Sejarah 15 Mei: Puncak Dari Tragedi 1998, Api dan Amarah Hanguskan Jakarta

Banyak ditemukan jasad korban pembakaran Mei 1998 yang tak dikenali identitasnya (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – 15 Mei 1998 adalah puncak dari kerusuhan besar yang melanda berbagai kota terutama Jakarta dalam tiga hari terakhir, terhitung sejak Tragedi Trisakti terjadi pada 12 Mei 1998. Di Jakarta, ratusan orang tewas terbakar di dalam pusat perbelanjaan.

Sejak kerusuhan besar meletus pada 13 Mei 1998, suasana Ibu kota amat mencekam. Esoknya, kerusuhan juga melanda kota-kota di sekitar Jakarta. Ribuan toko, swalayan, dan pusat perbelanjaan dijarah dan dibakar para perusuh. Di hari-hari yang nahas ini, ibu kota lumpuh total. Wibawa pemerintah ambruk, jatuh berantakan.

Dalam kerusuhan tersebut, anak-anak, remaja, pelajar, orang dewasa, dan juga ibu rumah tangga menjarah barang di toko, supermarket, dan pusat-pusat perbelanjaan. Kawasan perumahan Modernland Cipondoh Tangerang dan rumah penduduk lainnya juga tak luput disatroni perusuh dan menjarah segala isinya.

Gereja Pantekosta dan HKBP di Tangerang diserang perusuh. Gereja Sion di Jakarta juga dirusak. Sejauh ini, dari puluhan ribu pengacau, aparat keamanan baru menangkap 240 perusuh dari berbagai tempat seperti Jatibaru, Tanah Abang, dan Jakarta Pusat.

Keesokan harinya, pada 14 Mei 1998 kerusuhan semakin luas. Kawasan Glodok, wilayah dengan populasi etnis Tionghoa cukup tinggi Jakarta, mulai rusuh. Pusat barang elektronika Glodok Plaza diserbu penjarah. Gedung yang terdiri atas 600 toko itu, kemudian, dibakar.

Selain Glodok, wilayah hunian pertama etnis Tionghoa di Jakarta, seperti Kota, Pasar Senen, Mangga Besar, dan Pasar Baru, serta rumah pertama pebisnis Liem Sioe Liong turut diserbu massa. Ini membuat sebagian pemilik toko menuliskan kata “Milik Pribumi” di bagian dinding tokonya.

Lalu mall Yogya Klender, Jakarta Timur dibakar pada 15 Mei 1998. Selama dua hari sebelumnya, mall ini menjadi target penjarahan warga. Diperkirakan ada ratusan orang meninggal karena terbakar di dalam mall. Saat kerusuhan ini terjadi, Presiden Soeharto berada di Kairo, Mesir untuk bertemu delegasi negara-negara G-15.

Luasnya sebaran lokasi penjarahan menyiratkan bahwa motif utama pelaku adalah ekonomi. Dalam konteks krisis, toko (383 buah), pusat perbelanjaan (32 buah), dan bank (155) merupakan sasaran utama.

Sedangkan laporan temuan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Peristiwa 13-15 Mei 1998 menyatakan bahwa wilayah di sekitar Universitas Trisakti sebagai titik awal kerusuhan di Jakarta. Menurut laporan tersebut, awalan titik-waktu kerusuhan terjadi hampir bersamaan,  yaitu antara pukul 08.00-10.00 pagi.

“Sasaran kerusuhan adalah pertokoan, fasilitas umum (pompa bensin, tanda-tanda lalu lintas dan lain-lain), kantor pemerintah (termasuk kantor polisi) yang menimbulkan kerusakan berat termasuk pembakaran gedung, rumah dan toko, serta kendaraan bermotor umum dan pribadi. Sasaran kerusuhan kebanyakan etnis Cina,” sebut laporan TGPF. Dan khusus Jakarta, Tim Relawan TGPF mencatat 1.190 orang meninggal akibat dibakar dan 27 akibat senjata, serta 91 lainnya luka-luka sepanjang kerusuhan 13-15 Mei 1998.

Pada 14 Mei 1998, di Kairo, Presiden Suharto akhirnya bicara di depan masyarakat Indonesia di sana. Ia mengatakan bersedia mengundurkan diri jika rakyat menginginkan demikian. Suharto tiba di Indonesia pada 15 Mei 1998 setelah mempersingkat masa kunjungannya. Jakarta masih mencekam. Kerusuhan masih terjadi di beberapa titik dengan skala lebih kecil.

Pada 17 Mei 1998, dalam suasana yang sudah agak tenang tapi masih mencekam, orang-orang mulai beraktivitas seperti sedia kala. Setelah itu, spanduk bertuliskan “pro reformasi” dibentangkan di berbagai penjuru kota. Penguasa tinggal menghitung hari menuju kejatuhannya.

Kerugian yang dialami selama kerusuhan mencapai triliunan rupiah menurut Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita. Kerugian paling besar adalah rusaknya sistem perekonomian secara keseluruhan dari hulu ke hilir. Tetapi menurutnya, kerugian jiwa lebih tidak ternilai harganya terkait banyaknya korban tewas selama kerusuhan.

Pada Kamis, 21 Mei 1998, pukul 09.00 WIB, bangsa Indonesia terhenyak. Sejak malam sebelumnya, perhatian publik tertuju pada sosok penting negeri ini, Suharto. Pada pagi itu, saat seluruh perhatian warga negara Indonesia ke Istana Merdeka, Jakarta, Suharto menyatakan secara resmi meletakkan jabatan Presiden Republik Indonesia setelah 32 tahun Ia genggam. Istilah pengunduran diri Suharto itu, yang kemudian dikenal sebagai “lengser keprabon”.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password