Sejarah 2 Juli: Mochtar Lubis, Wartawan Bernyali Tinggi yang Pernah Dipenjara Dua Rezim Penguasa

Wartawan bernyali dan menyulut menjadi predikat Mochtar Lubis (Dok.Istimewa)

Bosscha.id –Dunia pers negeri ini pernah melahirkan sejumlah legenda yang bisa menjadi teladan profesioanlisme dan ideliasme dalam menjalankan pekerjaan jurnalistik yang mencerahkan. Diantara sejumlah legenda yang hingga kini masih dikenang dengan penuh penghormatan tinggi adalah Mochtar Lubis, seorang wartawan dan sastrawan bernyali tinggi yang pernah dipenjara oleh dua rezim penguasa negeri ini, karena sikapnya yang kritis terhadap bermacam bentuk penyelewengan kekuasaan.

Mochtar Lubis lahir pada 7 maret 1922 di Padang, Sumatera Barat. Ia merupakan anak dari pasangan Raja Pandapotan Lubis dan Siti Madinah Nasution. Dalam buku biografi Mochtar Lubis yang ditulis oleh David T. Hill, diketahui bahwa Ayah Mochtar Lubis dikenal sebagai seorang bangsawan suku Mandailing yang digelari Raja Pandapotan.

Ayahnya juga merupakan Binnenlands Bestuur (BB) atau pegawai pemerintahan kolonial Belanda yang ketika pensiun dengan pangkat asisten bupati. Mochtar Lubis diketahui merupakan anak keenam dari 10 bersaudara.

Dia mengawali pendidikan di HIS Sungai Penuh, Kerinci, Sumatra Tengah (kini masuk ke dalam Provinsi Jambi), tahun 1936. Tahun 1940 ia melanjutkan pendidikannya ke Jurusan Ekonomi di Kayutanam, Sumatra Tengah.

Semangat kemerdekaan muncul dalam hati Mochtar Lubis yang belajar politik, sosial, dan berhasil dengan baik mempelajari beberapa bahasa asing, seperti bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman pada masa pendidikannya itu. Kemudian ia berhasrat ingin melanjutkan pendidikannya ke sekolah kedokteran, tetapi ayahnya melarangnya. Ia pun pernah menempuh pendidikan di Thomas Jefferson Fellowship (East-West Center, University of Hawaii, USA).

Mochtar Lubis menikah dengan Siti Halimah Kartawijaya (mantan sekretaris redaksi harian Asia Raya) dari Jawa Barat. Pernikahannya dilaksanakan pada tanggal 2 Juli 1945, dikaruniai 3 orang anak, 2 laki-laki dan 1 perempuan, yakni Indrawan Lubis, Arman Lubis, dan Yana Zamin Lubis, serta 8 cucu.

Kegemarannya di dunia menulis mulai ia lakukan sejak masih duduk di sekolah dasar. Ibunya selalu menceritakan dongeng yang kemudian oleh Mochtar Lubis diceritakannya kembali kepada teman-temannya di sekolah.

Mochtar Lubis pernah bekerja sebagai wartawan Kantor Berita Antara yang saat itu berpusat di Yogyakarta, 1945—1952. Dia juga bekerja sebagai karyawan Bank Factory di Jakarta, guru sekolah dasar di Pulau Nias, anggota tim monitoring radio sekutu untuk kepentingan Gunseikenbu, tentara Jepang pada tahun 1943, redaktur majalah Masa Indonesia, penulis kolom surat kabar mahasiswa Kami tahun 1975, Ketua Dewan Redaksi majalah Solidarity, di Manila, penulis tajuk majalah Suara Alam di Jakarta, dan juri Festival Film Indonesia tahun 1981.

Baca Juga:   Sejarah 8 Agustus: Ken Kutaragi Sang Bapak Playstation

Setelah Kantor Berita Antara ditutup oleh pemerintah Belanda, ia bekerja sebagai karyawan di surat kabar Harian Merdeka (1945) dan menjabat sebagai pemimpin redaksi majalah Mutiara (1949—1950). Pada masa itulah Mochtar Lubis berhubungan akrab dengan Chairil Anwar, Achdiat Karta Mihardja, Usmar Ismail, dan Aoh K. Hadimadja.

Dan pada tanggal 28 Desember 1949 ia mendirikan surat kabar Harian Indonesia Raya dan ia sendiri menjadi pemimpin redaksinya, pada periode 1949—1961 dan 1968—1974. Di masa pemerintahan Bung Karno, harian ini dianggap sebagai harian yang paling keras mengritik penguasa dan para pejabatnya, sehingga pemimpin umum dan pemimpin redaksinya, Mochtar Lubis, ditangkap dan dipenjarakan di Madiun (dari 21 Desember 1956 sampai dengan Mei 1966) bersama Mohamad Roem, Sutan Syahrir, dan beberapa tokoh politik lainnya.

Setelah Ia dibebaskan dari penjara  dan aktif kembali pada masa awal Orde Baru, Indonesia Raya pun diberangus kembali setelah peristiwa Malari 1974 bersama-sama beberapa media lain dan Mochtar Lubis pun dipenjara kembali selama 2,5 bulan.

Selain dikenal sebagai wartawan, Mochtar juga dikenal sebagai sastrawan. Ada banyak buku yang sudah ia terbitkan. Dalam buku yang berjudul Mochtar Lubis Wartawan Jihad yang ditulis oleh Atmakusumah, disebutkan bahwa ada sekitar 53 judul buku yang ditulis ataupun diceritakan kembali oleh Mochtar Lubis.

Semua sepak terjangnya di dunia literasi harus terhenti pada 2 Juli 2004, tepat hari ini 16 tahun yang lalu, Mochtar Lubis meninggal dunia di usia 82 tahun. Jurnalis pejuang itu dimakamkan di TPU Jeruk Purut disamping makam istrinya tercinta, Halimah. Meski kini sang wartwan bernyali tinggi itu telah tiada, namun karya-karyanya akan terus menyulut nyali kami untuk senantiasa menjadi “Pembangkang”. Ya ,pembangkang atas segala gagasan yang bertentangan dengan kemanusiaan.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password