Sejarah 30 April: Baru Saja Menikah Satu Hari, Adolf Hitler dan Eva Braun Bunuh Diri

Foto kebersamaan Adolf Hitler dan Eva Braun (Image.net)

Bosscha.id – Sejak tahun 1943, arah Perang Dunia II jadi berbalik. Di awal perang, pasukan Jerman dengan strategi Blietzkrieg atau perang kilat melumpuhkan Eropa. Namun, pada Februari 1943, tentara ke-6 Jerman yang menginvasi Uni Soviet menyerah dari Tentara Merah di Stalingrad.

Kekalahan di Uni Soviet itu membuat harapan Jerman terus maju di dua garis depan pun pupus. Sialnya, kekalahan di Uni Soviet itu seakan menjadi pemicu kemunduran Jerman dalam perang. Sekutu yang sukses menyusun kekuatan kembali mengalahkan Jerman di berbagai front termasuk serangan balik Sekutu dari arah Afrika.

Ofensif maju Sekutu berpuncak pada pendaratan di Normandia pada 6 Juni 1944 yang terus merangsek menuju ke Berlin. Di awal 1945, kondisi militer Jerman sudah berada di ambang kehancuran total akibat gerak maju Sekutu di sisi barat dan Uni Soviet dari timur.

Polandia sudah direbut Uni Soviet yang kemudian bersiap menyeberangi Sungai Oder dengan tujuan merebut kota Berlin yang hanya berjarak 82 kilometer dari sungai itu. Sementara, di front barat, pasukan Jerman juga menyerah dari tentara sekutu di hutan Ardennes dalam Pertempuran Bulge.

Sedangkan tentara Inggris dan Kanada sudah menyeberangi Sungai Rhine menuju kawasan industri Jerman di wilayah Ruhr. Sedangkan di sisi selatan, pasukan Amerika sudah mencaplok wilayah Lorraine dan maju menuju Mainz, Mannheim, dan Sungai Rhine. Di Italia, pasukan Jerman terus terdesak ke arah utara karena dihantam terus menerus oleh pasukan Amerika dan persemakmuran Inggris hingga ke kaki pegunungan Alpen.

Di meja perundingan, pada tanggal 4-11 Februari, para pemimpin sekutu yang dimotori PM Winston Churchill, Presiden Franklin D Roosevelt, dan pemimpin Uni Soviet Joseph Stalin bertemu di Yalta. Dalam pertemuan itu, ketiga pemimpin merundingkan masa depan Eropa, terutama Jerman, jika perang berakhir.

Di tengah berbagai tekanan militer dan keambrukan Jerman yang sudah di depan mata, pada 16 Januari 1945, Adolf Hitler mengungsi ke bunkernya di Berlin. Bagi para pemimpin Nazi, kondisi ini menjadi bukti bahwa pertempuran mempertahankan Berlin akan menjadi babak akhir dari Perang Dunia II.

Pada 14 April 1945 Hitler memberikan perintah kepada tentaranya. Dalam perintahnya dia menyebut, titik balik dari perang ini akan ditentukan. Jarak Berlin dengan posisi tentara Amerika sudah 100 kilometer lagi, setelah pada 11 April mereka menyeberangi Sungati Elbe. Lima hari kemudian, pada 16 April 1945, Tentara Merah Soviet telah menyikat pertahanan timur yang melindungi kota Berlin.

Dua hari kemudian, 18 April 1945, sebanyak 325.000 prajurit angkatan darat Grup B Jerman menyerah kepada sekutu, sekaligus membuka jalan bagi tentara Amerika menuju Berlin. Sementara itu, dri arah timur, pasukan Uni Soviet sudah melintasi Sungai Oder dan sukses menembus lini pertahanan terakhir Jerman di dataran tinggi Seelow yang melindungi Berlin di sisi timur.

Pada 19 April, pasukan Jerman mundur dari dataran tinggi Seelow membuat Berlin sama sekali tak memiliki perlindungan. Dan tepat di hari ulang tahun Hitler pada 20 April 1945, untuk pertama kalinya artileri Uni Soviet membombardir Berlin dan pada 21 April malam, tank-tank Uni Soviet sudah mencapai batas kota Berlin.

Lalu Jenderal SS Felix Steiner pun diberi perintah oleh Hitler untuk memberikan serangan balasan. Esoknya Hitler dibuat marah dalam sebuah rapat karena perintahnya tak dipenuhi. Harapan Hitler atas kelanjutan kepemimpinannya benar-benar terganggu karena jalur komunikasinya terputus pada 27 April 1945. Tanpa bisa berhubungan dengan tentara-tentara Jerman yang tercerai-berai di luar Berlin, tentu saja sulit bagi Hitler untuk mengembalikan keadaan seperti yang diinginkannya.

Adolf Hitler sudah berhitung bahwa dirinya sedang dalam buruan dan kematiannya hanya menghitung hari. Mati barangkali bukan masalah bagi Hitler. Pada malam menjelang 28 April 1945, seminggu setelah ulang tahun ke-56, Hitler mengambil keputusan penting atas hidupnya: bunuh diri. Untuk itu Hitler berkonsultasi dengan Dokter Warner Haase soal metode bunuh diri yang baik dan benar untuknya. Haase memberi solusi: pistol dan racun sianida untuk Hitler.

Pada 29 April 1945, sebelum bunuh diri, Hitler memberikan wasiat kepada anggota Nazi yang tersisa. Hitler menyebut Laksamana Karl Donitz—pimpinan Angkatan Laut Nazi—sebagai penggantinya. Tak lupa Hitler menyebut Heinrich Himmler dan Hermann Goring sebagai pengkhianat. Kepada seluruh rakyat Jerman yang setia kepada Nazi, diimbau untuk terus berjuang melawan musuh mereka, tentara Sekutu. Hitler juga menghendaki jenazahnya dan jenazah kekasihnya dikremasi dengan martin Bormann sebagai pelaksana.

Pembuatan wasiat tersebut disaksikan Kolonel Nicolaus von Below (ajudan Hitler dari Angkatan Udara), Martin Bormann (sekretaris Hitler), dan Goebbels yang merupakan menteri propaganda Nazi. “Pukul empat pagi dua dokumen siap ditandatangani,” tulis Hugh R. Trevor-Roper dalam The Last Days of Hitler (1991: 161). Dokumen itu lalu disebar bawahan-bawahan Hitler, sementara sang diktator beristirahat.

Baca Juga:   Sejarah 4 Juli: Partai Nasional Indonesia, Partai Politik Tertua di Indonesia

Hitler menolak untuk melarikan diri. Dan salah satu orang yang kukuh dengan keputusan Hitler ini adalah Eva Braun. Di mana awal April ia datang dari Münich ke Berlin untuk menemani Sang Fuhrer dalam bunkernya. Keteguhan Eva Braun inilah yang lambat laun meluluhkan Hitler.

Greg Bradsher menulis catatan ringkas berjudul  Hitler’s Final Word’s melalui catatan salah satu sekretaris Hitler, Gertrude Junge yang menggambarkan Eva Braun begitu kukuh sebagai pendamping Hitler. Ketangguhan Eva Braun ini ditunjukkan hingga titik nadir detik-detik menuju kematian mereka di dalam bunker yang tenar dengan sebutan Führerbunker.

Eva Braun dan Hitler menikah di dalam bunker tersebut pada 29 April. Junge mencatat bahwa saksi dari pernikahan itu adalah Joseph Goebbels dan Martin Bormann. Sedangkan registrasi pernikahan dilakukan oleh Walter Wagner, seorang anggota dewan kota yang diminta Goebbels karena ia satu-satunya orang dengan otoritas untuk menikahkan orang dan masih ada di Berlin malam itu. Prosesi ini sendiri dilakukan tak sampai sepuluh menit.

Infografis: Bosscha.id

Selepas menikah pada pagi buta nan penuh dengan deru senapan mesin dan ledakan bom itu, Eva menggunakan nama Hitler sebagai nama belakangnya, menggantikan Braun. Hal ini dicatat oleh Junge pada saat upacara pernikahan singkat yang digelar sesaat sebelum menjemput maut itu.

Pada tanggal 30 April 1945, Hitler menyempatkan diri makan siang. Setelah selesai makan siangnya, seperti ditulis Alan Bulock dalam Hitler, a Study in Tyranny (1960: 730), Hitler pergi untuk menjemput istrinya dari kamar. Pasangan ini lalu mengucapkan selamat tinggal pada Goebbels. Bormann dan yang lainnya tetap di ruang tengah bunker.

Hitler kemudian kembali ke Fuhrer suite dengan Eva dan menutup pintu. Hitler berbaring di sofa lalu menembak dirinya sendiri melalui mulut. Di sisi kanannya, berbaring Eva Braun dan menelan racun. Kejadian itu sekitar pukul tiga sore hari pada 30 April 1945, tepat hari ini 75 tahun lalu. Dan sesuai wasiatnya, Jenazah Hitler dan Braun pun kemudian dibakar. 

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password