang, Rainbow Warrior langsung melakukan pelayaran berbahaya dengan mencegat kapal pengangkut sampah nuklir milik Inggris, Gem, yang mengotori perairan internasional. Selang beberapa waktu kemudian, Rainbow Warrior berhasil menggagalkan perburuan anjing laut Norwegia di Kepulauan Orkney.

Dua pelayaran berbahaya nan heroik itu membuka ratusan pelayaran Rainbow Warrior berikutnya dalam menjaga kelestarian bumi. “Greenpeace telah menjadi terkenal karena eksploitasi keberanian dan aksi dramatisnya, yang semuanya dimaksudkan untuk menarik perhatian pada penghancuran bumi dan semua mahluk di atasnya yang sistematis oleh industri,” tulis Steven McFadden dan Ven. Dhyani Ywahoo dalam Legend of the Rainbow Warriors.

Ketika intensitas ujicoba senjata nuklir Amerika Serikat dan Prancis di Pasifik meningkat pada 1970-an, Greenpeace pun bergabung dalam barisan penentangnya. “Gerakan untuk Pasifik bebas-nuklir dimulai di Fiji pada 1970 dengan pembentukan komite ATOM (Against Tests on Moruroa) untuk memprotes pengujian nuklir Prancis.

Didukung oleh Konferensi Gereja-Gereja Pasifik, ATOM menyelenggarakan konferensi pertama untuk Pasifik bebas nuklir di Fiji pada 1975, dan sebuah konferensi lanjutan penting di Pulau Pohmpein di Mikronesia pada 1978,” tulis Arnold Leibowitz dalam Embattled Island: Palau’s Struggle for Independence.

Dalam kampanye menentang ujicoba nuklir Prancis di Moruroa itulah Rainbow Warrior menjadi andalan Greenpeace. Dari turnya ke berbagai tempat, kapal itu kemudian menuju Auckland, Selandia Baru. Selandia Baru dianggap para aktivis lingkungan sebagai rekan. “Awak kapal berencana untuk mengumpulkan dukungan dari para simpatisan di Selandia Baru dan kemudian bergabung dengan armada perdamaian yang akan berlayar ke Atol Moruroa, di mana Prancis secara terus-menerus menguji bom-bom nuklirnya sejak 1966,” sambung McFadden dan Ywahoo.

Tiba di Pelabuhan Auckland pada 7 Juli 1985, Rainbow Warrior mendapat sambutan meriah. Realitas itu membuat Prancis gerah. Sudah empat kali Prancis dibuat malu Greenpeace dengan protes kerasnya atas ujicoba nuklir di Pasifik. Protes kelima yang akan dilakukan Greenpeace, dengan dukungan yang lebih kuat, oleh karena itu harus digagalkan. 

Baca Juga:   Sejarah 8 Agustus: Ken Kutaragi Sang Bapak Playstation

“Pada 10 Juli 1985 di Pelabuhan Auckland, pasukan komando Prancis menanam bahan peledak di bawah lambung kapal,” tulis Elzbieta Posluszna dalam Environmental and Animal Rights Extremism, Terrorism, and National Security.

Ledakan pertama, 15 menit sebelum pergantian hari ke tanggal 11 Juli, merobek bagian tengah bawah lambung kapal. Generator Rainbow Warrior langsung tak berfungsi, kapal pun gelap. Setelah memerintahkan para awak untuk meninggalkan kapal, Kapten Willcox yang hanya mengenakan handuk langsung menyelamatkan diri ke dermaga. “Kapal sudah tenggelam ke titik di mana aku harus memanjat dari dek untuk bisa sampai ke dermaga,” kata Willcox dalam memoarnya.

Willcox kemudian mulai menghitung para awaknya. Davey, rekannya yang datang kemudian, memberitahu Willcox bahwa Fernando Pereira, fotografer resmi Rainbow Warrior,  masih di dalam kapal. Sang kapten dan Davey langsung ke bagian tertinggi kapal untuk mencoba menyelamatkan rekan mereka. Namun, situasi membahayakan membuat mereka urung melanjutkannya.

Ledakan kedua, dekat baling-baling kapal, muncul saat itu. Semua awak Rainbow Warrior makin bingung. “Kami masih belum tahu tentang apa yang menyebabkan semua kerusakan iru. Tidak ada kapal lain yang bisa bertabrakan dengan kami. Bahan bakar kapal adalah diesel, yang tidak mudah meledak. Satu-satunya bahan peledak yang ada di atas adalah tangki oksigen dan asetilena yang digunakan untuk pengelasan, tetapi itu disimpan jauh di depan dan jauh dari tempat kerusakan terjadi. Saya benar-benar bingung,” kata Willcox.

Willcox pun dibawa polisi ke TKP untuk mengidentifikasi jenazah di Rainbow Warrior yang diambil lima penyelam AL Selandia Baru. Benar saja, jenazah itu merupakan Fernando Pereira. “Dia berada di kabinnya sekitar 20 detik ketika ledakan kedua terjadi tepat di bawahnya,” sambung Willcox.  

Setelah menjalani interogasi di kantor kepolisian setempat, para awak Rainbow Warrior lalu dibebaskan. “Fakta bahwa ada dua ledakan –terpisah hanya beberapa menit di dua lokasi berbeda– mengindikasikan ini adalah upaya disengaja untuk menenggelamkan Rainbow Warrior,” kata Willcox.

Dua hari kemudian, Kepolisian Selandia Baru menangkap sepasang suami-istri asal Prancis, Alain Turenge dan Sophie Turenge. Investigasi lebih lanjut menyatakan keduanya adalah Mayor Alain Mafart dan Kapten Dominique Prieur, perwira militer Prancis yang di-BKO-kan ke Direction Generale de le Securite Exterieure (DGSE).

Keterilbatan militer Prancis membuat publik marah dan pers mencecar pemerintahan Francois Mitterand. Laporan yang dirilisnya pada 27 Agustus tetap tak memuaskan permintaan pers akan kebenaran. Suara pelengseran Mitterand makin kuat. Setelah Menhan Charles Hernu mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawaban, pada 22 September PM Prancis Laurent Fabius buka suara tentang keterlibatan DGSE.

“Perdana Menteri Laurent Fabius mengakui DGSE telah memerintahkan ‘netralisasi’ Rainbow Warrior dalam apa yang disebut, ‘Operation Satanic’,” tulis John E. Lewis dalam Terrorist Attacks and Clandestine Wars.

Lalu, muncullah Rainbow Warrior II, yang meneruskan perjuangan dan sukses mengakhiri uji coba nuklir Prancis. Setelah tak kenal lelah, selama 22 tahun berkampanye di garis depan, Rainbow Warrior II mengakhiri pengabdiannya  kepada Greenpeace pada 16 Agustus 2011.

Kemudian, lahir Rainbow Warrior III pada 14 Oktober 2011. Yang mempunyai perlengkapan yang lebih baik dibandingkan kapal-kapal Greenpeace sebelumnya. Rainbow Warrior III, berlayar menggunakan tenaga angin. Dengan tiang setinggi 55 meter.

Dan yang utama, ramah lingkungan. Rainbow Warrior III ini adalah kapal pertama yang dibuat dan didesain khusus bagi Greenpeace. Kapal ini juga merupakan salah satu kapal paling ramah lingkungan yang pernah ada.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password