Sejarah 4 Juni: Berakhirnya Evakuasi Ratusan Ribu Tentara Sekutu di Dunkirk

Salah satu adegan di fil Dunkirk karya sutradara Christoper Nolan (Shutterstock)

Bosscha.id – Pertempuran Dunkirk (atau “Dunkerque”: dalam lidah Perancis), merupakan konflik bersenjata antara pasukan Jerman dan Sekutu. Pasukan Inggris yang terdesak, bersama sebagian pasukan Perancis, menggelar operasi militer besar-besaran dari darat, laut, dan udara guna membawa pulang hampir empat ratus ribu nyawa ke daratan Britania. Operasi dan evakuasi itu selesai pada 4 Juni 1940, tepat hari ini 80 tahun lalu.

Setelah Jerman menginvasi Polandia pada tahun 1939 yang sekaligus memulai Perang Dunia II, Inggris dan Perancis pun langsung menyatakan perang terhadap Jerman. Usai menduduki Polandia, Nazi Jerman mengarahkan pandangannya ke Barat, yaitu Perancis.

Dan ini membuat Inggris kemudian mengirimkan pasukan ekspedisinya (BEF) untuk membantu sekutunya itu. Pada Mei 1940 tak kurang dari 10 divisi BEF di bawah komando Jenderal John Vereker berada di Perancis. Bersama dengan tentara Belgia serta tentara pertama, ketujuh, dan kesembilan Perancis, mereka sama-sama mempertahankan negeri itu.

Di perbatasannya, Perancis mengandalkan Maginot Line, yaitu sederet perbentengan dengan persenjataan berat yang menurut para petinggi militer Perancis, Jenderal Philippe Petain dan Maurice Gamelin, tak bisa ditembus.

Namun, para juru taktik Jerman mengetahui repotnya menembus Maginot Line maka mereka memutuskan untuk memutar dengan terlebih dahulu menyerang Belgia dan Belanda. Pada 10 Mei, Jerman menyerang Belgia dan Belanda.

Angkatan Darat Grup B di bawah komando Jenderal Fedor von Bock menyerang langsung ke Belgia. Sementara tiga korps panser dari AD Grup A yang dikomandoi Jenderal Gerd von Rundstedt memutar lewat selatan langsung menuju ke Selat Channel yang memisahkan Eropa dan Inggris.

Saat itu, BEF langsung mengambil posisi dan menghadapi Jerman di Belgia. Namun, pada 14 Mei pasukan Inggris diperintahkan mundur ke Sungai Scheldt ketika pasukan Perancis dan Belgia kewalahan. Saat PM Inggris Winston Chuchill berkunjung ke Paris pada 17 Mei 1940, dia sangat terkejut karena panglima angkatan bersenjata Perancis Jenderal Gamelin mengirim semua pasukannya untuk menghadapi Jerman tanpa menyisakan cadangan.

Di tengah situasi genting ini, Komandan BEF Jenderal John Vereker bertemu dengan Jenderal Gaston Bilotte, komandan tentara pertama Perancis dan koordinator pasukan sekutu. Dari Bilotte, Vereker mengetahui bahwa Perancis tak memiliki pasukan untuk menghentikan Jerman menuju ke laut. Saat itulah Vereker memutuskan sudah saatnya mengevakuasi pasukannya lewat Selat Channel

Dia kemudian merencanakan penarikan mundur dilakukan dari Dunkirk, kota terdekat dengan pelabuhan yang memadai. Tanpa memberitahu Perancis, Inggris kemudian mulai merencanakan ‘Operasi Dynamo’ pada 20 Mei 1940 dengan mengirim Jendral Gerald Whitfield ke Dunkirk untuk mulai mengevakuasi personel yang kurang penting.

Bergerak mundur sambil bertempur bukan perkara mudah. Demi menjaga moral pasukan maka kabar soal kehancuran Dunkirk tidak dikabarkan. Pada 26 Mei 1940, PM Churchill memerintahkan agar Operasi Dynamo segera digelar, saat itu 28.000 personel sudah meninggalkan Dunkirk.

Rencana awal adalah mengevakuasi 45.000 orang personel BEF dalam dua hari sebelum Jerman memblokir evakuasi ini. Pada 27 Mei, hari pertama operasi evakuasi penuh digelar, Inggris mengerahkan satu kapal penjelajah, delapan perusak, dan 26 kapal lain.

Baca Juga:   Sejarah 1 Juli: Abdulrahman Saleh, Dokter, Penerbang, dan Penggagas Dunia Radio

Bahkan, angkatan laut meminta semua jenis kapal di pesisir Inggris yang bisa mengangkut manusia diminta ikut membantu. Pada 31 Mei hampir 400 kapal kecil secara sukarela berlayar ke Perancis untuk membantu evakuasi.

Pada 27 Mei, Luftwaffe, AU Jerman, membombardir Dunkirk, baik pusat kota maupun pelabuhan yang menewaskan ribuan warga sipil. Untuk menangkal serangan Jerman, 16 skuadron RAF dikerahkan. Mereka sukses menembak jatuh 38 pesawat tempur Jerman dan kehilangan 14 pesawat.

Sepanjang Operasi Dinamo digelar, RAF melakukan 3.500 sorti dan banyak menjatuhkan pesawat pengebom Jerman. Sayangnya, RAF tak bisa maksimal melindungi pasukan yang sedang dievakuasi. Saat mereka harus bertarung melawan pesawat tempur Jerman, maka pesawat-pesawat pengebom menyerang para prajurit Inggris yang tak berdaya itu.

Meski demikian operasi penyelamatan terus berlangsung. Pada 28 Mei sebanyak 17.804 tentara tiba di Inggris. Di hari berikutnya 47.310 tentara Inggris diselamatkan. Pada 30 Mei sebanyak 53.823 tentara Inggris dan personel tentara pertama Perancis diselamatkan. Jenderal Vereker dan 68.014 prajuritnya dijemput pada 31 Mei sementara Mayor Jenderal Harold Alexander masih berada di Dunkirk untuk menjaga proses evakuasi.

Lalu, pada 1 Juni, sebanyak 64.429 dievakuasi sebelum serangan udara Jerman meningkat sehingga membuat evakuasi di siang hari sangat berbahaya. Sementara 4.000 personel Inggris yang menjaga proses evakuasi itu dievakuasi pada malam 2-3 Juni di saat 75.000 pasukan Perancis mengambil alih hingga operasi berakhir.

Sisa pasukan Perancis di Dunkirk, sebanyak 40.000 orang, akhirnya menyerah kepada pasukan Jerman pada 4 Juni. Perjalanan melintasi Selat Channel menuju ke Inggris sejauh 72 kilometer juga bukan perjalanan mudah karena terus menerus diserang pesawat-pesawat tempur Jerman.

Alhasil, selama Operasi Dynamo ini digelar, dari 693 jenis kapal yang dikerahkan Inggris, 226 di antaranya tenggelam. Di antara kapal yang tenggelam adalah enam kapal perusak dan belasan kapal perang jenis lainnya. Jika ditambah kapal sekutu yang dikerahkan dalam operasi ini maka sebanyak 861 kapal terlibat dan 243 di antaranya tenggelam.

Operasi Dynamo dianggap sebagai operasi evakuasi terbesar sepanjang sejarah militer menyelamatkan sebanyak 338.226 orang personel militer. Para tentara yang diselamatkan ini termasuk 139.997 tentara Perancis, Polandia, dan Belgia serta sejumlah tentara Belanda.


Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password