Mengenal Marie Thomas, Dokter Perempuan Pertama dan Inspirasi Dunia Kebidanan Indonesia

Marie Thomas, wanita Indonesia pertama yg lulus dari Sekolah Dokter Jawa (thn 1922), Kompasiana

Bosscha.id – Jika bicara soal sejarah dunia kedokteran Indonesia, tentu tidak bisa lepas dari Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputera atau School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA). Sekolah yang telah terbukti melahirkan dokter-dokter mumpuni yang berjasa bagi dunia kedokteran yang karyanya masih bisa kita nikmati hingga sekarang.

STOVIA juga dikenal dengan nama Sekolah Dokter Hindia atau yang lebih dikenal sebagai Sekolah Dokter Jawa di Batavia. Sekolah ini banyak melahirkan tokoh pergerakan nasional, seperti Soetomo, Cipto Mangunkusumo, Wahidin Sudirohusodo, dan lain-lain.

Sejak secara resmi menjalankan fungsinya sebagai sekolah pada 1902, STOVIA tidak menerima murid perempuan. Hanya para murid laki-laki yang boleh mengenyam pendidikan dokter di sana. Namun seiring berjalannya waktu peraturannya pun perlahan berubah.

STOVIA dan NIAS (de Nederlandsch Indische Artsenschool) – Sekolah kedokteran di Surabaya yang berdiri pada 1912 – kemudian membuka kesempatan bagi siswa perempuan untuk mendaftarkan dirinya di sekolah pendidikan dokter.

Namun sayang, kaum perempuan masih dipersulit dengan beberapa hal seperti membayar biaya pendaftaran dan menanggung biaya hidup mereka sendiri. Hal ini berbanding terbalik dengan kaum laki-laki yang sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah.

Melihat keadaan itu, beberapa perempuan Belanda di Batavia mendirikan sebuah yayasan yang bertujuan untuk memberikan bantuan pendidikan bagi perempuan bumiputera yang ingin melanjutkan sekolah di bidang kedokteran.

Dengan nama Studiefonds voor Opleiding van Vrouwelijke Inlandsche Artsen (SOVIA), yayasan ini didirikan oleh oleh Charlotte Jacobs (saudara perempuan Aletta) bersama Marie Kooij – van Zeggelen dan Elisabeth van Deventer – Maas. Mereka menyediakan beasiswa bukan hanya bagi dokter perempuan, namun juga kepada para siswa sekolah keperawatan.

Beasiswa dari SOVIA itulah yang kemudian menghantar seorang perempuan asal Minahasa yang bernama Marie Thomas masuk ke STOVIA di Batavia pada 1912. Dua tahun kemudian, seorang perempuan bernama Anna Warouw datang ke STOVIA sebagai siswa pendidikan dokter.

Diterimanya perempuan kelahiran Likupang, Minahasa, tahun 1896 itu tidak lepas dari peran Aletta Jacobs, dokter perempuan pertama di Negeri Belanda. Diceritakan sejarawan Belanda Liesbeth Hessleink dalam “Marie Thomas (1896-1966), de eerste vrouwelijke arts in Nederlands-Indie”, dimuat Javapost.nl, kesempatan Marie Thomas datang pada 18 April 1912.

Baca Juga:   Awas, Titik Lokasi Pembuangan Sampah Liar di KBB Diawasi Ketat

Dengan beasiswa dari SOVIA tersebut, Marie Thomas pun menjadi satu-satunya perempuan di antara 180 siswa laki-laki yang menjadi siswa di sekolah kedokteran tersebut.

Marie Thomas pun lulus tahun 1922, kemudian dia bekerja di Centraal Burger Ziekenhuis (CBZ, kini Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) di Batavia. Marie Thomas kemudian jadi spesialis Indonesia pertama dalam bidang ginekologi dan kebidanan.

Selama menjadi dokter Marie mengabdikan separuh hidupnya untuk pada dunia kedokteran. Ia banyak mendapat penghargaan dalam karirnya sebagai spesialis ginekologi dan kebidanan serta  salah satu dokter pertama yang terlibat dalam proses mengontrol kelahiran bayi melalui metode IUD.

Marie Thomas pun menikah dengan dokter mata bernama Muhammad Yusuf pada tahun 1929. Yusuf merupakan kawannya semasa belajar di STOVIA. Pasangan ini tinggal di Padang. Pada 1931, mereka sempat tinggal di Jakarta dan kemudian kembali lagi ke Sumatra.

Sebagai orang Minahasa, Marie Thomas ikut serta dalam Persatuan-Minahasa yang tersebar di banyak daerah di Indonesia. Di perantauan, sebagai ahli kebidanan, ia ikut mendidik para bidan di Sumatra. Kiprahnya itu membuat ia menjadi tokoh masyarakat yang dihormati. Pada tahun 1950, Marie mendirikan sekolah kebidanan di Bukittinggi, yang merupakan sekolah kebidanan pertama berdiri di Sumatera, dan kedua di Indonesia.

Dan semua sepak terjang Marie Thomas pun harus terhenti pada tahun 1966, karena pada tahun itu Marie Thomas wafat, pada usia 70 tahun karena pendarahan otak secara tiba-tiba. Hingga akhir hayatnya ia tetap mendedikasikan dirinya dalam dunia kedokteran dan pendidikan kebidanan. Semua jasa dan kontribusinya dalam dunia kesehatan kala itu menjadi inspirasi banyak orang, meski tidak banyak yang mengenal namanya sebagai perempuan Indonesia pertama yang menjadi dokter.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password