Sejarah 10 April: Gunung Tambora Meletus

Ilustrasi gunung purba meletus (Shutterstock)

Bosscha.id – Hari ini 205 tahun yang lalu, bencana maha dahsyat di tanah air kita. Gunung Tambora di Sumbawa meletus, yang kekuatannya mencapai level 7 Volcanic Explosivity Index (VEI). Efek dari letusannya bahkan sampai hingga Eropa, yang membuat warga Eropa menyangka seakan-akan bumi berubah dan seolah-olah menunjukkan tanda akhir dunia.

Kekuatan letusan Tambora yang terjadi adalah yang terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah. Empat kali lipat dari amuk Krakatau pada 1883, dan 10 kali lipat dari erupsi Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991.

Erupsi diiringi halilintar sambung-menyambung, bunyinya menggelegar bagaikan ledakan bom atom, terdengar hingga ratusan kilometer. Thomas Stamford Raffles, pendiri Singapura modern, mengira bunyi memekakkan telinga itu berasal dari meriam.

Vulkanolog dari Cambridge University, Clive Oppenheimer dalam bukunya “Eruptions that Shook the World” memperkirakan, 60.000-120.000 nyawa terenggut, baik secara langsung — oleh awan panas, tsunami — maupun tak langsung, akibat kelaparan dan wabah penyakit yang berjangkit berbulan-bulan kemudian.

Karena dahsyatnya letusan ini, gunung Tambora yang mulanya menjulang setinggi 4.300 mdpl menjadi terpangkas sampai tersisa setinggi 2.772 mdpl. Ledakan terdengar hingga 2.600 kilometer jauhnya, dan abunya jatuh setidaknya sejauh 1.300 kilometer.

Di lereng Tambora, ada tiga kerajaan yang tercatat yaitu Kerajaan Tambora, Kerajaan Sanggar, dan Kerajaan Pekat yang semuanya musnah karena letusan Tambora. Kerajaan Bima sendiri turut mencatat peristiwa mahadahsyat ini seperti tertuang dalam naskah kuno Bo Sangaji Kai.

Di hari puncak letusan yang terjadi pada 10 April 1818 itu, tsunami juga menerjang berbagai pulau di Indonesia sebagai dampak dari letusan Tambora. Tercatat, di wilayah Sanggar tsunami menerjang setinggi 4 meter, di Besuki Jawa Timur tsunami setinggi 2 meter terjadi sebelum tengah malam, juga di Kepulauan Maluku. U.S. Geological Survey mencatat korban tewas diperkirakan sebanyak 4.600 jiwa.

Bagi dunia, pengaruh dari letusan Tambora ini berdampak terhadap perubahan iklim global lantaran sulfur dioksida yang turut lepas ke lapisan stratosfer. Musim semi tahun 1815 menjadi terganggu karena debu-debu dan kandungan yang dibawa tertiup angin bergeser ke langit Eropa, Amerika, dan lainnya.

Suhu global pun menurun sekitar 0,4 sampai 0,7 derajat celsius akibat kabut kering yang menyelimuti bumi. Pertanian yang seharusnya mendapat paparan sinar matahari di musim semi pun menjadi gagal panen di India dan timbul wabah kolera di Bengal pada 1816. Tifus menyerang wilayah Eropa tenggara dan timur Mediterania antara 1816 sampai 1819.

Gagal panen karena suhu dingin dan hujan lebat melanda Inggris dan Irlandia. Kelaparan merata di utara dan barat daya Irlandia karena gagal panen gandum, oat, dan kentang. Jerman dilanda krisis: harga pangan meningkat akibat kelangkaan. Demonstrasi menjadi pemandangan umum di depan pasar dan toko roti, diikuti kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan yang menjadikan kelaparan terburuk di Eropa pada abad ke 19.

Dari letusan yang tercatat sebagai yang terhebat sepanjang sejarah modern, banyak peristiwa sejarah dunia turut lahir. Termasuk penemuan sepeda di Amerika dan Prancis karena kematian para kuda disebabkan oleh perubhan iklim yang cukup ekstrim ini.

Badai salju pun melanda New England Juli tahun itu, panen gagal. Eropa pun mengalami kondisi yang sama parahnya. “Bahan makanan berkurang, orang-orang terpaksa makan kucing dan tikus. Warga Eropa dan sisi timur Amerika Utara mengalami kesulitan tak terbayangkan,” kata Stephen Self, dosen ilmu bumi dan planet di University of California, Berkeley, seperti dimuat situs Imperial Valley News.

Demikian pula di Yunan, Daratan Tiongkok, orang-orang terpaksa memakan tanah liat, karena cuaca yang buruk menggagalkan panen padi. Penyair Li Yuyang dalam puisinya mengisahkan tentang rumah-rumah yang tersapu banjir. Para orangtua terpaksa menjual anak-anak mereka, ditukar dengan sekantung gandum. Suami menyaksikan istri dan buah hatinya mati perlahan akibat kelaparan.

Tambora bahkan mengubah peta sejarah, 18 Juni 1815, cuaca buruk yang diakibatkan Tambora konon ikut membuat Napoleon Bonaparte kalah perang di Waterloo. Hari terpedih dalam sejarah gilang-gemilang Sang Kaisar Prancis.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password