Sejarah 4 April: Martin Luther King Jr, Aktivis Pejuang Hak-hak Warga Kulit Hitam Amerika Tewas Ditembak

Aksi King menarik perhatian banyak orang dengan orasinya (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – 4 April 1968, atau tepat hari ini 52 tahun yang lalu menjadi akhir dari riwayat hidup sang pejuang hak-hak warga kulit hitam dan pendeta Baptis di Amerika, Martin Luther King Jr. King juga pernah menjadi juru bicara dan pemimpin gerakan hak sipil tahun 1954 sampai 1968. Ia dikenal karena menuntut hak sipil dengan cara yang damai yang terinspirasi oleh aktivisme damai Mahatma Gandhi.

Martin Luther King Jr tewas ditembak di balkon kamar lantai duanya di Lorraine Motel di Memphis, Tennessee. Pemimpin hak-hak sipil itu berada di Memphis untuk mendukung aksi mogok pekerja sanitasi. Saat insiden penembakan terjadi King sedang bersiap untuk menghadiri makan malam. Lalu King dinyatakan meninggal saat di rumah sakit Memphis.

Martin Luther King menaruh perhatian pada masalah ketidaksetaraan ekonomi oleh kerana perbedaan ras di Amerika. Dia mengorganisir Kampanye Rakyat Miskin. Pada Maret 1968 King mengunjungi Memphis untuk mendukung para pekerja sanitasi Afrika-Amerika yang diperlakukan dengan buruk kala itu.

Pada 28 Maret, demonstrasi protes pekerja yang dipimpin oleh King berakhir ricuh, dan menyebabkan kematian seorang remaja Afrika-Amerika. King pun meninggalkan kota itu dan berjanji untuk kembali pada awal April untuk memimpin demonstrasi lagi.

Lalu pada 3 April, dia kembali ke Memphis dan memberikan pidato terakhirnya yang sangat dikenang hingga kini.

“Kita akan menghadapi hari-hari yang sulit ke depan. Namun, itu tak menjadi masalah lagi bagi saya, karena saya sudah sampai di puncak gunung…dan Dia (Tuhan) mengizinkan saya untuk naik ke gunung itu,” kata King.

“Dan, saya sudah melihat ke sekeliling, dan saya sudah melihat tanah yang dijanjikan. Saya mungkin tak akan bersama kalian di sana. Namun, saya ingin kalian pahami, sebagai bangsa, kita akan mencapai tanah yang dijanjikan itu,” King menegaskan.

Sehari setelah berpidato, King pun tewas ditembak oleh seorang sniper. Pembunuhan King lantas memicu kerusuhan di banyak kota di seluruh AS. Pemerintah federal sampai harus mengirimkan Garda Nasional ke Memphis dan di Washington DC untuk mengendalikan situasi itu.

Pada 9 April 1968, Martin Luther King Jr dimakamkan di kampung halamannya Atlanta, Georgia. Puluhan ribu orang hadir untuk memberikan penghormatan terakhir saat peti jenazah King melintas diangkut sebuah kereta yang ditarik dua ekor keledai. 

Pada 4 April malam, polisi menemukan sebuah senapan berburu jenis Remington 30-06 di trotoar di dekat sebuah rumah satu blok dari Motel Lorraine. Selama beberapa pekan berikutnya, menurut kesaksian sejumlah orang, dan sidik jari di senapan menunjukkan pelaku penembakan adalah James Earl Ray.

Baca Juga:   Sejarah 3 Juni: Diresmikannya Tentara Nasional Indonesia (TNI) Oleh Presiden Sukarno

Earl Ray adalah seorang kriminal yang kabur dari sebuah penjara di Missouri pada April 1967 saat menjalani hukuman penjara seumur hidup karena melakukan perampokan. Pada Mei 1968, perburuan besar-besaran untuk menemukan James Earl Ray digelar. FBI kemudian menyimpulkan Earl Ray mendapatkan paspor Kanada dengan menggunakan identitas palsu yang di masa itu sangat mudah dilakukan. Pada 8 Juni 1968, para penyidik Scotland Yard menangkap Earl Ray di sebuah bandara di London saat mencoba terbang ke Belgia, sebelum menuju ke tujuan akhirnya Rhodesia atau Zimbabwe di masa kini.

Setelah diekstradisi ke Amerika Serikat, Earl Ray menjalani persidangan di Memphis pada Maret 1969. Dia akhirnya mengakui perbuatannya demi menghindari hukuman mati. Pengadilan akhirnya menjatuhkan hukuman penjara 99 tahun untuk James Earl Ray.

Tiga hari setelah vonis, Earl Ray mencoba mencabut pengakuannya. Dia mengklaim tak bersalah dan hanya menjadi korban sebuah konspirasi yang lebih besar. Dia mengklaim pada 1967 seorang pria yang hanya dikenalnya dengan nama “Raoul” mendatanginya dan merekrutnya untuk menyelundupkan senjata api.

Pada 4 April, barulah dia sadar akan dikorbankan dalam plot pembunuhan Martin Luther King dan kabur ke Kanada. Upaya pembelaan ini ditolak pengadilan sebagaimana puluhan permintaan pengadilan ulang yang diajukannya selama 29 tahun berikutnya.

Pada 1990-an, janda dan anak-anak Martin Luther King Jr menyatakan mendukung klaim Earl Ray dan menyebutnya tak bersalah. Mereka kemudian menyebut adanya konspirasi yang melibatkan pemerintah dan militer AS.

Dan pada tahun-tahun berikutnya, pembunuhan King kemudian dievaluasi oleh komite tentang pembunuhan politik parlemen, jaksa wilayah Shelby County, dan tiga kali dievaluasi Kementerian Kehakiman AS. Semua investigasi berakhir dengan konklusi sama yaitu James Earl Ray adalah pembunuh Martin Luther King Jr dengan motif kebencian. Lalu, James Earl Ray pun meninggal dunia di dalam lembaga pemasyarakatan pada 23 April 1998.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password