29 April: Mengenang Pak Bondan ‘Maknyus’ Sosok yang Serba Bisa

Gestur "maknyus" Bondan dikenal luas dan sering ditirukan oleh food vloger lainnya (Bosscha.id)

Bosscha.id – Jika kita mendengar kata ‘Maknyus’, maka kita akan langsung ingat kepada sosok Bondan Winarno. Sebagai salah satu pakar kuliner, kata ‘Makyus’ kerap kali Ia gunakan sebagai ungkapan rasa takjub dikala sedang menyantap makanan yang lezat.

Kata ‘Maknyus’ yang diciptakan oleh Bondan, kini telah banyak digunakan oleh para pencinta, presenter, atau Vloger kuliner ketika tengah menikmati makanannya.  

Kebanyakan orang hanya mengetahui bahwa Bondan sebagai seorang ahli kuliner berkat program di salah satu stasiun TV yang bertajuk Wisata Kuliner. Bisa dibilang program itu adalah pionir acara perjalanan untuk mencari makanan enak. Setelahnya, televisi mulai kebanjiran acara serupa. Tapi satu yang tak bisa mereka tiru: kualitas presenternya.

Bondan membawakan Wisata Kuliner berbekal pengalaman kaya nan panjang soal cita rasa. Ia bisa mengisahkan pada kita tentang apa perbedaan gulai ala Minang, ala Pekalongan, dan ala Madura. Bondan juga bisa dengan lihai menceritakan sejarah kecap, gula merah, atau kenapa soto Kudus memakai daging kerbau.

Dengan semua bekal yang Ia miliki itu, Ia membawakan sebuah acara kuliner yang tak hanya memanjakan mata, tapi juga memberi asupan nutrisi untuk otak. Sesuatu yang rasa-rasanya belum ada presenter acara kuliner Indonesia yang bisa menyamai kualitasnya hingga kini.

Sebelum dikenal sebagai seorang presenter kuliner, pria kelahiran Surabaya 29 April 1950 ini mengawali kariernya sebagai seorang penulis dan wartawan yang serba bisa. Dia memelopori dan menjadi ketua Jalansutra, suatu komunitas wisata boga yang cukup terkenal di Indonesia.

Selain itu, Bondan juga tercatat sempat menjadi anggota Pramuka. Keaktifannya di bidang itu sempat membuatnya dianugerahi Baden Powell Adventure Award ketika menjadi pemimpin regu Indonesia dalam Boy Scouts World Jamboree di Farragut State Park, Idaho, USA pada 1967.

Ketika itu ia juga terpilih sebagai honor guard untuk Lady Olave Baden Powell. Dia kemudian aktif dalam kegiatan aeromodelling, bahkan ketika sudah berkeluarga ia ikut terjun payung dan menjadi anggota Jakarta Flying Club.

Pemilik nama asli Bondan Haryo Winarno itu disebut juga pernah bercita-cita menjadi penerbang, juga ingin masuk Fakultas Sastra. Namun sang ibu sempat berharap bahwa dirinya dapat menjadi seorang dokter ataupun insinyur.

Bondan sempat mengikuti keinginan sang ibunda dengan mengambil jurusan Arsitektur Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Semarang, tapi tidak diselesaikannya. Dia malah memilih menjadi fotografer Pusat Penerangan Pertahanan dan Keamanan (Puspen Hankam) di Jakarta hingga 1970.

Setelah itu, ia berpindah-pindah kerja, tetapi tetap dalam lingkup komunikasi massa. Bondan sempat bertugas sebagai wartawan ke berbagai negeri, antara lain ke Kenya, Afrika. Sebagian pengalamannya dari negeri itu ia tuangkan menjadi cerpen berjudul Gazelle, yang kemudian memenangi hadiah pertama lomba penulisan cerpen majalah Femina pada 1984.

Sebagai seorang penulis, staminanya sangat kuat. Ia dikenal sebagai penulis kilat dan bisa menyelesaikan naskah di mana pun. Ada kisah menarik tentang ini. Pada 1984 Bondan mendapat mandat untuk mengasuh kolom baru di majalah TEMPO. Nama rubriknya Kiat. Isinya tentang manajemen dan ekonomi.

Tak berat, ringan saja. Awalnya, kolom ini direncanakan terbit dua minggu. Ternyata Goenawan Mohamad, pemimpin redaksi TEMPO kala itu, lupa memberitahu redaktur TEMPO tentang jadwal tayang Kiat. Yang harusnya dua minggu sekali, jadi satu minggu sekali. Bondan tak keteteran.

Dua tahun kemudian Ketika ia pindah ke Forum Keadilan dan Kontan karena TEMPO dibredel, kumpulan artikel di Kiat dibukukan menjadi dua seri buku berjudul Seratus KIAT. Dalam kata pengantarnya, Bondan menyebut, “…beruntung mempunyai kemampuan menulis di berbagai situasi.” Kebanyakan artikel Kiat tahun pertama, ia tulis di pesawat dan ruang tunggu bandara.

Bondan Seorang Wartawan Investigasi yang Handal

Sebagai seorang jurnalis, nama Bondan begitu harum dan disegani. Karyanya, Bre X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi menjadi semacam buku babon bagi para jurnalis investigatif di Indonesia.

Bre-X mengisahkan tentang skandal perusahaan Bre-X Mineral asal Kanada yang menambang emas di Busang, Kalimantan Timur. Geolog asal Belanda, John Felderhof yang pertama kali mengungkapkan adanya potensi cadangan emas hingga 2 juta ton di sana.

Untuk mendapat dana, Felderhof mengajak David Walsh, seorang promotor saham. Dengan iming-iming jumlah cadangan emas itu, harga saham Bre-X meningkat. Dari awalnya CAD27 sen, melejit hingga mencapai angka CAD201 dolar.

Pada Maret 1997, Freeport-McMoran yang ikut mengebor di Busang, mengatakan bahwa cadangan emas di sana tidak banyak. Mereka bilang bahwa “potensi sumber emas di sana terlalu dilebih-lebihkan, karena sampel yang tidak valid.” Harga saham Bre-X langsung terjun bebas, menjadi CAD8 sen saja.

Skandal Bre-X ini rumit karena melibatkan banyak intrik, juga menyeret banyak nama pejabat tinggi Indonesia. Bondan tergerak untuk menuliskan perkara ini saat mendengar Michael Antonio Tuason de Guzman, manajer eksplorasi Bre-X, ditemukan meninggal karena jatuh dari helikopter saat akan memenuhi panggilan Freeport. Beberapa pihak menyebut ia bunuh diri karena kebohongan soal cadangan emas terbongkar.

Namun, Bondan mencium banyak kejanggalan. Pertama, jenazah de Guzman hanya hancur di sebagian mata dan pipi. Bondan menyebut ia pernah melihat jenazah orang yang jatuh dari ketinggian 1.500 kaki: sudah jadi daging dan tulang. Orang yang jatuh dari ketinggian 800 kaki juga pasti akan sama. Kondisi jenazah de Guzman tidak tampak seperti itu.

Kedua, Bondan heran betapa cepatnya jenazah de Guzman ditemukan, hanya empat hari sejak de Guzman dikabarkan jatuh dari helikopter. Ia mengisahkan hal ini dalam wawancara bersama wartawan Oryza Ardyansyah.

“Ada pesawat hilang di Kalimantan yang oleh para penerbang dijuluki sebagai broccoli forest saking rapatnya pepohonan, dan sampai sekarang pesawat itu tidak ditemukan. Kok tiba-tiba jenazah yang begitu kecil dapat ditemukan dalam waktu singkat?”

Maka, Bondan yang saat itu bekerja sebagai direktur perusahaan yang sedang mengalami kelesuan bisnis, tergerak untuk melakukan investigasi. “Sebuah keisengan, mumpung tidak sibuk,” ujarnya.

Ia merogoh kocek sendiri untuk mendanai liputannya itu. Total waktu investigasi sekitar empat minggu, dengan jumlah narasumber sekitar 30 orang, tersebar dari Jakarta, Samarinda, Balikpapan, Busang, Manila, juga Toronto dan Calgary di Kanada. Setelah investigasi, Bondan menulis Bre-X dalam waktu dua bulan saja.

Dan pada saat terbit, buku ini menimbulkan kegegeran. Bondan mengatakan ada seorang pejabat yang berani mengganti biaya liputannya, dengan syarat buku ini tak diedarkan. Bre-X pun dicekal. Dan Bondan pun geram dibuatnya. Kerja kerasnya tidak dihargai. Ia sempat ingin menghancurkan sekitar 5.000 eksemplar Bre-X. Tapi kemudian Rezim Orde Baru pun runtuh dan Suharto lengser dari tahta.

Bre-X pun kembali diedarkan. Pada Juni 1998, buku ini bisa ditemui di banyak di pasaran. Tapi kali ini Bondan menghadapi musuh baru: I.B Sudjana, mantan Menteri Pertambangan dan Energi. Sudjana menganggap Bondan telah mencemarkan nama baiknya. Ia menuntut Rp2 triliun, dan pemasangan iklan permintaan maaf di 10 media cetak Jakarta dan Bali.

Bondan pun kalah. Ia diharuskan menjalani hukuman percobaan beberapa bulan. Kekesalan Bondan makin menjadi karena ia dituduh dibayar oleh Kuntoro Mangkusubroto, yang kelak menjadi Menteri Pertambangan dan Energi.

“Saya sakit hati. Banyak pejabat yang menduga wartawan itu kere dan tidak punya duit, karena itu tidak mungkin seorang wartawan membiayai sendiri investigasi sekaliber itu. Tuduhan ini sangat menyakitkan,” ucap Bondan.

Bisa jadi rasa sakit hati itu yang kemudian mendorong Bondan untuk enggan menulis lagi perkara serius dengan intens. Sejak 1 April 2001, Bondan jadi pemimpin redaksi Suara Pembaruan. Ia membuat kolom bernama Jalansutra. 

Jalansutra kemudian menjelma jadi nama komunitas milis, dengan anggota mencapai belasan ribu orang. Para anggotanya rutin berbagi kisah jalan-jalan dan makan-makan. Bondan dianggap sebagai bapak di komunitas ini. Banyak anggota sering berbagi kisah personal kepada Bondan.

Dan pada tahun 2002 ia menjadi salah satu pendiri Yayasan Karaton Surakarta. Ia merupakan seorang sentanadalem Karaton Surakarta Hadiningrat dengan gelar dan nama Kanjeng Pangeran Mangkudiningrat.

Dan tahun-tahun penuh talenta Bondan pun akhirnya usai. Bondan Winarno sang Wartawan dan Penulis Maknyus pun tutup usia. Ia meninggal pada 29 November 2017.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password