Sejarah 14 Mei: Terjadi Upaya Pembunuhan Terhadap Bung Karno Saat Sedang Sholat Ied

Bung Karno terlihat sedang sholat dengan seragam safarinya (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Hari ini 58 tahun yang lalu, tepatnya pada 14 Mei 1962, pagi hari di halaman Istana Merdeka Jakarta sedang berlangsung sholat idul adha. Semula berjalan lancar, para pejabat dan orang-orang penting lainnya bersama-sama hadir di kompleks Istana Negara Jakarta, termasuk Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) KH. Zainul Arifin.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Idham Chalid bertindak sebagai imam. Adapun khatibnya adalah A.H. Nasution yang saat itu menjabat sebagai Wakil Menteri Pertama Bidang Pertahanan dan Keamanan/KSAD.

Zainul Arifin menempati baris paling depan, di sisi kanan Jenderal Nasution yang bersebelahan dengan Presiden Sukarno. Sementara di samping kiri KH. Zainul Arifin ada Menteri Agama KH. Saifuddin Zuhri.

Setelah rukuk pada rakaat kedua, tiba-tiba terdengar pekik takbir dari arah belakang saf pertama, tepatnya dari barisan keempat yang berjarak kurang dari 6 meter, disusul beberapa kali suara letusan tembakan pistol yang memecah kekhidmatan yang sontak saja menimbulkan kepanikan. Tembakan itu membuat salat id terhenti. Saf tercerai-berai. Jemaah kocar-kacir; ada yang menjerit ketakutan, mundur ke belakang mencari perlindungan, dan tiarap.

Komisaris Polisi Mangil Martowidjojo, komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP) Presiden Sukarno, dan wakilnya Sudiyo, dengan cepat melindungi Bung Karno. Sudarjat, anggota DKP yang berjaga di belakang Sukarno, membalikkan badan sembari mencabut pistol, untuk menembak pelaku penembakan yang masih berusaha mengarahkan tembakan kepada Sukarno.

Namun nahas, peluru malah menembus Sudarjat yang lalu jatuh berlumuran darah di belakang Sukarno. Anggota DKP lain, Susilo juga terkena tembakan di kepalanya, ketika memutar badan ke belakang. Satu peluru lagi mengenai bahu Ketua DPR, KH. Zainul Arifin.

Sambil membungkuk, penyerang merangsek mendekati Sukarno. Sribusono menendang kakinya, sehingga terjerembab jatuh. Dibantu Musawir, Sribusono bergumul dengan sang penembak. Pistol dirampas, pelaku diringkus. Pelaku yang pingsan dan babak belur itu kemudian diletakkan di depan masjid Istana, Baiturrahim.

Belakangan diketahui, para pelaku penembakan itu bisa masuk arena sholat berkat kartu undangan masuk dari Haji Bachrun yang tinggal di Jalan Jarta I nomor 21 Bogor. Para pelaku terkait dengan gerakan DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Barat.

Para pelaku adalah Sanusi alias Fatah alias Soleh (32), Harun alias Kami alias Karta (27), Djaja Permana bin Embut alias Hidayat alias Mustafa (35), Tapbi alias Ramdan alias Jahaman bin Mahadi alias Iding (30), Abidin alias Hambali bin Tajudin (22), Cholil alias Pi’I bin Dachroj (20), Dachja bin Candra alias Musa (28), dan Nurdin bin Satebi (19).

Keseharian dari para penyerang ini adalah anggota gerombolan DI/TII Jawa Barat pimpinan Kartosuwiryo. Dari pengakuan Sanusi, pernah ada usaha membunuh Sukarno pada 9 Maret 1962, ketika perayaan Idul Fitri 1381 hijriyah. Rencana itu gagal karena beberapa anggota mereka tertangkap.

Komplotan itu mulai bergerak sejak subuh 05.30 WIB. Mereka yang langsung beraksi adalah Sanusi, Harun, dan Dayat. Selain Dayat yang bawa granat, dua lainnya bawa pistol. Lima anggota lain mengamati dan jadi pelapor. Ketika masuk ke komplek istana, mereka tidak masuk bersama-sama.

Mereka berpencar. Ketika mereka berada di dalam, Harun berhasil menyembunyikan pistolnya di bawah tikar. Dia tak jadi beraksi karena ragu. Ketika Sanusi beraksi, Harun justru panik dan keluar dari area misi mereka. Harun sempat bertemu Dayat dan mengaku senjatanya macet. Setelah itu, Harun kabur ke Cianjur.

Pelaku penembakan mengaku kesulitan membidik Sukarno. Dia mengaku sulit membedakan mana Sukarno dan mana yang bukan. Akhirnya, tembakan itu menyerempet bahu KH. Zainul Arifin. Percobaan pembunuhan Presiden yang gagal, untuk ke sekian kalinya itu, membuat satuan khusus pengawal Presiden dibentuk.

Pada 6 Juni 1962, bertepatan dengan hari ulang tahun Bung Karno dibentuklah pasukan Tjakrabirawa. Satu pasukan khusus dengan kekuatan 3.000 orang yang berasal dari keempat angkatan bersenjata. Tugas pasukan Tjakrabirawa adalah melindungi presiden.

Percobaan pembunuhan terhadap Presiden Indonesia pertama, ini telah terjadi lebih dari satu kali, Putrinya, Megawati pernah menyebut angka 23. Namun bekas pengawal pribadinya, Sudarto Danusubroto hanya mampu mengingat 7 kali upaya percobaan pembunuhan terhadap Sukarno. Jumlah ini pun pernah diamini oleh mantan Wakil Komandan Tjakrabirawa, Kolonel Maulwi Saelan.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password