Sejarah 2 April: Antraks, Senjata Biologis Buatan Uni Soviet Bocor dan Menewaskan Banyak Korban

Karena penyebarannya melalui udara, Antraks menewaskan banyak korban (Bosscha.id)

Bosscha.id – Tepat hari ini 41 tahun yang lalu, wabah misterius menyerang warga Soviet, tepatnya di Sverdlosk atau yang sekarang disebut Ekaterinburg. Penyebaran wabah mematikan itu terjadi tepat pada 2 April 1979 silam. Laporan awal keberadaan penyakit didapat berdasarkan aduan warga kepada otoritas setempat.

Masyarakat mengeluhkan telah terserang penyakit serius yang belum diketahui penyebanya, yang setidaknya sudah menelan korban jiwa kurang lebih 62 orang dan sejumlah hewan. Sekitar 32 warga yang berhasil bertahan dari serangan bakteri juga tetap mengalami penyakit yang serius.

Penyakit baru dapat ditanggulangi enam pekan setelah gejala awal terdeteksi. Disaat yang bersamaan mereka juga dilanda kelaparan akibat berkurangnya jumlah persediaan ternak yang mati akibat terserang bakteri tersebut.

Saat itu, pemerintah Uni Soviet yang pewaris utamanya kini adalah Rusia mengatakan jika penyakit warga disebabkan oleh daging yang dijual di pasar gelap yang telah mereka konsumsi. Meski demikian, sebagian besar bagian dunia lainnya segera skeptis dengan penjelasan Uni Soviet.

Kendati, mereka juga belum mengetahui penyebab pasti penyakit yang diderita masyarakat tersebut. Namun image Uni Soviet pada waktu itu, terutama Ekaterinburg memang dikenal sebagai pabrik senjata biologis pemerintah Uni Soviet.

Penyebaran penyakityang melanda warga Ekaterinburg baru dapat dijelaskan 13 tahun kemudian atau tepatnya pada 1992. Epidemi yang menyerang para pekerja di kota pabrik senjata itu ternyata terjadi karena mereka gagal mengganti sistem penyaring udara.

Pemerintah Uni Soviet pada saat itu memproduksi bakteri antraks yang harus segera dikeringkan untuk menghasilkan bubuk halus bahan aerosol. Sebuah sistem penyaring besar di atas pipa pembuangan adalah satu-satunya penghalang antara debu antraks dan lingkungan luar.

Namun, beberapa hari sebelumnya seorang teknisi melepas filter tersebut saat pabrik sedang berhenti memproduksi senjata untuk sementara. Teknisi tersebut meninggalkan pemberitahuan tertulis.

Namun pekerja yang masuk dalam waktu giliran berikutnya tidak menemukan catatan tersebut dan kemudian menyalakan mesin produksi. Hal itu lantas menyebabkan kematian terhadap beberapa pekerja selama beberapa hari kemudian.

Lebih parahnya lagi, hal ini menyebabkan pelepasan spora antraks ke udara luar. Angin lantas mengangkut spora ke area pertanian yang kemudian juga menginfeksi warga dan hewan ternak di daerah tersebut. Arah angin yang berhembus ke kota menjadi penyebab tingginya korban jiwa akibat wabah tersebut.

Antraks merupakan bakteri yang dapat masuk ke tubuh melalui beberapa metode. Penyebaran paling mudah adalah melalui udara yang dihirup oleh warga. Penyakit tersebut mendorong produksi molekul beracun yang menghancurkan protein penting dalam sel-sel tubuh, biasanya di kelenjar getah bening.

Kemudian para peneliti merangkai kembali genom bakteri yang menyebabkan kejadian tersebut. Mereka mengkonfirmasi jika penyebabnya adalah koloni mikroba penyebab antraks bernama Bacillus anthracis yang telah dimodifikasi oleh ilmuwan Soviet.

Bakteri penyebab antraks ini sebenarnya cukup jarang ditemukan pada manusia. Antraks menyebar melalui hewan dan mampu membentuk spora yang tidak terdeteksi serta tidak aktif selama beberapa dekade. Namun setelah masuk ke dalam tubuh manusia, bakteri akan menghasilkan racun, dan infeksi yang ditimbulkannya dapat membunuh orang dalam beberapa hari.

Tanpa direkayasa pun sebenarnya bakteri Bacillus anthracis merupakan bakteri yang mematikan. Namun saat Perang Dingin, Soviet telah mengembangkan antraks yang resisten terhadap antibiotik bahkan mampu melawan vaksin.

Penelitian yang dilakukan oleh Tim peneliti dari Universitas North Arizona ini mengungkap jika ilmuwan Soviet berjuang untuk membuat antraks lebih mematikan daripada aslinya. Kesimpulan ini diambil setelah Peneliti mengambil Sampel bakteri yang diambil dari salah satu korban tahun 1979 yang telah diawetkan.

Dan pada tahun 2001, spora antraks sempat digunakan sebagai senjata teror di Amerika Serikat (AS). Bakteri jamur disebarkan ke organisasi media dan anggota Senat AS. Insiden itu menyebabkan lima orang meninggal dan 13 lainnya terinfeksi. Namun, nyawa belasan orang itu berhasil diselamatkan. Pemerintah setempat lantas segera meluncurkan investigas guna menemukan pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password