Sejarah 20 Mei: Hari Jadi Boedi Oetomo, yang Kemudian Dijadikan Peringatan Hari Kebangkitan Nasional

Potret Budi Utomo dan logonya (Dok Istimewa)

Bosscha.id – Sejak tahun 1959, Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasioanal (Harkitnas) setiap tanggal 20 Mei. Pemilihan tanggal tersebut merujuk kepada pendirian organisasi Boedi Oetomo (BO), yang ditulis dalam kanon sejarah resmi sebagai momen lahirnya kesadaran kebangsaan (national consciousness) di Hindia Belanda.

Organsasi yang dinaungi oleh Dr. Soetomo dan dibantu oleh para mahasiswa STOVIA ini berdiri pada 20 Mei 1908, menandai awal perjuangan para pemuda Indonesia untuk menjadi negara yang bebas dari belenggu penjajahan.

Organisasi ini lahir atas kesadaran dari begitu pentingnya persatuan. Di tangan Dr. Sutomo, Wahidin Sudiro Husodo, dan lainnya, Budi Utomo berhasil menjadi organisasi penggerak rakyat yang menanamkan semangat nasionalisme.

Pada awal berdirinya, organisasi ini mengalami keterbatasan ruang gerak, BO hanya bisa berjalan di bidang ekonomi, pendidikan, dan sosial budaya saja. Begitupun anggotanya hanya berada di lingkup para priyai suku Jawa dan Madura. Baru pada tahun 1915, BO berani terjun di bidang politik, sejalan dengan berlangsungnya perang dunia pertama.

Pada saat itu pemerintah kolonial membentuk milisi Bumiputera, yang berisi warga pribumi dengan pelatihan wajib militer. Namun, dengan cepat BO langsung bergerak dengan memberikan syarat pada pemerintah kolonial untuk membentuk Volksraad atau lembaga perwakilan rakyat, dan tanpa diduga, syarat itu diamini oleh pemerintah kolonial. Volksraad pun terbentuk pada tanggal 18 Mei 1918. 

Di sini BO menyadari pentingnya peran rakyat dalam sebuah organisasi. Sehingga dibukalah penerimaan anggota secara bebas alias dibolehkan untuk masyarakat biasa. Dengan begitu, BO menjadi semakin kuat menumbuhkan semangat akan kesadaran persatuan dan kesatuan nasional. Tanpa ada sekat antara priyai maupun masyarakat biasa. 

Dok.Istimewa

Gairah kesadaran nasional diperkuat lagi oleh kepopuleran media cetak baru seperti Bintang HindiaRetno Doemilah dan Pewarta Prijaji. Melalui Bintang Hindia, Abdul Rivai pertama kali memperkenalkan konsep “kaoem moeda” untuk seluruh penduduk Hindia Belanda (tua dan muda) yang tidak bersedia mengikuti atoeran koeno, tetapi sebaliknya: antusias untuk meningkatkan kapasitas diri melalui ilmu dan pengetahuan. Ia menyebarkan dan mempopulerkan ide tentang “kemajuan”, mendorong para priyayi untuk tidak menjadi “bangsawan usul” (the nobility by birth) tapi menjadi “bangsawan pikiran” (the nobility by intellect).

Boedi Oetomo dan Perayaan Hari Kebangkitan Nasional

Pemerintah Indonesia telah menetapkan hari nasional yang bukan hari libur dalam Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959. Menyatakan bahwa sejak 1959 pada tanggal 20 Mei ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Pemilihan 20 Mei sebagai peryaan Hari Kebangkitan Nasioanal merujuk pada hari lahir BO, yang dinilai sebagai tonggak awal bangkitnya rasa kesatuan persatuan.

Namun, kemudian banyak kalangan mempertanyakan dasar pemilihan BO sebagai pelopor kesadaran kebangsaan. Salah satu alasannya, berdasarkan kajian Akira Nagazumi (1972) mengenai sejarah awal BO, organisasi ini semata-mata bertujuan “memajukan kerjasama untuk pembangunan rakyat Jawa dan Madura secara harmonis”. Keanggotaanya masih berdasarkan etnisitas dan imajinasi teritorialnya sebatas Jawa.

Mereka yang menolak BO sebagai simbol kebangkitan nasional seringkali mengajukan Sarekat Islam (SI) yang dianggap lebih pantas. Organisasi ini dinilai lebih merepresentasikan gerakan massal yang mempunyai anggota di seluruh Hindia. SI memiliki anggota dan simpatisan hingga ratusan ribu orang di tahun 1910an. Secara garis politik pula organisasi ini dianggap lebih radikal melawan pemerintah kolonial dibandingkan BO sehingga kebangkitan nasional dianggap lebih terwakili oleh gerakan massa SI.

Namun, sejarawan Hilmar Farid (2014) merujuk tahun 1948, ketika pertama kalinya pemerintah Indonesia memperingati hari kelahiran BO sebagai tonggak kebangkitan nasional. Pada 1948 itu, Indonesia sedang menghadapi risiko disintegrasi akibat berbagai konflik di daerah dan perseteruan politik antara partai/organisasi politik di tingkat nasional. Di sisi lain, Indonesia membutuhkan persatuan nasional untuk menghadapi Belanda yang ingin kembali berkuasa di Indonesia.

Resah akan situasi tersebut, Ki Hadjar Dewantara dan Radjiman Wediodiningrat mengusulkan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Ali Sastroamidjojo untuk mengusahakan persatuan nasional. Dalam buku Dari Kebangunan Nasional sampai Proklamasi Kemerdekaan (1952) Ki Hadjar Dewantara menulis bahwa “sejak berdirinya pada 17 Agustus 1945 Republik kita tidak terluput dari banyak kesukaran-kesukaran yang beranekawarna, baik yang datang dari luar maupun dari dalam negeri kita sendiri … Selama kita ada di dalam perpecahan, gampang sekalilah tiap-tiap musuh dapat mengalahkan kita”.

Lalu, sebuah panitia pun dibentuk dan diketuai Ki Hadjar Dewantara untuk mencari peristiwa bersejarah yang kira-kira dapat menjadi simbol persatuan politik. Akhirnya, berangkat dari konsensus anggota-anggota panitia dan berdasarkan anjuran Bung Karno, maka “diadakan peringatan secara besar-besaran hari 20 Mei 1908 sebagai hari kebangunan nasional, hari lahirnya cita-cita kemerdekaan nusa dan bangsa, hari timbulnya tekad untuk bersatu wutuh, agar dapat menghadapi segala kesukaran bersama” (Dewantara, 1952).

Kelahiran BO dipilih dengan alasan organisasi ini merupakan organisasi modern pertama yang memulai penggalangan kesatuan nasional sebagai antitesis dari pemerintah kolonial Belanda. Pemilihan BO sebetulnya adalah jalan tengah—pilihan yang paling moderat saat itu. 

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password