Sejarah 17 Juni: Abdul Muis yang Melawan Penjajah Lewat Politik dan Sastra

Potret Abdul Muis muda (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Nama Abdul Muis tentu sudah tak asing lagi di telinga kita. Pasalnya di beberapa daerah di Indonesia nama Abdul Muis banyak diabadikan sebagai nama jalan. Tapi, tahukah kita siapakah beliau sehingga namanya diabadikan sebagai nama jalan di beberapa daerah di Indonesia.

Nama Abdul Muis dikukuhkan menjadi Pahlawan Nasional oleh Presiden Indonesia pertama, Sukarno lewat Kepres No. 218 Tahun 1959, pada 30 Agustus 1959. Dan itulah kali pertama Sukarno memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada orang-orang yang telah berjasa kepada Republik Indonesia.Sejak itulah pemberian gelar Pahlawan Nasional menjadi tradisi, yang dimulai dari Abdul Muis.

Abdul Muis merupakan lelaki berdarah minang yang lahir pada 3 Juli 1883, tepatnya di Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat. Tak banyak yang dapat diketahui sebelum Abdul Muis muda mengenyam pendidikan dasarnya pada sekolah Belanda tingkat persiapan Stovia di Bukittinggi untuk kemudian menuju Bandung dan tinggal lama di kota ini. Tak heran jika Bandung memiliki ikatan erat dengan tokoh satu ini.

Meskipun hanya berijazah ujian ambtenar kecil (klein ambtenaars examen) dan ELS, Abdul Muis memiliki kemampuan berbahasa Belanda yang baik. Bahkan, menurut orang Belanda, kemampuannya dalam berbahasa Belanda melebihi rata-rata orang Belanda.

Karena itu, begitu keluar dari Stovia, ia diangkat Mr Abendanon, Directeur Onderwzjs (Direktur Pendidikan) di Departement van Onderwijs en Eredienst yang membawahi Stovia, menjadi klerk (pekerja kantoran). Padahal, pada waktu itu belum ada orang prihumi yang diangkat sebagai klerk. Abdul Muis merupakan orang indonesia pertama yang dapat menjadi klerk.

Diangkanya Abdul Muis menjadi klerk itu tidak disukai oleh pegawai Belanda lainnya. Hal itu membuat Abdul Muis tidak betah bekerja. Pada 1905 ia keluar dari departemen itu setelah bekerja selama lebih kurang 2,5 setengah tahun (1903-1905).

Setelah berhenti, Abdul Muis sempat menekuni berbagai macam pekerjaan, baik di bidang sastra, jurnalistik maupun politik. Pada 1905, ia diterima sebagai anggota dewan redaksi majalah Bintang Hindia, sebuah majalah yang banyak memuat berita politik di Bandung.

Karena pada 1907 Bintang Hindia dilarang terbit, Abdul Muis pindah kerja ke Bandungsche Afdeelingsbank sebagai mantri lumbung. Pekerjaan itu ditekuninya selama 5 tahun, sebelum ia diberhentikan pada 1912.

Setelah itu, ia kemudian bekerja di De Prianger Bode, sebuah surat kabar harian Belanda yang terbit di Bandung, sebagai korektor. Dalam tempo 3 bulan ia diangkat menjadi hoofdcorrector (korektor kepala) karena mempunyai kemampuan berbahasa Belanda yang baik.

Terjun ke Politik

Pada tahun 1913 Abdul Muis keluar dari De Prianger Bode. Sebagai pemuda yang berjiwa patriot, ia mulai tertarik pada dunia politik dan masuk ke Serikat Islam (SI). Bersama dengan mendiang A.H. Wignyadisastra, ia dipercaya memimpin Kaum Muda, salah satu surat kabar milik SI yang juga terbit di Bandung.

Masih di tahun yang sama, atas inisiatif dari dr Cipto Mangunkusumo, Abdul Muis (bersama dengan Wignyadisastra dan Suwardi Suryaningrat) membentuk Komite Bumi Putra untuk mengadakan perlawanan terhadap Belanda.

Bersama dengan H.O.S. Cokroaminoto, Abdul Muis berjuang memimpin Serikat Islam. Pada 1917, ia dipercaya sebagai utusan SI ke negeri Belanda untuk mempropagandakan Comite Indie Weerbaar.

Di Belanda dia membicarakan masalah pertahanan bagi Indonesia sehubungan dengan terjadinya Perang Dunia I. Selain itu, ia mempengaruhi tokoh-tokoh Belanda agar di Indonesia didirikan sebuah sekolah teknik. Beberapa tahun kemudian di Bandung berdiri Technische Hooge School (sekarang Institut Teknologi Bandung atau ITB).

Dan pada 1918, sepulang dari Belanda, Abdul Muis pindah bekerja ke harian Neraca karena Kaum Muda telah diambil alih oleh Politiek Economische Bond, sebuah gerakan politik Belanda di bawah pimpinan Residen Engelenberg. Pada tahun yang sama Abdul Muis menjadi anggota dewan Volksraad (Dewan Rakyat Jajahan).

Baca Juga:   Sejarah 7 Juli: Ringo Starr, Sang Perekat Emosional yang Menyatukan The Beatles

Perjuangan Abdul Muis ternyata tidak hanya berhenti sampai di situ. Bersama dengan tokoh lainnya, dia terus berjuang menentang penjajah Belanda. Pada 1922, misalnya, ia memimpin anak buahnya yang tergabung dalam PPPB (Perkumpulan Pegawai Pegadaian Bumiputra) mengadakan pemogokan di Yogyakarta.

Setahun kemudian, ia memimpin sebuah gerakan memprotes aturan landrentestelsel (Undang-Undang Pengawasan Tanah) yang akan diberlakukan oleh Belanda di Sumatra Barat. Protes tersebut berhasil. Dan Landrentestelsel pun urung diberlakukan.

Di samping itu, ia juga masih tetap memimpin harian Utusan Melayu dan Perobahan. Melalui kedua surat kabar tersebut ia gencar melancarkan serangan.

Pemerintah Belanda beranggapan bahwa tindakan Abdul Muis tersebut dianggap dapat mengganggu ketenteraman dan ketertiban masyarakat. Maka pada 1926 Abdul Muis ‘dikeluarkan’ dari wilayah luar Jawa dan Madura. Akibatnya, selama lebih kurang 13 tahun (1926-1939) ia tidak boleh meninggalkan Pulau Jawa.

Dengan dicekalnya Abdul Muis, tidak berarti Ia berhenti berjuang. Malah makin menjadi, Ia pun kemudian mendirikan harian Kaum Kita di Bandung dan Mimbar Rakyat di Garut. Namun, karena Belanda yang terus merasa gerah karena kehadiran surat kabar tersebut, kedua surat kabar tersebut pun tidak lama usianya.

Di samping berkecimpung di dunia pers, Abdul Muis tetap aktif di dunia politik. Pada 1926 Serikat Islam mencalonkan dia dan terpilih menjadi anggota Regentschapsraad Garut. 6 Tahun kemudian (1932) ia diangkat menjadi Regentschapsraad Controleur. Jabatan itu diembannya hingga Jepang masuk ke Indonesia.

Makin merasa bahwa dirirnya sudah tua, pada 1944 Abdul Muis berhenti bekerja. Namun, pada era setelah Proklamasi, ia aktif kembali dan ikut bergabung dalam Majelis Persatuan Perjuangan Priangan. Bahkan, ia pernah pula diminta untuk menjadi anggota DPA.

Dikenal Sebagai Sastrawan

Dengan beragam liku jabatan yang politik yang pernah diembannya, tetap saja nama Abdul Muis lebih lekat sebagai seorang sastrawan. Padahal, bakat kepengarangan Abdul Muis sebenarnya baru terlihat setelah ia bekerja di dunia penerbitan, terutama di harian Kaum Muda yang dipimpinnya.

Dengan menggunakan inisial nama A.M., ia kerap menulis hanyak hal. Salah satu di antaranya adalah roman sejarah Surapati. Sebelum diterbitkan sebagai buku, roman tersebut dimuat sebagal cerita bersambung di harian Kaum Muda.

Sebagai sastrawan, Abdul Muis memang kurang produktif. Ia hanya menghasilkan 4 buah novel atau roman dan beberapa karya terjemahan. Namun, dari karyanya yang sedikit itu, Abdul Muis tercatat dalam sejarah sastra Indonesia.

Salah satu karya besarnya, Salah Asuhan dianggap sebagai corak baru penulisan prosa pada saat itu. Jika pada saat itu sebagian besar pengarang selalu menyajikan tema lama: pertentangan kaum tua dengan kaum muda, kawin paksa, dan adat istiadat, Salah Asuhan menampilkan masalah konflik pribadi: dendam, cinta, dan cita-cita.

Sang pejuang yang melawan penjajah lewat sastra dan politik ini, ini meninggal dunia di Bandung pada 17 Juni 1959, tepat hari ini 61 tahun yang lalau, dalam usia 76 tahun. Ia meninggalkan 2 orang istri dan 13 anak. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password