Sejarah 11 Juni: Gatot Subroto, Sang Jendral Pemberani yang Cinta Damai

Potret khas Gatot Subroto (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Jendral Gatot Subroto merupakan seseorang yang patut dikenang jasanya. Sosok yang memiliki pemberani, tegas, dan pantang akan kesewenang-wenangan ini sudah terlihat sejak masih kecil.

Ketika masih bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS), Gatot berkelahi dengan seorang anak Belanda sehingga dikeluarkan dari sekolah. Disaat tidak ada seorang anak pun berani menantang anak-anak Belanda, karena derajatnya dianggap lebih tinggi dari kaum pribumi, Gatot tanpa gentar sedikit pun maju menantang.

Dikeluarkan dari sekolah ELS, Gatot kemudian masuk ke Holands Inlandse School (HIS). Dari sana, dia akhirnya Ia menyelesaikan pendidikan formalnya. Namun setelah tamat dari HIS, Gatot memilih tidak meneruskan pendidikannya ke sekolah yang lebih tinggi. Ia memilih untuk bekerja sebagai pegawai. Pilihannya menjadi pegawai ternyata tidak cocok dengan jiwanya. Gatot kemudian keluar dari pekerjaannya dan masuk sekolah militer di Magelang pada tahun 1923.

Pria yang lahir pada 10 Oktober 1907 ini hidup di tiga zaman berbeda. Dia pernah menjadi Tentara Hindia Belanda (KNIL), anggota Pembela Tanah Air (PETA) di masa pendudukan Jepang, dan bergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada masa setelah kemerdekaan Indonesia.

Karirnya di bidang militer tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan pangkat Sersan Kelas II KNIL, Gatot ditugaskan di Padang Panjang, Sumatera Barat. Lima tahun kemudian dia dikirim ke Sukabumi, Jawa Barat untuk mengikuti pendidikan marsose (kesatuan militer dengan tugas-tugas khusus dan menuntut keberanian lebih dari kesatuan lain).

Bagi seorang anggota KNIL, terlebih lagi pasukan marsose, dikenakan peraturan-peraturan yang cukup keras. Mereka dilarang bergaul dengan rakyat. Hal itu sengaja diterapkan pemerintah kolonial agar mereka tidak berpihak kepada bangsanya. Tapi lain dengan Gatot, pearturan-peraturan tak pernah ditaatinya.

Dengan caranya sendiri, Gatot berusaha membantu keluarga orang-orang yang terpaksa ditangkap dan dihukum. Baginya pelaksanaan tugas dan perasaan kemanusiaan adalah dua hal berbeda. Gatot kemudian menyisihkan sebagian gajinya agar digunakan sebagai modal usaha bagi rakyat kecil. Hal tersebut menjadikan Gatot dikenal sebagai tentara yang solider terhadap rakyat, meski tengah bekerja sebagai tentara kependudukan Belanda maupun Jepang.

Baca Juga:   Sejarah 6 Juli: Wafatnya AT Mahmud, Sang Maestro Lagu Anak Indonesia

Pasca kemerdekaan Republik Indonesia, pemerintah membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada  1945-1950, dan di TKR Gatot dipercaya mengemban jabatan penting, yakni menjadi Panglima Korps Polisi Militer, Panglima Divisi II, dan juga menjabat sebagai Gubernur Militer dari daerah Surakarta. Keberhasilannya kemudian membuat Presiden Sukarno menunjuknya sebagai Panglima Tentara dan Teritorium (T&T)  IV Diponegoro.

Pencapaian tertinggi dari karir Gatot Subroto yakni ketika ia diangkat menjadi Wakil Kepala Staff Angkatan Darat (Wakasad) pada tahun 1956. Dia juga dikenal sebagai pemimpin yang memiliki perhatian besar terhadap pembinaan perwira muda.

Menurutnya, pembinaan perwira dapat berjalan maksimal jika akademi militer setiap angkatan menyatu yakni Angkatan Darat, Laut, dan Udara. Berkat gagasannya, akhirnya terbentuklah Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) pada tahun 1965.

Sepak terjang Sang Jenderal pemberani yang cinta damai pun harus berakhir, Gatot Subroto meninggal pada tanggal  11 Juni 1962, tepat hari ini 58 tahun yang lalu. Pangkat terakhir yang disandangnya adalah Letnan Jenderal. Dan atas jasa-jasanya yang begitu besar, Jenderal Gatot Subroto dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional, dengan SK Presiden RI No.222 Tahun 1962, pada 18 Juni 1962.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password