Sejarah 18 Mei: Ribuan Mahasiswa Duduki Gedung MPR/DPR, Tuntut Reformasi

Ilustrasi Bosscha.id

Bosscha.id – Mei 1998 adalah bulan yang sangat monumental bagi bangsa indonesia. Berbagai tragedi pelanggaran hak asasi manusia terjadi di bulan ini, begitu pun dengan Kedigdayaan rezim orde baru yang juga runtuh di bulan ini.

Hari ini 22 tahun yang lalu, tepatnya pada 18 Mei 1998, ribuan mahasiswa berhasil menduduki gedung MPR/DPR dan tuntutan mundur kepada Suharto pun memasuki tahap paling serius. Pada hari yang sama, Ketua DPR/MPR Harmoko—yang hanya dua bulan sebelumnya mendorong Suharto mencalonkan diri lagi—mendesak ”Sang Raja Jawa” untuk mundur.

Di hari itu pula tokoh-tokoh dari Gerakan Reformasi Nasional juga ikut mendatangi kompleks parlemen. Ribuan mahasiswa, puluhan cendekiawan, dan beberapa pensiunan jenderal, semuanya menyuarakan satu suara, yaitu menuntut reformasi dan mendesak presiden untuk menyampaikan pertanggungjawaban dan mengundurkan diri dari jabatannya.

Pada sore hari, pimpinan DPR/MPR yang diwakili Harmoko membuat konferensi pers. Harmoko pun meminta Soeharto untuk mundur.

“Dalam menanggapi situasi seperti tersebut di atas, pimpinan Dewan, baik ketua maupun wakil-wakil ketua, mengharapkan, demi persatuan dan kesatuan bangsa, agar Presiden secara arif dan bijaksana sebaiknya mengundurkan diri,” kata Harmoko, dikutip dari arsip Kompas yang terbit 19 Mei 1998.

“Pimpinan Dewan menyerukan kepada seluruh masyarakat agar tetap tenang, menahan diri, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mewujudkan keamanan ketertiban supaya segala sesuatunya dapat berjalan secara konstitusional,” tambah Harmoko.

Tapi ternyata, para pejabat penting lainnya, seperti Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto, menganggap bahwa pernyataan Harmoko itu adalah pernyataan pribadi. Menanggapi pernyataan Harmoko tersebut tak lantas membuat ribuan mahasiswa percaya. Mahasiswa pun tetap menduduki gedung DPR/MPR dan tetap menuntut Sidang Istimewa.

Walau sudah mengetahui tentang berbagai gejolak yang terjadi di negara yang dipimpinnya, Suharto pun tetap enggan untuk lengser dari singgasananya. Ia malah meminta untuk  pembentukan Komite Reformasi.

Infografis Bosscha.id

Menanggapi peristiwa tersebut, Suharto pun kemudian berdiskusi dengan 9 tokoh cendikiawan, seperti Abdurrahman Wahid, Emha Ainun Nadjib, Nurcholish Madjid, Ali Yafie, Malik Fadjar, Cholil Baidowi, Sumarsono, Achmad Bagdja, dan Ma’aruf Amin.

Sampai 20 Mei, ribuan mahasiswa masih tetap menduduki gedung MPR/DPR untuk mendesak Suharto mundur. Hingga pada 21 Mei 1998, di Istana Merdeka, pukul 09.05, Suharto pun mengumumkan bahwa dirinya mundur dari kursi presiden dan BJ Habibie disumpah menjadi Presiden RI ketiga.

Sebagian mahasiswa pun akhirnya meninggalkan Gedung DPR/MPR karena merasa tuntutan mereka telah tercapai. Namun sebgaian dari mereka masih tetap bertahan di parlemen hingga perjuangan benar-benar terwujud.

Mereka menilai Suharto hanya melimpahkan tanggung jawab tanpa ada proses pengadilan atas deretan kejahatannya. Pun hingga Sang Jenderal Besar menutup mata, ia tak pernah membayar kesalahannya selama memerintah Republik

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password