Sambut New Normal, BPKD KBB Gali Potensi BPHTB

Istimewa

Bosscha.id– Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) KBB melaui sektor pendapatan asli daerah (PAD) di bidang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) KBB siap bangkit untuk terus menggenjot pendapatan tersebut seiring dengan akan diterapkannya new normal atau adaptasi kebiasaan baru (AKB) pasca pandemi virus Covid-19.  

Kepala BPKD KBB, Agustina Piryanti melalui Kepala Bidang (Kabid) Pajak II (PBB dan BPHTB), Rega Wiguna menyebutkan Pajak dari BPHTB itu di antaranya hasil proses jual beli lahan atau rumah.

“Pandemi Covid-19 yang terjadi ini tentu dirasakan dampaknya terhadap pajak di sektor BPHTB. Selama Corona ini, kondisi ekonomi lesu yang juga transaksi juga berkurang, ada penurun transaksi hingga angka 80 persen,” kata Rega di Ngamprah, Kamis (11/6/2020).

Meski demikian, Rega optimistis, jelang penerapan new normal pasca pandemi, kondisi ekonomi perlahan akan pulih sehingga gairah jual beli properti dan lahan di KBB akan kembali normal. Dengan begitu, sektor pajak dari BPHTB juga akan berdampak pada kas daerah. 

“Tetap optimistis karena jelang new normal harapannya investor yang berinvestasi di KBB bisa kembali normal bahkan meningkat lagi sehingga bisa memulihkan kondisi pendapatan daerah,” ungkapnya.

Jika kondisi normal mulai terlaksana, Rega menyebutkan ada beberapa potensi yang bisa digali dari BPHTB. Pertama, sektor perumahan, kedua pemanfaatan RTRW dan ketiga pengembangan Kota Walini untuk proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang bakal di pusatkan di Kecamatan Cikalongwetan.

“Bidang properti masih menjadi penyumbang terbesar bagi pajak BPHTB. Nanti juga kita berharap dari perubahan RTRW seiring dengan  pengembangan Kota Walini. Karena di sana (Cikalongwetan) diprediksi akan banyak penjualan lahan dan pembangunan properti yang memiliki potensi menghasilkan pajak BPHTB,” terangnya.

Pekerja menyelesaikan konstruksi terowongan Walini proyek kereta cepat Jakarta-Bandung di Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, 21 Maret 2018. ANTARA Foto.

Rega menyebutkan, tahun ini target pendapatan dari BPHTB sebesar Rp 80 miliar. Target tersebut direvisi dengan adanya kebijakan baru lantaran adanya pandemi korona. 

“Tahun ini target pendapatan BPHTB di angka Rp 80 miliar. Jauh dibandingkan tahun lalu targetnya Rp 117 miliar dan bisa terealisasi melebihi target yakni di angka Rp 145 miliar. Kami juga optimis tahun ini bisa melebihi target yang sudah ditetapkan,” tegasnya seraya menyebutkan hingga Juni 2020 raihan pajak BPHTB sudah tercapai di angka Rp 30 miliar.

Baca Juga:   Bupati Aa Umbara Ajak Warga KBB Patuhi Protokol Kesehatan saat Perayaan Idul Adha

Lebih jauh Rega menjelaskan, pendapatan yang terus digenjot oleh pemerintah daerah tiada lain untuk kepentingan masyarakat juga. Dia mencontohkan, penyaluran bantuan sosial bagi warga terdampak korona, bursumber dari pendapatan daerah yaitu hasil pajak. “Kita bersama-sama memerangi wabah korona. Kami juga meminta kesadaran masyarakat tetap terjaga dalam membayar pajak,”ungkapnya.

Rega menjelaskan, dasar pengenaan BPHTB sebagaimana diatur dalam Peraturan Bupati Bandung Barat Nomor 8 tahun 2011 tentang BPHTB pasal 4 ayat (1) adalah Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP). NPOP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam hal, pertama jual beli adalah harga transaksi. Kedua, tukar menukar adalah nilai pasar. Ketiga, hibah adalah nilai pasar.

Empat, hibah wasiat adalah nilai pasar. Kelima, waris adalah nilai pasar. Enam, pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah nilai pasar. Tujuh, pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah nilai pasar. Delapan, peralihan hak karena pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap adalah nilai pasar.

Sembilan, pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah nilai pasar. Sepuluh, pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah nilai pasar. Sebelas penggabungan usaha adalah nilai pasar. Duabelas, peleburan usaha adalah nilai pasar. Tigabelas, pemekaran usaha adalah nilai pasar. Empatbelas, hadiah adalah nilai pasar. Limabelas, penunjukkan pembeli dalam lelang adalah harga transaksi yang tercantum dalam risalah lelang. 

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password