Sejarah 25 Juni: Kongres Bahasa Indonesia Pertama, Menetapkan Bahasa Persatuan

Pencetus Kongres Bahasa Indonesia ialah Raden Mas Soedardjo Tjokrosisworo, wartawan harian Soeara Oemoem Surabaya (Dok.Istimewa)

Bosscha.id –  Hari ini 82 tahun yang lalu, atau tepat pada 25-28 Juni 1938 sejumlah wartawan, pelajar, guru, intelektual, berkumpul di Solo. Mereka menyelenggarakan kongres Bahasa Indonesia.  Kongres ini terselenggara untuk menindaklanjuti Kongres Pemuda 1928 yang menyepakati  agar bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan. 

Pencetus Kongres Bahasa Indonesia ialah Raden Mas Soedardjo Tjokrosisworo, wartawan harian Soeara Oemoem Surabaya. Yang saat itu ia rajin sekali menciptakan istilah-istilah baru, dan sangat tidak puas dengan pemakaian bahasa dalam surat-surat kabar Cina. 

Dan sejumlah tokoh yang aktif dalam kongres ini adalah Sanoesi Pane, Ki Hajar Dewantara, HB Perdi (wartawan), Mr Amir Sjarifoeddin dan Muh. Yamin. Kongres ini pun dibuka oleh Ketua Komite Dr Poerbatjaraka. Sekitar 500 orang hadir dalam malam pembukaan ini, termasuk di antaranya wakil-wakil dari Sultan Yogyakarta, Sunan Solo, Paku Alam, Mangku Negara, Pers Indonesia maupun Tionghoa, dan wakil dari Java Institut.

Dr.Poerbatjaraka pun naik podium untuk membuka acara dan menyambut kedatangan lebih dari 500 orang tamu. Selepas sambutan, wartawan Soeara Oemoem Surabaya Soedarjo Tjokrosisworo bergegas bangkit menyampaikan berpidato. Menurut ingatan Saifuddin Zuhri dalam biografinya, Berangkat dari Pesantren (2013: 161), pidato Tjokrosisworo dibawakan dengan menarik dan jelas khas gaya berbicara seorang orator.

Daya pikat pidato Soedarjo tampaknya memang berhasil membius seisi kongres. Saifuddin bahkan menjuluki Soedarjo sebagai “si bintang kongres”. Tidak heran Soedarjo menjadi bintang—kongres itu memang bermula dari idenya.

Sambutan masyarakat atas terselenggaranya Kongres Bahasa I ini cukup besar. Terbukti dari masifnya pemberitaan mengenai kegiatan ini serta banyaknya surat dan telegram yang masuk dari seluruh penjuru Tanah Air. Orang-orang yang dianggap sebagai tokoh pergerakan nasional bahkan bersedia hadir.

Baca Juga:   Sejarah 2 Juli: Mochtar Lubis, Wartawan Bernyali Tinggi yang Pernah Dipenjara Dua Rezim Penguasa

Hal ini memperlihatkan bahwa masalah bahasa bukanlah masalah pengajaran dan pendidikan di sekolah semata. Mereka menganggap bahwa bahasa adalah masalah nasional, sehingga penting untuk dibicarakan bersama.

Tapi rupanya tak semua menyambut baik terselenggaranya kongres ini. Beberapa koran Belanda, bersikap sangat skeptis tentang masa depan bahasa Indonesia. Ada pula yang menuding bahwa kongres itu tidak ilmiah. Padahal, para pembicara Kongres Bahasa pertama ini adalah sarjana-sarjana yang sudah diakui kiprahnya di dunia internasional, seperti Dr Poerbatjaraka.

Penyelenggaraan Kongres Bahasa pertama ini membawa angin segar bagi perkembangan bahasa Indonesia ketika itu. Salah satunya seperti diungkapkan oleh Sanoesi Pane, “Bahasa Indonesia soedah sadar akan persatoeannja, boekan sadja dalam artian politik, akan tetapi dalam artian keboedajaan jang seloeas-loeasnja.”

Tak hanya itu, hasil-hasil yang dicapai dalam Kongres Bahasa pertama ini dipandang tetap relevan dan orisinal diterapkan hingga saat ini, seperti pengindonesiaan kata asing, penyusunan tata bahasa, pembaruan ejaan, pemakaian bahasa dalam pers, serta pemakaian bahasa dalam undang-undang. Pembahasan dalam Kongres Bahasa pertama ini juga menjadi cikal bakal terbentuknya Institut Bahasa Indonesia (sekarang Badan Bahasa) dan perguruan tinggi kesusastraan.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password