Menimbulkan Pro Kontra, Ini 5 Fakta Seputar Herd Immunity

Ilustrasi Herd Immunity (TED)

Bosscha.id – Di tengah pandemi virus corona yang masih menghantui dan sulit dikendalikan di seluruh dunia termasuk Indonesia, setiap negara pun melakukan beragam cara dan strategi untuk mengatasi virus ini.

Dan baru-baru ini muncul istilah Herd Immunity yang jadi perbincangan netizen di media sosial. Ada isu yang menyebut pemerintah Indonesia mulai menerapkan herd immunity demi menciptakan kekebalan kelompok masyarakat.

Herd immunity ini dianggap sebagai salah satu cara untuk menghentikan pandemi virus corona. Jika sudah terbentuk sekelompok orang yang kebal terhadap virus ini, maka lambat laun akan membuat penyebaran virus ini berhenti.

Namun kemudian isu ini menuai pro dan kontra. Sebagian mendukung herd immunity karena mempercepat kondisi seperti sedia kala. Sementara kritik datang dari pakar kesehatan yang menyebut risiko pasien sakit berat dan meninggal akan bertambah.

Namun, diluar pro kontra yang terjadi dari isu penerapan Herd immunity ini, kali ini Bosscha.id akan berbagi informasi tentang 5 fakta Herd immunity yang telah dirangkum dari berbagai sumber.

Cara Mencapai Herd immunity 

Herd immunity terjadi saat sebagian besar orang dalam sebuah komunitas menjadi kebal terhadap penyakit menular, sehingga penyakit itu berhenti menyebar. Ada 2 cara untuk mencapainya, yaitu melalui kekebalan alami dan vaksin.

Pada cara yang pertama, sebagian besar orang terjangkit penyakit dan pada saat itu juga terbentuk kekebalan sebagai respons alami tubuh untuk melawan penyakit. Karena sebagian besar penduduk sudah kebal, penyebaran penyakit pun melambat atau bahkan berhenti.

Serupa dengan yang pertama, dalam cara yang kedua, kekebalan itu dibentuk melalui vaksin. Akibatnya, rantai penyebaran terputus karena sebagian besar penduduk yang telah divaksin menjadi tak terjangkit sekaligus tak menularkan virus itu.

Keampuhan Herd immunity 

Herd immunity diyakini ampuh untuk mengatasi beberapa penyakit. Misalnya, penduduk di Norwegia berhasil membentuk terhadap virus H1N1 (flu babi), baik melalui vaksinasi maupun kekebalan alami.

Herd immunity memang bisa membantu menghentikan penyebaran penyakit, seperti flu babi dan pandemi lainnya. Namun, kondisi tersebut bisa tiba-tiba berubah tanpa ada yang tahu. Selain itu, tak ada jaminan Herd immunity  bisa selalu melindungi dari penyakit apapun.

Tak semua penyakit bisa dihentikan Herd immunity meski ada vaksinnya. Misalnya, Anda bisa terkontaminasi tetanus dari bakteri di lingkungan Anda. Karena terjangkitnya bukan karena tertular dari orang lain, kekebalan tubuh pun tak bekerja untuk infeksi ini. Meski begitu, vaksin tetaplah penting. Herd immunity  memang tak selalu melindungi setiap individu dalam kelompok, tetapi bisa membantu mencegah penyebarannya makin meluas.

Risiko Kematian Bisa Saja Meningkat

Kritik terhadap herd immunity di Indonesia datang dari Guru Besar FK UI, Prof Ari Fahrial Syam, yang menyebut herd immunity bisa dicapai jika 70-80 persen populasi sudah terinfeksi. Sayangnya, risiko kematian pun diprediksi juga akan meningkat jika herd immunity ini benar-benar diterapkan. Orang-orang yang berperan sebagai carrier sangat berbahaya apabila tanpa sadar memiliki virus di dalam tubuhnya dan menularkan virus ke orang dengan sistem imun lemah. Hal inilah yang bisa menyebabkan kematian banyak orang akibat virus corona.

Dianggap Sebagai Rencana Pembunuhan Masal

Pendapat yang cukup kontroversial dikemukakan oleh Ahli Penyakit Menular Australia Profesor Raina Macintrye. Dia mengatakan jika wacana herd immunity hanyalah mitos. Dia juga menganggap cara ini sebagai tindakan yang gegabah dan bisa berujung pada pembunuhan massal.

“Saat ini kami tidak tahu berapa lama sistem kekebalan tubuh mampu bertahan dari Covid-19. Kami juga tidak tahu apakah mungkin ada mutasi yang sangat kecil dan melihat strain yang sedikit berbeda mulai beredar. Jika itu terjadi kami, belum tahu apakah tubuh manusia bisa bertahan dari perkembangan virus ini atau tidak.” ujarnya.

WHO Tidak Setuju Herd immunity 

Konsep herd immunity sebagai obat mengatasi virus corona Covid-19 dikecam keras oleh World Health Organization (WHO). Lembaga kesehatan ini menyebut konsep ini berbahaya. “Manusia bukan herds (kumpulan ternak),” kata Direktur Eksekutif Program Kesehatan WHO, Dr Mike Ryan, sebagaimana dikutip dari The Guardian.

Saat ini saja rumah sakit dan tenaga kesehatan sudah kewalahan menghadapi banyaknya pasien positif corona. Bila herd immunity dijalankan makin banyak pasien corona yang tidak bisa ditangani dengan baik oleh rumah sakit. Selain itu, belum ada bukti yang menyatakan bagaimana imun tubuh bekerja dalam menghadapi virus corona.

Maria Van Kerkhove, seorang ahli epidemiologi penyakit menular di WHO, mengatakan tidak diketahui apakah orang-orang yang telah terpapar virus menjadi benar-benar kebal terhadap virus ini dan berapa lama kekebalan tersebut berjalan.

“WHO telah melihat beberapa hasil awal, beberapa studi pendahuluan, hasil pra-publikasi, di mana beberapa orang akan mengembangkan respons kekebalan. Kami tidak tahu apakah itu benar-benar memberikan kekebalan, yang berarti mereka benar-benar terlindungi.” ujar Maria Van Kerkhove seperti dikutip dari CNN International.


Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password