28 April: Nyonya Cendana, Ibu Tien Suharto Wafat

Foto Soeharto dan Tien Soeharto (Dok.Istimewa)

Boscca.id – Jika ada yang bertanya tentang Suharto, semua orang Indonesia pasti tahu dengan sosok Presiden satu ini. Presiden yang memimpin Indonesia lebih dari 30 tahun ini memang selalu menarik jika harus dibahas.

Jika harus menoleh ke belakang, masing-masing orang memandang Suharto dengan cara yang berbeda. Sebagian menganggapnya sebagai diktator, koruptor dan penindas yang seharusnya diadili sebelum meninggal. Namun ternyata banyak juga yang memandang bahwa Pa Harto dengan penuh rasa hormat dan menganggapnya sebagai tokoh yang berjasa, terutama bagi pembangunan di Indonesia.

Bicara soal Pak Harto, tentu tidak bisa dipisahkan dengan sosok Raden Ayu Siti Hartinah atau lebiih akrab disapa Ibu Tien Suharto. Beliau adalah istri dari Presiden kedua Republik Indonesia, yaitu Suharto.

Ibu Tien dan Pak Harto menikah pada tanggal 26 Desember 1947 di Solo. Pernikahan disaksikan keluarga dan teman-teman Ibu Tien. Cukup banyak jumlah tamu dari keluarga Soemoharjono yang datang. Sementara Pak Harto hanya datang bersama sepupunya, Sulardi dan kakaknya.

Resepsi pernikahan Pak Harto dan Ibu Tien dilakukan pada saat Belanda masih sibuk dengan agresi militernya, agar tidak mengundang perhatian Belanda, resepsi pun digelar dengan pencahayaan yang minim. Meski begitu, suasana pun khidmat luar biasa.

Tak ada bulan madu bagi mereka, karena tiga hari setelah pernikahan, Suharto harus kembali ke Yogyakarta untuk berdinas. Mereka pun tinggal di Jalan Merbabu Nomor 2. Seminggu setelah itu, Suharto harus meninggalkan sang istri karena ditugaskan ke Ambarawa untuk menghadapi serangan Belanda dari Semarang.

Dan pada 12 Maret 1967, melalui Sidang Istimewa MPRS, Suharto secara aklamasi diangkat menjadi Pejabat Presiden menggantikan presiden Sukarno. Ini berarti, status Ibu Tien yang tadinya adalah istri prajurit kini menjadi istri presiden. Dan menyandang predikat sebagai Ibu Negara selama kurang lebih 30 Tahun.

Karena tepat hari ini 24 tahun yang lalu atau pada tanggal 28 April 1996, yang bertepatan dnegan hari Idul Adha tahun itu, Ibu Tien Wafat. Ia mengembuskan napas terakhir di RSPAD Gatot Subroto. Ia meninggal pukul 05.10 karena serangan jantung.

Kala itu kabar wafatnya Ibu Tien diumumkan langsung oleh Mensesneg Murdiono. Dan pada malam harinya, Murdiono pun mengumumkan hari berkabung nasional selama tujuh hari mulai 28 April hingga 4 Mei 1996. Begitu kabar tersiar, masyarakat langsung memasang bendera setengah tiang sebagai wujud duka.

Dalam pemberitaan Kompas (29/4/1996), Moerdiono mengatakan keluarga besar Suharto mengucapkan terima kasih atas ucapan bela sungkawa dan doa dari masyarakat dan berbagai pihak. Selain itu Murdiono mewakili Suharto dan keluarga meminta maaf bila semasa hidup ada kesalahan yang dibuat almarhumah.

“Pak Harto minta doa dari masyarakat Indonesia dan beliau mohon semua kesalahannya (Ny. Tien), ucapan beliau, langkah beliau yang tidak berkenan di hati, kiranya dapat dimaafkan,” kata Murdiono.
Kabar wafatnya Ibu Tien juga diumumkan di tempat pelaksanaan salat Idul Adha dan gereja yang saat itu sedang beribadah Minggu. Setelah itu banyak orang berbondong-bondong ke kediaman Suharto di Jalan Cendana untuk memberikan penghormatan terakhir.

Berdasarkan laporan Kompas (29/4/1996), terlihat sejumlah pejabat, politikus, dan perwakilan negara tetangga datang melayat. Beberapa yang terlihat di antaranya A.H. Nasution, yang datang sambil dipapah; Megawati Soekarnoputri dan putra-putri Bung Karno; dan mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

Sementara itu Presiden Singapura Ong Teng Cheong, PM Singapura Goh Chok Tong, PM Malaysia Mahathir Mohamad, dan Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolikiah langsung terbang ke Solo untuk mengikuti upacara pemakaman.

Lalu pada 29 April 1996 pukul 10.00 jenazah Ibu Tien pun diberangkatkan ke bandara Halim Perdanakusuma untuk diterbangkan ke Solo dengan pesawat Hercules. Di Solo, jenazah Ibu Tien disambut oleh banyak masyarakat sepanjang jalan. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Astana Giribangun, makam dinasti Suharto, di Karanganyar.

Setelah kepergian Ibu Tien, beredar rumor miring terkait penyebab kematian sang ibu negara.  Rumor yang santer beredar bahwa Bambang dan Tommy berkelahi karena berebut proyek mobil nasional. Mereka pun saling baku tembak di dalam rumah dan akhirnya salah satu peluru nyasar mengenai sang ibu.

Namun kemudian rumor itu dibantah, Dalam Pak Harto: The Untold Stories, Sutanto menuliskan “Bahwa Itu adalah rumor dan cerita yang sangat kejam dan tidak benar sama sekali. Saya saksi hidup yang menyaksikan Ibu Tien terkena serangan jantung mendadak, membawanya ke mobil, dan terus menunggu di luar ruangan saat tim dokter RPSAD melakukan upaya medis”, tulis Sutanto.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password