Sejarah 18 April: Digelarnya Konferensi Asia-Afrika di Bandung

Ilustrasi gedung merdeka Bandung (Bosscha.id)

Bosscha.id – Hari ini 65 tahun yang lalu, Konferensi Asis-Afrika (KAA) diadakan di Bandung. KAA mulai digelar pada tanggal 18-24 April 1955 dan sering disebut Konferensi Bandung karena memang diselenggarakan di Gedung Merdeka, Bandung. Tujuan Konferensi Asia Afrika antara lain untuk mempererat solidaritas negara-negara di Asia dan Afrika serta melawan kolonialisme barat.

Penyelenggaraan KAA sendiri, dipelopori oleh 5 negara yakni Indonesia, India, Burma (sekarang Myanmar), Pakistan dan Caylan (sekarang Sri Lanka). Latar belakang diselenggarakannya KAA, dikarenakan kondisi keamanan dunia saat itu yang masih belum stabil.

Saat itu dan masih banyak negara yang dijajah, terutama negara-negara di kawasan Asia dan Afrika. Hasil Konferensi Asia Afrika ini berupa 10 poin kesepakatan dan pernyataan dalam Dasasila Bandung. Konferensi ini akhirnya membawa kepada terbentuknya Gerakan Non-Blok pada tahun 1961.

Gubernur Jawa barat ketika itu, Samsi Hardjadinata, membentuk panitia lokal di Bandung pada 3 Januari 1955. Panitia lokal ini mengurusi akomodasi, transportasi, logistik, keamanan, penerangan, komunikasi, kesehatan, hiburan, dan lainnya. Panitia Interdepartemental juga dibentuk pada 11 Januari 1955 oleh pemerintah pusat.

Gedung Concordia dan Gedung Dana Pensiun disiapkan sebagai tempat konferensi. Hotel Preanger, Hotel Homman, dan 12 hotel lainnya serta 31 bungalow di sekitar Lembang, Ciumbuleuit, dan jalan Cipaganti disiapkan untuk penginapan para tamu undangan. Jumlah peserta yang hadir dalam KAA diperkirakan mencapai 1.500 orang. Akomodasi untuk 500 wartawan juga diurus. Demi kelancaran transportasi, sebanyak 143 mobil, 30 taksi, 20 bus, serta 230 sopir pun disiapkan.

Dalam kesempatan memeriksa persiapan-persiapan terakhir di Bandung pada 7 April 1955, Presiden Indonesia Soekarno pun meresmikan penggantian nama Gedung Concordia menjadi Gedung Merdeka, Gedung Dana Pensiun menjadi Gedung Dwiwarna, dan sebagian Jalan Raya Timur menjadi Jalan Asia Afrika. Penggantian nama tersebut dimaksudkan untuk lebih menyemarakkan konferensi dan menciptakan suasana konferensi yang sesuai dengan tujuannya.

Lalu, pada 15 Januari 1955, surat undangan Konferensi Asia Afrika dikirimkan kepada kepala pemerintah dari 25 Negara Asia dan Afrika. Dari seluruh negara yang diundang hanya satu negara yang menolak undangan itu, yaitu Federasi Afrika Tengah, karena memang negara itu masih dikuasai oleh orang-orang bekas penjajahnya, sedangkan 24 negara lainnya menerima baik undangan itu, meskipun pada mulanya ada negara yang masih ragu-ragu.

Akhirnya, para pemimpin dari negara-negara Asia dan Afrika pun berkumpul di Bandung. Konferensi dibuka pada 18 April 1955, dan dilaksanakan hingga 24 April 1955. Kota Bandung dipadati rakyat. Di hari pembukaan KAA, Sukarno membacakan pidatonya, “Mari Kita Lahirkan Asia Baru dan Afrika Baru”.

“Saya berharap konferensi ini akan menegaskan kenyataan, bahwa kita, pemimpin-pemimpin Asia dan Afrika, mengerti bahwa Asia dan Afrika hanya dapat menjadi sejahtera, apabila mereka bersatu, dan bahkan keamanan seluruh dunia tanpa persatuan Asia Afrika tidak akan terjamin. Saya harap konferensi ini akan memberikan pedoman kepada umat manusia, akan menunjukkan kepada umat manusia jalan yang harus ditempuhnya untuk mencapai keselamatan dan perdamaian,” kata Sukarno.

Dan hasil dari KAA kala itu lalu melahirkan Dasasila Bandung. Persamaan derajat, saling menghormati kedaulatan negara masing-masing negara dan kerja sama antar bangsa menjadi hal penting dalam Dasasila Bandung tersebut. Dasasila Bandung juga mengandung semangat kemerdekaan. Negara-negara baru di Asia dan Afrika harus diakui kedaulatannya, dan berikut ini uraian dari Dasasila Bandung;

  • Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam piagam PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa)
  • Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa
  • Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil
  • Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain
  • Menghormati hak-hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian ataupun kolektif yang sesuai dengan Piagam PBB
  • Tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukannya terhadap negara lain
  • Tidak melakukan tindakan-tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah maupun kemerdekaan politik suatu negara
  • Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi (penyelesaian masalah hukum), ataupun cara damai lainnya, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB
  • Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama
  • Menghormati hukum dan kewajiban–kewajiban internasional

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password