Sejarah 30 Juni: SEATO, Sang Penangkal Komunis di Asia Tenggara Dibubarkan

Ilustrasi (Tirto.id)

Bosscha.id –  South East Asia Treaty Organisation (SEATO) atau Pakta Pertahanan Asia Tenggara, merupakan sebuah organisasi regional di Asia Tenggara ini didirikan dengan maksud menangkal pengaruh komunisme di kawasan, negara-negara di Asia Tenggara.

SEATO resmi berdiri pada 19 Februari 1955 di Bangkok, Thailand sebagai tindak lanjut dari penandatanganan Pakta Manila pada 8 September 1954. Anggotanya terdiri dari Australia, Perancis, Selandia Baru, Pakistan, Filipina, Thailand, Inggris, dan Amerika Serikat. 

Namun dalam perjalanannya selama lebih dari dua dekade ini tidak ditemukan alasan kuat untuk mempertahankan SEATO, sehingga akhirnya dibubarkan pada 30 Juni 1977, tepat hari ini 43 tahun yang lalu. Organisasi yang sempat dijuluki NATO-nya Asia ini resmi bubar dengan ditandai dengan penutupan kantor sekretariatnya di Bangkok.

Selama dekade pertama, kegiatan SEATO terbilang menjanjikan. Mereka mendirikan Kantor Perencanaan Militer (MPO) dan rutin menggelar latihan militer gabungan. Angkatan bersenjata Thailand dimodernisasi dan ditingkatkan kapasitasnya. Begitu juga dengan Pakistan, Filipina, bahkan Vietnam Selatan yang bukan negara anggota juga ikut dipoles. Tujuannya untuk melindungi Asia Tenggara dari ekspansi komunis.

Namun lambat laun, sejak 1964 kesolidan SEATO mulai goyah. Ada negara anggota yang memilih berperang sendiri, keluar dari keanggotaan, atau berhenti membayar iuran. Konferensi Penasihat Militer SEATO hanya berhenti di pertemuan ke-37 pada 20 Oktober 1972. MPO dibubarkan pada 31 Januari 1974. Saat pertemuan dewan ke-20 di New York tahun 1975, mereka sepakat melucuti SEATO secara bertahap.

Lalu, sempat muncul keinginan menjadikan SEATO hanya sebagai forum diskusi antar pemerintah tentang masalah keamanan kawasan, namun keinginan itu tidak tercapai. Latihan pada 20 Februari 1976 adalah latihan gabungan terakhir SEATO.

Jika dilihat dari konteks geopolitik Perang Dingin di Asia Tenggara, pendirian SEATO adalah respons yang rasional dalam upaya Barat membendung kekuatan komunis yang mekar di Asia. Perang Korea (1950-1953) menunjukkan bagaimana Republik Rakyat Cina sanggup melakukan intervensi di negara tetangga saat mendukung Korea Utara. Sementara di Vietnam berdiri pemerintahan komunis Republik Demokratik Rakyat Vietnam (DRVN) yang juga memenangkan Perang Indocina Pertama (1946-1954).

Amerika yang ketika itu dipimpin Presiden Dwight D. Eisenhower (1953-1961) yang sebelumnya menjabat sebagai panglima tertinggi NATO. Ia ingin mengulangi kesuksesan dengan membentuk NATO versi Asia Tenggara. Langkah Washington sejalan dengan kebijakan presiden sebelumnya, Harry S. Truman (1945-1953), yang mendukung semua unsur nonkomunis di seluruh dunia untuk berjuang melawan tekanan komunis baik dari sumber lokal maupun asing.

Dari delapan negara anggota SEATO, hanya Filipina dan Thailand sajalah yang berasal dari Asia Tenggara. Dikutip dari situs resmi Departemen Luar Negeri AS, Filipina bergabung karena hubungan dekatnya dengan negara Paman Sam dan ada kekhawatiran adanya pemberontakan komunis. Thailand bergabung karena khawatir Daerah Otonomi Thailand di provinsi Yunnan di Cina Selatan akan dikomuniskan oleh RRC.

Sedangkan negara-negara Asia Tenggara lainnya menolak pembentukan SEATO terutama dari anggota gerakan Non-Blok, termasuk Indonesia. Sedangkan Malaya (termasuk Singapura), sedang berada di posisi sulit secara politis untuk memberikan dukungan pada SEATO.

Baca Juga:   Sejarah 4 Juli: Partai Nasional Indonesia, Partai Politik Tertua di Indonesia

Vietnam, Kamboja, dan Laos telah terikat Perjanjian Jenewa 1954 yang ditandatangani setelah berakhirnya Perang Indocina Pertama. Isinya mencegah ketiga negara tersebut bergabung dengan aliansi militer internasional manapun.
 
Dan keenam negara anggota lain SEATO yang berasal dari luar Asia Tenggara adalah pihak-pihak yang punya kepentingan regional atau organisasi. Australia dan Selandia Baru yang berada di kawasan Pasifik telah menyaksikan Perang Korea dan Indocina sehingga merasa perlu bergabung guna mencegah merembetnya konflik ke wilayah mereka. Inggris dan Perancis punya kepentingan mempertahankan koloni di wilayah Asia Tenggara. Pakistan berbeda lagi: mendukung SEATO agar mendapat sokongan dalam konfliknya melawan India.

Gelombang penyebaran komunis telah mencapai tahap yang dianggap “mengkhawatirkan” di Asia Tenggara. Terutama di negeri bekas jajahan Perancis, Vietnam. Sebuah revolusi yang dipimpin seorang komunis Ho Chi Minh menghasilkan kesepakatan penarikan mundur pasukan Perancis dari Vietnam pada 1954. Sebagai imbalan atas mundurnya Perancis, untuk sementara Vietnam dibagi dua dengan wilayah utara dimpimpin Ho Chi Minh. Pembagian sementara itu menunggu digelarnya pemilihan nasional yang akan menentukan presiden dan sekaligus unifikasi Vietnam.

Amerika Serikat yang yakin bahwa Ho Chi Minh adalah sekadar pion dari jaringan komunis internasional bereaksi dengan mendirikan SEATO demi melindungi Vietnam Selatan, yang bahkan secara teknis bukan negara independen. Saat Amerika Serikat benar-benar terlibat dalam Perang Vietnam sejak 1965, negeri itu kemudian memanggil sekutunya di SEATO untuk membantu.

Hanya Australia, Selandia Baru, Filipina, dan Thailand yang merespon dengan mengirimkan beberapa ribu tentara dan bantuan lainnya. Sementara meski kerap melempar retorika anti-komunis, Perancis dan Inggris tak ingin terlibat dalam perang di Asia dan Pakistan hanya menginginkan bantuan militer yang dijanjikan sebagai anggota SEATO.

Kondisi ini pun makin memastikan bahwa SEATO benar-benar dikendalikan Amerika Serikat. Sementara itu, perang di Vietnam semakin membuat AS frustrasi, kelelahan, dan mendapat tentanga di dalam negeri. Di saat itulah keutuhan SEATO mulai retak.

Saat Perang Vietnam berakhir pada 1975 dengan jatuhnya Vietnam Selatan ke tangan komunis, hanya lima negara yang terlibat dalam latihan perang terahir SEATO pada 1976. Latihan itu juga amat “sepi” karena hanya diikuti 188 tentara dari AS, Inggris, Filipina, Thailand, dan Selandia Baru.

Dan latihan itu akhirnya berubah menjadi sebuah aksi sosial karena para tentara itu kemudian membantu pembangunan sekolah, jalan raya, dan sebuah bendungan di pedesaan Filipina. Setelah itu lagu “Auld Lang Syne” dimainkan menandakan berakhirnya latihan bersama sekaligus keberadaan SEATO itu sendiri.


Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password