Sejarah 22 Mei: Ibu Ainun Habibie Tutup Usia

Potret Hasri Ainun Besari (Pinterest)

Bosscha.id – Segudang prestasi yang dimiliki oleh Presiden Indonesia ke-3 Baharudin Jusuf Habibie atau akarab disapa BJ Habibie, tentu telah banyak mengharumkan nama bangsa Indonesia di kancah dunia. bisa dielakan ada peran penting sang istri, yaitu Ibu Ainun Habibie di sampingya.

Ibu negara ke-3, Hasri Ainun Habibie atau lebih popular dengan Ainun Habibie memiliki nama asli Hasri Ainun Besari. Ibu Ainun merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, Ia dilahirkan di Semarang, Jawa Tengah pada tanggal 11 Agustus 1937.

Hingga SMA, Ainun menyelesaikan pendidikannya di Bandung. Sekolahnya dibersebelahan dengan sekolah B.J. Habibie yang kemudian menjadi suaminya. Saat duduk di bangku SMP dan SMA Ainun dan Habibie belajar di sekolah yang sama. Hanya saja Habibie menjadi kakak kelasnya.

Setelah lulus SMA, Ainun merantau ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya. Ainun mengambil Fakultas Kedokteran di Universitas Indonesia, Jakarta. Ia lulus sebagai dokter pada tahun 1961. Berbekal ijazah kedokteran dari Fakultas Kedokteran tersebut, Ainun pun diterima bekerja di rumah sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.

Ilustrasi Bosscha.id

Cinta antara Ainun dan Hanibie sudah bersemi sejak mereka remaja. Habibie dan Ainun berpisah cukup lama setelah lulus SMA, Habibie melanjutkan pendidikan nya ke ITB Bandung. Namun, belum selesai belajar di ITB, Habibie dikirimkan oleh orang tuanya untuk melanjutkan pendidikannya di luar negri. Ia masuk ke universitas Technische Hochscheule di kota Achen, Jerman.

Namun, hingga mereka lulus dan Habibie melanjutkan study ke Jerman keduanya tak pernah benar-benar dekat. Rudy sapaan akrab BJ Habibie saat muda awalnya memang tak pernah punya perasaan apapun pada Ainun, namun sang ibu lah yang menginginkan keduanya menikah.

Rudy kala itu masih enggan dan kurang tertarik dengan urusan percintaan, ia lebih tertarik untuk segera menyelesaikan study doktoral sambil bekerja di Institut Konstruksi Ringan Aachen. Namun ternyata semua berubah, saat itu Rudy diantar Fanny, adiknya untuk bertamu ke rumah Ainun di Ranggamalela. Pertama kali bertemu muka dengan Ainun yang telah beranjak dewasa, ia pun terkejut. Karena Ainun yang dulu pernah ia perolok dengan julukan “gula jawa”, karena menurutnya hitam dan jelek, kini dibilangnya cantik, putih seperti “gula pasir”.

Semangat Rudy pun kian menyala ketika keduanya bercakap di teras rumah Ainun. Saat makan malam bersama keluarga Ainun, Rudy sempat bercerita tentang upaya mahasiswa Indonesia di Jerman untuk melakukan perubahan di tanah air. Lalu Ainun bertanya, “Apa yang sudah kalian kerjakan untuk menciptakan perubahan itu?” Ia kembali terkejut, baginya seumur hidup, belum pernah ada perempuan yang bertanya semacam itu kepadanya. Tak disangka, gadis itu punya perhatian pula pada peran mahasiswa bagi tanah air.

Ibunda Rudy pernah berpesan agar saat mencari pendamping harus mampu mengimbanginya. Barangkali memang Ainun lah pendamping itu. Dari obrolan di teras rumah Ainun itulah rasa saling suka tumbuh di antara mereka.

Hubungan keduanya makin dekat dan cinta membawa mereka menikah pada 12 Mei 1962 di Bandung. Sebulan kemudian, mereka terbang ke Jerman. Tiga tahun pertama pernikahan, Rudy fokus sebagai pencari nafkah dan membangun karier. Sedangkan Ainun mengurus rumah tangga.

Tiga setengah tahun pertama berumah tangga adalah waktu yang sangat menantang bagi Ainun. Ainun sempat didera kesepian di negeri orang dan itu sungguh bukan hal mudah. Ia tidak punya teman bicara. Habibie kerja sampai larut malam agar bisa lancar mendapat promosi pekerjaan.

Baca Juga:   Sejarah 5 Juni: Konferensi Stokholm Lahirkan Perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia

“Penghasilan kami pas-pasan. Suami harus mencuri waktu bekerja sebagai ahli konstruksi pada pabrik kereta api. Ia pulang jam 11 malam dan lanjut menulis disertasi. Dua sampai tiga kali seminggu ia berjalan kaki sejauh 15 km ke tempat kerja. Sepatunya berlubang dan hanya ditambal ketika musim dingin. Ketika hamil anak pertama, saya belajar menjahit untuk menghemat biaya. Lama-lama jahitan saya tidak jelek. Saya bisa memperbaiki yang rusak, membuat pakaian bayi, dan menjahit pakaian dalam persiapan musim dingin. Prioritas kami sebelum Ilham lahir ialah membeli mesin jahit. Tidak ada uang kecuali untuk membeli mesin jahit,” tulis Ainun kepada A. Makmur Makka untuk keperluan publikasi buku Kesan dan Kenangan Setengah Abad Prof.Dr.Ing. B.J. Habibie (1986).

Tulisan itu ialah satu dari sedikit perkataan Ainun tentang kehidupan personal Ainun yang dimuat di media massa. Makmur berkata, Ainun bukan orang yang nyaman diwawancara tentang topik selain aktivitas organisasi yang didirikannya, semisal Orbit, lembaga penyedia beasiswa bagi murid-murid kurang mampu. Akhirnya setelah anak-anak mereka cukup besar untuk bisa dititipkan kepada pengasuh, Ainun baru bisa ikut membantu ekonomi keluarga dengan bekerja sebagai dokter anak di sebuah rumah sakit di Hamburg.

Kekuatan cinta antara Habibie dan Ainun memang tak perlu diragukan, keduanya bisa saling mendukung dan melalui masa sulit bersama. Bahkan saat Ainun di vonis dokter menderita kanker ovarium kala itu. Saat itu Hasri Ainun Besari menjalani pemeriksaan MRI dokter menyatakan Ainun menderita kanker ovarium stadium lanjut. Mendengar hal itu Habibie lantas menelepon Duta Besar Jerman di Jakarta.

Ia meminta agar dibuatkan visa untuk berkunjung ke Jerman dalam beberapa jam ke depan. Sang duta besar kebingungan. Habibie tetap memaksa. Ainun sakit keras dan Habibie baru saja mengetahui hal itu. Usai MRI, Ainun yang telah sadar mencoba menenangkan dengan berkata pada suaminya bahwa tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan.

Namun Habibie menjawab dengan perkataan “ovarium stadium 3-4,” mendengar itu Ainun hanya terdiam, ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kondisi kesehatannya. “Saya tidak mau mati di luar negeri,” kata Ainun kepada Habibie. Ainun bersedia pergi bila sang suami berjanji akan membawa dirinya kembali ke Jakarta pada Desember 2010 agar bisa menghadiri rapat Bank Mata, organisasi yang bergerak di bidang donor mata bagi para tunanetra.

Ainun aktif di sana. Ia yang membuat lembaga ciptaan Ibu Tien Suharto itu kembali berfungsi. Habibie siap memegang komitmen tersebut. Namun Tuhan berkehendak lain, Ainun tutup usia pada 22 Mei 2010 di Jerman setelah menjalani sembilan kali operasi.

Selama sakit tak sedikitpun Habibie meninggalkan Ainun, begitu pula saat Ainun meninggal. Meninggalnya Ainun menjadi hantaman badai besar bagi kehidupan Habibie. Setiap hari selama 100 hari pertama, Habibie selalu ziarah ke makam sang istri.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password