Sejarah 27 Juni: Jendral Sudirman Diangkat Menjadi Panglima Besar TNI

bosscha.id

Bosscha.id – Jendral Sudirman adalah tokoh kemerdekaan yang lahir pada 24 Januari 1916 di Bodas, Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah. Ayah Sudirman adalah pekerja pabrik gula di Kalibagor yang bernama Karsit Kartowiraji dan ibunya bernama Siyem yang masih keturunan wedana dari Rembang.

Pada usia 8 tahun, Sudirman kecil diangkat anak oleh Raden Cokro Sumonaryo seorang asisten wedana di Rembang. Sudirman menempuh pendidikan di Holland Indieschool (HIS) atau sekolah rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda di Purworejo.

Dan setelah lulus Ia melanjutkan sekolah ke Taman Siswa, lalu menempuh sekolah guru di HIS Muhammadiyah Surakarta. Meski tidak lulus, Sudirman menjadi guru HIS Muhammadiyah di Cilacap.

Karirnya di dunia militer dimulai pada 1943, saat itu Sudirman menjadi anggota Pembela Tanah Air (Peta). Setelah selesai pelatihan di Bogor, Sudirman mendapatkan pangkat shodanco dan menjadi komandan batalyon peta di Kroya Jawa Tengah.

Pasca Indonesia merdeka, Sudirman pun bergabung menjadi tentara keamanan rakyat atau TKR. Saat menjadi anggota TKR Sudirman berhasil merebut senjata pasukan Jepang dalam pertempuran di Banyumas, Jawa Tengah.

Oleh karena kepiawaiannya dalam bidang militer Sudirman pun diangkat sebagai Panglima Divisi 5 TKR dengan pangkat kolonel. Perang besar pertama yang dipimpinnya adalah perang melawan tentara Inggris dan NICA Belanda pada November-Desember 1945 yang dikenal sebagai pertempuran Palagan Ambarawa. Pertempuran berakhir dengan kemenangan.

Kiprah Sudirman di Ambarawa itu kelak dikenang sebagai Hari Infanteri. Pertempuran ini membuat Presiden Sukarno mempercayakan kepemimpinan tentara di tangan Sudirman—yang sebelumnya sudah terpilih sebagai panglima lewat voting pada 12 November 1945.

Keputusan rapat itu sulit diterima oleh Menteri Amir Sjarifuddin yang cenderung percaya pada orang-orang didikan militer Belanda ketimbang militer Jepang. Orang macam Sudirman, yang terbatas pengalaman dan pendidikan militernya, tentu sulit diterima. 

Di mata Amir, Oerip Soemohardjo lebih berpengalaman daripada Sudirman. Namun apa boleh buat, jumlah komandan bekas didikan Jepang yang lebih banyak ini sudah memilih Sudirman sebagai panglima mereka.

Baca Juga:   Sejarah 7 Juli: Ringo Starr, Sang Perekat Emosional yang Menyatukan The Beatles

Usaha untuk menyempurnakan tentara pun terus dilakukan oleh Pemerintah Indonesia pada waktu itu. Banyaknya laskar-laskar dan badan perjuangan rakyat, kurang menguntungkan bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Sering terjadi kesalahpahaman antara Tentara Rakyat Indoneisa (TRI) dengan badan perjuangan rakyat yang lain.

Untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman tersebut pemerintah berusaha untuk menyatukan TRI dengan badan perjuangan yang lain. Pada tanggal 15 Mei 1947 Presiden Republik Indonesia mengeluarkan penetapan tentang penyatuan TRI dengan badan dan laskar perjuangan menjadi satu organisasi tentara.

Pada tanggal 3 Juni 1947 Presiden Soekarno meresmikan penyatuan TRI dengan laskar-laskar perjuangan menjadi satu wadah tentara nasional dengan nama Tentara Nasional Indonesia (TNI). Presiden juga menetapkan susunan tertinggi TNI.

Panglima Besar Angkatan Perang Jenderal Surdiman pun diangkat sebagai Kepala Pucuk Pimpinan TNI dan dilantik pada tanggal 27 Juni 1947 di Yogyakarta dengan anggotanya adalah Letnan Jenderal Oerip Sumohardjo, Laksamana Muda Nazir, Komodor Suryadarma, Jenderal Mayor Sutomo, Jenderal Mayor Ir. Sakirman, dan Jenderal Mayor Jokosuyono.

Dalam ketetapan itu juga menyatakan bahwa semua satuan Angkatan Perang dan satuan laskar yang menjelma menjadi TNI, diwajibkan untuk taat dan tunduk kepada segala perintah dari instruksi yang dikeluarkan oleh Pucuk Pimpinan TNI.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password