Sejarah 4 Juli: Partai Nasional Indonesia, Partai Politik Tertua di Indonesia

Logo Partai Nasional Indonesia (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Partai Nasional Indonesia atau dikenal juga PNI adalah partai politik tertua di Indonesia. Pada awal berdirinya PNI ini bernama Perserikatan Nasional Indonesia dengan ketuanya pada saat itu adalah Dr. Tjipto Mangunkusumo, Mr Sartono, Mr. Iskak Tjokroadisurjo dan Mr. Sunaryo.

Tjipto Mangunkusumo merupakan paling tua di antara para aktivis muda yang berkumpul di sebuah paviliun rumah, di Regentsweg No. 22 (kini Jl. Dewi Sartika), Bandung, pada malam 4 Juli 1927 tepat hari ini 93 tahun yang lalu. Rata-rata umur mereka baru seperempat abad, sedang Tjipto sudah malang melintang di dalam pergerakan politik.

Keberadaannya di Bandung pun dalam status sebagai orang buangan, yang dilarang berpolitik praktis. Pemerintah kolonial menghukumnya atas tuduhan membantu anggota PKI yang memelopori pemberontakan pada 1926.

Dari tujuh orang yang hadir dalam pertemuan itu, hanya Tjipto yang menyatakan keberatannya atas rencana enam orang lainnya untuk membentuk partai politik. Bagi Tjipto, mendirikan partai politik bakal mengundang reaksi keras pemerintah kolonial yang baru setahun sebelumnya menumpas perlawanan PKI.

“Cipto Mangunkusumo tidak setuju berdirinya suatu partai nasional karena ia berpendapat bahwa partai nasional itu akan dinilai oleh pemerintah kolonial sebagai pengganti Partai Komunis Indonesia yang sudah dilarang,” tulis Iskaq Tjokrohadisurjo, salah satu pendiri PNI, dalam memoarnya Iskaq Tjokrohadisurjo: Alumni Desa Bersemangat Banteng.

Penolakan Tjipto cukup beralasan. Pemerintah kolonial di bawah gubernur jenderal Dirk Fock dan kemudian digantikan oleh ACD de Graeff sangat reaktif terhadap gerakan politik nasionalis Indonesia, terutama setelah peristiwa pemberontakan PKI 1926. Mengacu pada buku “babon” Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda, “Gubenur Jenderal de Graeff yang semula bersikap terbuka terhadap golongan nasionalis bertindak keras, 4.500 orang dipenjara, kira-kira 1.300 dibuang ke Digul, dan 4 orang dihukum mati.”

Dalam situasi seperti itu, mendirikan partai politik adalah langkah penuh resiko. Tapi keputusan sudah bulat. Sebuah partai politik harus didirikan. Maka, ”Pada tanggal 4 Juli 1927, dengan dukungan enam orang kawan dari Algemeene Studieclub, aku mendirikan PNI, Partai Nasional Indonesia,” kata Sukarno dalam otobiografinya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat.

Sukarno menyebutkan PNI sebagai “partai” namun berdasarkan keterangan Sunario, PNI pertama kali berdiri dengan nama “Perserikatan Nasional Indonesia” dan baru diubah menjadi partai pada kongres pertamanya setahun kemudian. Enam orang yang dimaksud Sukarno itu antara lain Sunario, Iskaq Tjokrohadisurjo, Sartono, Budyarto Martoatmojo, Samsi Sastrowidagdo dan Tjipto Mangunkusumo. 

Baca Juga:   Sejarah 4 Agustus: Louis Armstrong Membawa Musik Jazz Menjadi Paripurna

Sunario dalam Benteng Segitiga mengatakan Tjipto, yang hadir namun tak bersepakat, tetap dianggap sebagai pendiri oleh Sukarno. Selain ketujuh orang tadi, Sunario masih menambah dua orang lain yang juga direkennya sebagai pendiri PNI, yakni Sujadi dan J. Tilaar. “Menurut hemat kami, Sujadi dan J. Tilaar ini secara formal juga harus dimasukkan dalam golongan pendiri PNI, sehingga jumlah sebenarnya ada 9 orang,” imbuhnya.

Setelah PNI terbentuk, Sukarno dipilih menjadi ketuanya, sementara Iskaq jadi sekretaris dan lainnya menjadi anggota. Alasan pemilihan Sukarno menjadi ketua karena dia dianggap “paling populer dan paling maju untuk memimpin partai sebagai ketua atau pemuka,” ujar Iskaq.

Sukarno mengenang masa-masa itu secara dramatis. “Pada setiap cangkir kopi tubruk, di setiap sudut di mana orang berkumpul nama Bung Karno menjadi buah mulut orang. Kebencian umum terhadap Belanda dan kepopuleran Bung Karno memperoleh tempat yang berdampingan dalam setiap buah tutur,” kenangnya.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password