Sejarah 9 Juli: Peristiwa ‘Geger Cilegon’, Perlawanan Rakyat Banten Terhadap Belanda

Lukisan perlawanan pribumi terhadap penjajah (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Hari ini 132 tahun yang lalu, atau pada 9 Juli 1888 sebuah peristiwa sejarah terjadi di Banten. Peristiwa yang dikenal dengan nama Geger Cilegon ini adalah sebuah gerakan perlawanan rakyat Banten terhadap kesewenang-wenangan Belanda, dimana para ulama dan rakyat Banten bersatu melawan penjajah dalam peperangan berdarah.

Sejarawan Universitas Gadjah Mada, Sartono Kartodirdjo dalam bukunya ‘Pemberontakan Petani Banten 1888’, mengungkapkan pemberontakan besar para petani yang dimotori oleh para ulama Banten pada 1888 ini adalah sebagai salah satu bentuk perlawanan warga Banten atas kekuasaan yang dzalim.

Aksi perlawanan itu terjadi lima tahun setelah letusan Gunung Krakatau pada 1883. Gerakan perlawanan awal mula terjadi pada 2 Oktober 1883, dua bulan setelah letusan. Seorang serdadu Belanda yang hendak membeli tembakau di Pasar Serang tiba-tiba saja diserang oleh seorang lelaki tak dikenal. Korban mencari perlindungan di sebuah toko China sementara pelaku kabur. Pihak Belanda pun melakukan operasi besar-besaran untuk menangkap sang pelaku penyerangan, tetapi pelaku tak kunjung  ditemukan.

Percobaan pembunuhan lainnya terjadi pada 19 November pada tahun yang sama. Kali ini, seorang pria masuk dengan paksa ke dalam tangsi militer di Serang. Setelah melukai penjaga bernama Umar Jaman, dia ditangkap. Para interogator militer menyatakan dalam laporan mereka bahwa motif serangan adalah kasus semangat ekstrem yang tidak bisa dijelaskan.

Menurut Sartono Kartodirdjo, pada hari-hari malapetaka itu, rakyat teringat kepada ramalan yang telah menyebut berbagai tanda kedatangan hari Kiamat. Rakyat diingatkan oleh Tuhan untuk bertobat serta sadar akan jalan tersesat yang ditempuh umat manusia, yaitu hidup di bawah pemerintahan kaum kafir Belanda.

Sejak peristiwa itu kehidupan beragama meningkat dan harapan rakyat terarah kepada suatu pembebasan. Peristiwa di Serang dan Cilegon itu merupakan awal dari periode panjang perjuangan rakyat yang berpuncak pada tahun 1888 dengan sebutan pemberontakan petani Banten atau “Peristiwa Geger Cilegon”. Pemberontakan itu dianggap sebagai titik balik sejarah perjuangan dalam rangka mengusir penjajah dari tanah Banten.

Tokoh-tokoh pejuang yang terlibat pada pemberontakan petani Banten atau yang populer dengan Peristiwa Geger Cilegon 1888 antara lain, KH Wasid, Haji Abdul Karim, Haji Akib, dan Ki Tubagus Ismail, Haji Arsyad Thawil, Haji Iskhak, Haji Muhammad Asyik, Haji Muhammad Hanafiah, Haji Muhidin.

Perlawanan yang dikobarkan Ki Wasyid bersama para tokoh Banten dalam Geger Cilegon ini dilatarbelakangi karena kesewenang-wenangan Belanda. Kebencian masyarakat makin memuncak saat masyarakat tertekan oleh dua musibah yakni dampak meletusnya Gunug Krakatau di Selat Sunda (23 Agustus 1883) yang menimbulkan gelombang laut yang menghancurkan Anyer, Merak, Caringin, Sirih, Pasauran, Tajur, dan Carita.

Selain itu musibah kelaparan, penyakit sampar (pes), penyakit binatang ternak (kuku kerbau) membuat penderitaan rakyat menjadi-jadi. Di tengah kemelut ini, kebijakan pemerintah Belanda yang mengharuskan masyarakat membunuh kerbau karena takut tertular penyakit membuat warga makin terpukul. Belum lagi, penghinaan Belanda terhadap aktivitas keagamaan makin menambah rentetan alasan dilakukan perlawanan bersenjata. Di lain pihak, tekanan hidup yang makin terdesak membuat warga banyak lari ke klenik (tahayul).

Tersebutlah di desa Lebak Kelapa, terdapat pohon kepuh besar yang dianggap keramat, dapat memusnahkan bencana dan meluluskan yang diminta asal memberikan sesajen bagi jin, penunggu pohon. Berkali-kali Ki Wasyid mengingatkan penduduk bahwa meminta selain kepada Alah termasuk syirik.

Namun fatwa Ki Wasyid tidak diindahkan. Melihat keadaan ini, Ki Wasyid dengan beberapa murid menebang pohon berhala pada malam hari. Inilah yang membawa Ki Wasyid ke depan pengadilan kolonial pada 18 November 1887. Ia dipersalahkan melanggar hak orang lain sehingga dikenakan denda 7,50 gulden.

Hukuman yang dijatuhkan kepada Ki Wasyid itu menyinggung rasa keagamaan dan rasa harga diri muridnya. Satu hal lagi yang ikut menyulut api perlawanan adalah dirobohkan menara Mushola di Jombang Tengah atas perintah Asisten Residen Goebels. Goebels menganggap menara yang dipakai untuk mengalunkan adzan setiap waktu sholat mengganggu ketenangan karena suaranya yang keras apalagi waktu adzan salat subuh.

Asisten Residen menginstruksikan kepada Patih agar dibuat surat edaran yang melarang Sholawat, tarhim dan adzan dengan suara keras. Faktor-faktor ketidakpuasan terhadap system ekonomi, politik dan budaya yang dipaksakan pemerintah kolonial Belanda berbaur dengan penderitaan rakyat.

Kemudian perlawanan besar pun dilakukan. Perlawanan ini dipimpin oleh Ki Tubagus Ismail dan KH. Wasyid dan melibatkan sejumlah ulama dan jawara yang membuat rakyat bangkit melawan Belanda. Insiden ini dilakukan untuk menyerang orang-orang Belanda yang tinggal di Cilegon.

Pada hari Minggu tanggal 8 Juli, arak-arakan orang berpakaian putih ramai memenuhi sebagian jalan di cilegon. Arak-arakan itu dimulai dari rumah Haji Akhiya dan berakhir di rumah Haji Tubagus Kusen. Para Kiai dan murid-murinya memakai pakaian putih dan sepotong kain putih diikat di kepala mereka. Kemudian, pada malam harinya barisan pejuang terus bertambah besar. Bersenjata golok dan tombak, dan dipimpin oleh Haji Wajid dan Haji Tubagus Ismail, yang bergerak dari Cibeber ke arah Saneja, yang jadi sasaran awal dari penyerangan.

Di Desa Saneja itulah Haji Tubagus Ismail memimpin pasukannya pada Minggu malam untuk melakukan serangan pertama. Ia memimpin sejumlah besar partisipan, terutama dari Arjawinangun, Gulacir dan Cibeber. Diperkuat dengan bala bantuan dari Saneja dan desa sekitarnya, kaum pemberontak bergerak menuju daerah tempat tinggal pejabat Cirebon.

Rumah Dumas, seorang juru tulis di kantor asisten residen, merupakan sasaran serangan yang pertama. Tidak diketahui apa karena memang rencana awal seperti itu atau hanya karena ada faktor lain, sehingga rumah Dumas menjadi sasaran awal penyerangan. Pada saat penyerangan ke rumah Dumas, Haji Tubagus Ismail membawa pasukan berjumlah sekitar 100 orang.

Baca Juga:   Sejarah 5 Agustus: Soichiro Honda, Dari Pembalap Menjelma Jadi Raksasa Otomotif Dunia

Pemimpin utama operasi ini adalah Haji Wasid. Atas perintahnya, sebagian kaum pemberontak menyerbu penjara untuk membebaskan semua tahanan, sebagian lagi akan menyerang untuk membebaskan semua tahanan, sebagian lagi akan menyerang kepatihan, dan sebagian lainnya akan bergerak menuju rumah asisten residen. Sementara kaum pemberontak berkumpul, pejabat-pejabat pamong praja dan keluarganya berusaha menyelamatkan diri dalam suasanan ketakutan.

Esok harinya, sebagian dari pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Lurah Jasim bergerak menuju penjara, kaum pemberontak berhasil memasuki penjara dengan paksa, dan segera membebaskan semua tahanan. Mereka berhasil membebaskan 20 tahanan, yang kemudian langsung bergabung dengan kaum pemberontak.

Kekerasan dan kekacauan berkecamuk sepanjang hari itu, Cilegon menjadi tempat pertumpahan darah antara orang-orang Islam dengan pejabat-pejabat pemerintahan kolonial pada waktu itu. Hampir semua pejabat terkemuka di Cilegon jatuh sebagai korban dari senjata kaum pemberontak. Di sini, kekuasaan asing benar-benar berhadapan dengan kekuatan pemberontak yang sudah terorganisir selama berbulan-bulan.

Peristiwa yang menjadi titik balik dari pemberontakan ini, menyebabkan jatuhnya mental psikis para pemberontak adalah peristiwa pertempuran Toyokerto. Petang hari tanggal 9 Juli, kaum pemberontak diliputi semangat yang tinggi setelah berhasil menumpas para pamong praja di Cilegon. Dengan kemenangan itu mereka merasa yakin bahwa tidak lama lagi mereka akan berada di Serang.

Pada pagi harinya, pejabat-pejabat Serang mulai menyadari ancaman tersebut, mereka memutuskan untuk megirim sepasukan tentara dengan 28 senjata api untuk memulihkan ketertiban di Cilegon. Bupati dan Kontrolir Serang juga pergi kesana, bersama dengan Letnan van der Star. Ketika Bupati beserta rombongannya melakukan perjalanan dari Serang, mereka tiba-tiba dihadang pemberontak yang berjumlah ratusan orang.

Bupati berusaha membujuk mereka untuk membatalkan rencana mereka, akan tetapi usaha itu sia-sia. Bupati kemudian mengatakan jika mereka tidak bubar dan meletakkan senjata, maka tentara akan melepaskan tembakan. Namun peringatan tersebut tidak digubris, justru pemberontak melepaskan tembakan ke arah Bupati dan Kontrolir. Karena kondisi yang dirasa semakin tidak kondusif, maka tentara melepaskan tembakan ke pemberontak.

Bentrokan tersebut menewaskan sembilan pemberontak dan melukai yang lainnya. Sisanya melarikan diri sambil berlindung di belakang pepohonan. Kaum pemberontak mengalami satu pukulan hebat ketika mereka menyadari bahwa, walaupun mereka yakin akan kekebalan terhadap peluru musuh, akan tetapi bentorakan dengan pemerintah berakhir dengan tewasnya sejumlah rekan seperjuangan mereka. Selain itu, mereka juga sangat terkejut ketika untuk pertama kalinya melihat senapan jenis baru, yakni senapan repetisi.

Efeknya adalah suatu psikosis yang meluas di kalangan pemberontak, yang dimanifestasikan dalam bentuk sikap kecewa. Sebagai akibatnya, mereka kehilangan semangat untuk meneruskan perjuangan guna mencapai tujuan utama pemberontakan. Sesungguhnya moril kaum pemberontak, dapat dikatakan sudah dipatahkan. Dengan tercerai-berainyanya pasukan induk mereka setelah bentrokan di Toyomerto itu, pemberontakan mulai surut.

Pada pagi hari itu juga, pasukan tentara dari Batavia yang berkekuatan satu batalion, mendarat di Pelabuhan Karangantu. Dalam waktu yang sama, sebuah skuadron kavaleri juga dalam perjalanan menuju Serang. Untuk menumpas pemberontakan yang hampir padam itu, dikirimkan pasukan-pasukan ekspedisi ke berbagai penjuru. Mereka ditugaskan untuk menangkap dan mengambil tindakan terhadap kaum pemberontak.

Operasi menegakkan hukum benar-benar berjalan lancar setelah pasukan ekspedisi tiba di daerah itu. selama tiga minggu mereka sibuk melakukan pengejaran di bebagai distrik afdeling Cilegon. Baru pada minggu ketiga operasi pengejaran diperluas ke bagian barat Kabupaten Caringin dan Lebak.

Akibat dari operasi ini, kaum pemberontak terpaksa beralih ke strategi defensif. Rencana Haji Wasid untuk bertahan di daerah sekitar Beji dan Gunung Gede mendapat rintangan, karena ia sudah kehilangan basis utama operasinya. Satu-satunya jalan untuk meneruskan perjuangan yaitu dengan menggunakan taktik bermain sembunyi. Setelah pasukan pemerintah menyerang daerah yang paling vital bagi kaum pemberontak, mereka tanpa henti mengejar pemimpin-pemimpin pemberontak yang masih berkeliaran dengan anak buahnya yang tinggal sedikit jumlahnya.

Masalah paling penting yang harus dicari solusinya adalah bagaimana cara mereka dapat keluar dari keadaan pasif itu dan merebut kembali kondisi inisiatif. Mereka menyadari bahwa mereka harus mencari markas baru, dikarenakan tinggal disemenanjung kecil Gunung Gede berarti dikepung oleh pasukan pemerintah yang pasti akan menumpas mereka.

Ki Wasyid yang selanjutnya pemimpin pemberontakan melakukan perang gerilya hingga ke Ujung Kulon, sedangkan yang lain dihukum buang. Haji Abdurahman dan Haji Akib dibuang ke Banda, Haji Haris dibuang ke Bukittinggi, Haji Arsyad Thawil dibuang ke Mando/Minahasa, Haji Arsyad Qashir dibuang ke Buton, Haji Ismail dibuang ke Flores, dan banyak lagi yang dibuang ke Ternate, Kupang, Ambon, dan Saparua. Semua pimpinan pemberontakan yang dibuang sebanyak 94 orang.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password