Sejarah 15 Juni: Pecahnya Pertempuran Saipan, Antara Jepang Melawan Amerika

Dokumentasi foto perang Asia Pasifik (Dok. Istimewa)

Bosscha.id – Pertempuran Saipan merupakan salah satu pertempuran pada masa Perang Dunia II yang melibatkan dua negara, yaitu Jepang dan Amerika. Pertempuran ini terjadi di Pulau Saipan, dimana Amerika berusaha melancarkan serangan untuk merebut landasan udara yang dianggap strategis untuk menyukseskan proyek pesawat pembom strategis B-29.

Bagi pasukan Amerika Serikat, pulau seluas 115 km persegi ini amat strategis untuk melakukan penyerangan ke Tokyo. Jarak Saipan dengan Tokyo kira-kira dua ribu kilometer. Jarak ini bisa ditempuh dengan pesawat pembom jarak jauh seperti B-29. Maka tak heran jika Amerika Serikat berusaha merebutnya, dan Jepang tentu saja mati-matian mempertahankan.

Tepat hari ini 76 tahun lalu, atau pada 15 Juni 1944, pasukan marinir Amerika Serikat telah bersiap. Pendaratan awal, yakni sebelum jam penyerbuan pada pukul 08.30, seperti dicatat Mayor Carl Hoffman dalam Saipan: The Beginning of the End (1950:45).

Dalam beberapa literatur sejarah. pertempuran Saipan digambarkan sebagai pertempuran yang dahsyat. Sedikitnya 70 ribu pasukan Amerika Serikat dikerahkan dalam pertempuran sengit ini. Sementara Jepang melibatkan sebanyak 32 ribu pasukan yang berada di garis depan pertempuran di Saipan dan dipimpin oleh Yoshitsugu Saito.

Saking sengitnya pertempuran di Saipan ini, tak sedikit perwira AS dan komandan batalyon tewas. Bahkan menurut pengakuan seorang wartawan Time Robert Sherrod yang menjadi wartawan perang, menyebut pasukan AS bahkan sampai harus berganti komandan sebanyak 4 kali dalam waktu 10 jam pertempuran. Semuanya akibat hebatnya tembakan mortir Jepang yang berada di posisi ideal.

Ketika Saipan diserang, Saito memerintahkan kepada 32 ribu tentaranya untuk menghancurkan musuh ketika tiba di pantai. Kompi G dari Batalion Marinir Pertama yang dipimpin Letnan John Chapin, jadi sasaran pertama pasukan Jepang ketika singgah di desa kecil bernama Charan-Kanoa untuk mengambil air. Pasukan ini baru tiba setelah perjalanan yang tidak menentukan dari pantai.

“Kami sedang mencuci dan beristirahat ketika tiba-tiba mortir mulai jatuh menimpa kami. Kami tidak mengetahuinya pada saat itu, tetapi di cerobong asap yang tinggi, di dekatnya ada seorang pengamat Jepang. Dia menatap kami. Tidak terpikir oleh kami bahwa seseorang dapat berada di cerobong asap setelah semua persiapan tembakan angkatan laut dan segala sesuatu yang telah ditembakkan ke daerah itu, tetapi ia berada di sana dengan baik-baik saja,” tutur John Chapin (1994:2).

Tentara Jepang banyak yang bersembunyi di dalam gua ketika meriam-meriam kapal angkatan laut Amerika Serikat menghujaninya dengan tembakan. Mereka harus bekerja keras menembus pertahanan tersebut. Penggunaan mortir oleh serdadu Jepang cukup memakan banyak korban dari pasukan pendarat Amerika Serikat.

Serdadu Jepang pelurunya terbatas, tetapi punya nyali dan kesabaran yang mengagumkan. Pertempuran pun berlangsung berminggu-minggu. Pada awal Juli 1944, Saipan makin terkepung. “Pada tanggal 4 Juli saya mendapati kenyataan bahwa kami telah dikurung sama sekali. Segala harapan telah hilang,” ungkap salah satu perwira staf Saito dalam buku hariannya, seperti kutip PK Ojong.

Kesehatan Letnan Jenderal Yoshitsugu Saito pun makin memburuk. Dalam sebuah rapat rahasia tentara Jepang, pilihan mereka adalah mati di gua atau mengadakan serangan dan bertempur sampai tumpas. Pilihan kedua diambil mereka yang masih sanggup berperang.

Saito yang sudah cukup tua sadar bahwa dirinya akan menyulitkan anak buahnya jika terus ikut bertempur. Dia akhirnya memilih harakiri di dalam gua. Sebuah pesta perpisahan pun diadakan sebelum bunuh diri ala Jepang dilakukan pada 7 Juli 1944 pukul 10 pagi.

Dua jam sebelum harakiri, Saito membuat perintah harian kepada seluruh bawahannya di Saipan. Baginya, setelah lebih dari 20 hari melakukan perlawanan dengan baik bersama pasukan Jepang yang tersisa, dia mengatakan bahwa Tuhan sedang tidak memberinya kesempatan dan hanya kematian yang menanti mereka.

Setalah perutnya robek dan berburai oleh pedang pendek, Saito ditembak keningnya oleh bawahannya. Laksamana Madya Chuichi Nagumo melakukan hal yang sama. Setelah harakiri, bagian belakang kepalanya ditembak ajudannya. Bagi mereka, harakiri lebih terhormat daripada kalah.

Pada akhir cerita pertempuran ini, Amerika pun menawan musuh yang hanya tersisa sebanyak 921 tentara Jepang, termasuk 17 perwira. Sedangkan pihak Amerika sendiri kehilangan 3.426 serdadu. Dan direbutnya Saipan pada Juli 1944 oleh Amerika, merupakan mimpi buruk bagi Jepang.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password