Sejarah 23 April: Unesco Menetapkan Perayaan Hari Buku Sedunia

Ilustrasi oleh freefik.com

Bosscha.id – Bagi Anda para pembaca buku, tentu sudah tahu bahwa ada dua perayaan hari buku yang diperingati setiap tahunnya, yakni Hari Buku Sedunia yang diperingati setiap 23 April dan Hari Buku Nasional yang diperingati pada 17 Mei.

Perayaan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia memiliki sejarah panjang sebelum akhirnya ditetapkan oleh UNESCO pada 23 April 1995. UNESCO punya pertimbangan tertentu untuk menetapkan tanggal tersebut demi perayaan istimewa pembaca buku seluruh dunia. 23 April menjadi tanggal simbolis dalam sastra dunia. Tanggal tersebut merupakan tanggal kematian para penulis terkemuka dunia.

Selain itu, hubungan antara 23 April dan buku, ini bermula dari acara perayaan La Diada de Sant Jordi alias Sant Jordi di Catalunya, Spanyol. Pada 23 April 1923, para pedagang buku di Catalunya mengadakan acara festival buku pada momen perayaan tahunan masyarakat Catalan tersebut.

Sebelum tahun 1923, festival yang diadakan untuk memperingati hari kematian Saint George, santo pelindung dari Catalunya, pada 23 April tahun 303 itu hanya identik dengan pemberian mawar merah kepada teman-teman, anggota keluarga dan pasangan. Namun sejak 1923 Sant Jordi juga dikenal identik dengan pemberian buku dan kegiatan-kegiatan lain yang berkaitan dengan buku.

Ide mengadakan festival buku pada waktu yang bersamaan dengan tradisi La Diada de Sant Jordi (yang berarti Hari Saint George) –atau yang kini dikenal juga sebagai El Dia de la Rosa (Hari Mawar) maupun El Dia del Llibre (Hari Buku), berasal dari Vicente Clavel Andrés, penulis asal Valencia, untuk menghormati mendiang Miguel de Cervantes Saavedra yang meninggal pada tanggal dan bulan yang sama seperti Saint George, yakni 23 April dengan tahun yang berbeda.

Cervantes adalah seorang tokoh yang juga melegenda di Catalunya karena dianggap sebagai seorang penulis berbahasa Spayol terbesar yang pernah ada. Bahkan, karyanya yang berjudul Don Quixote disebut-sebut sebagai karya sastra terbaik di dunia.

Sedangkan untuk Hari Buku Nasional yang diperingati setiap tanggal 17 Mei ini, dipilih karena bertepatan dengan momentum peresmian Perpustakaan Nasional pada tanggal 17 Mei 1980. Perpustakaan Nasional tersebut di resmikan oleh Menteri Pendidikan Nasional RI pada masa itu, yaitu Abdul Malik Fajar.

Penetapan Hari Buku Nasional diharapkan mampu memacu minat baca masyarakat Indonesia. Diketahui, kala itu minat baca anak Indonesia tergolong memprihatinkan. Sehingga digolongkan sebagai tragedi nol buku. Rata-rata yang dibaca anak Indonesia per tahunnya hanya 27 halaman. Jauh dari peringkat pertama Finlandia yang membaca 300 halaman dalam 5 hari.

Menumbuhkan kecintaan terhadap membaca buku menjadi tantangan bagi setiap individu. Namun demikian, peringatan Hari Buku Nasional atau Dunia diharapkan mampu memberikan dampak positif dalam menyadarkan masyarakat tentang pentingnya buku. Khususnya masyarakat Indonesia dapat menjadikan peringatan Hari Buku ini sebagai momentum untuk lebih mengenal perpustakaan dan meningkatkan minat baca buku.

Jadi, baik itu peringatan Hari Buku Sedunia atau Hari Buku Nasional, keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu agar setiap penduduk di bumi ini mencitai buku dan gemar membaca buku.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password