Sejarah 28 Maret: Pesawat ‘Woyla’ Milik Garuda Indonesia dibajak Oleh Kelompok Ekstrimis

Selama tiga hari penumpang pesawat disandera Komando Jihad (Do.Istimewa)

Bosscha.id – Hari ini 39 tahun yang lalu, pesawat DC-9 milik maskapai Garuda Indonesia Airways dibajak. Pesawat dengan rute Jakarta-Palembang-Medan yang dikenal dengan sebutan “Woyla” itu dikuasai kelompok yang menamakan dirinya Komando Jihad.

Pagi itu, tanggal 28 Maret 1981 sekitar pukul 08.00 WIB, pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan 206 berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta ke Bandara Polonia, Medan.

Lalu sekitar pukul 09.00, pesawat DC-9 Woyla itu transit di Pangkalan Udara Talang Betu, Palembang dan direncanakan akan terbang kembalik ke Medan dengan perkiraan waktu sampai, yakni pukul 10.55 WIB.

Dan dalam perjalanan dari Palembang ke Medan, tiba-tiba 5 anggota kelompok ekstremis ‘Komando Jihad’ yang menyamar sebagai penumpang beraksi. Seorang pelaku menuju ke kokpit dan yang lainnya berdiri di gang antara tempat duduk pesawat. Dengan senjata api, mereka meminta pilot untuk menerbangkan pesawat ke Kolombo, Srilangka.

Pada jam-jam pertama pembajakan, para pembajak menceramahi para penumpang. Isinya menjelek-jelekkan pemerintah, karena saat itu rezim Suharto memang getol menyudutkan kelompok Islam politik. Para sandera tak boleh berkomentar apa-apa, tetapi juga tak boleh mengabaikannya. Karena jika itu terjadi, pukulan dan sepakan pembajak menghampiri.

Pesawat sempat mendarat sementara di Bandara Penang, Malaysia untuk mengisi bahan bakar. Dalam penerbangan ke Penang, para pembajak menyita semua dompet dan barang berharga penumpang. Mereka juga memeriksa identitas para penumpang kalau-kalau diantara mereka adalah tentara. Garuda Indonesia ini kemudian melanjutkan perjalanan ke Thailand dan mendarat di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand. Dan di sinilah, klimaks pembajakan pun terjadi.

Saat di Don Mueang, bahan bakar pesawat menipis dan karenanya mesin pesawat dimatikan. Otomatis pendingin udara tak berfungsi. Para sandera disergap dalam pengap dan udara kabin yang panas.

Infografis: Bosscha.id

Terlebih di hari kedua pembajakan, Bangkok kala itu sedang terik-teriknya. Banyak penumpang yang lemas karena kekurangan oksigen. Di saat-saat seperti itu, beberapa sandera ada yang merencanakan perlawanan dengan memakai kode tangan dan mata untuk menghindari kecurigaan pembajak. Para penumpang yang ingin melawan, dan bercerita bahwa mereka saling memberi kode ketika akan pergi ke toilet. Namun, rencana perlawanan itu tak pernah dilakukan. Selain pertimbangan keselamatan, kesempatan melawan pun kian sulit usai dua penumpang nekat kabur dari pesawat.

Penumpang yang kabur itu adalah Robert Wainwright dan Carl Schnider. Wainwright kabur melalui pintu darurat pesawat pada Minggu siang dan Schnider sore harinya. Namun, malang bagi Schnider, ia tertembak di bagian bahu saat meloncat dari pesawat. Setelah kejadian itu, para pembajak bersikap lebih galak. Seluruh penumpang diharuskan mengencangkan sabuk pengaman dan dilarang bicara. Para sandera juga tak diberi makan setelah insiden Wainwright yang kabur.

Baca Juga:   Sejarah 29 Juni: Kali Pertama Brasil Menjadi Juara Piala Dunia

Tuntutan para pelaku terhadap Pemerintah Indonesia diantaranya, meminta agar para anggota Komando Jihad yang ditahan karena terlibat dalam peristiwa penyerangan Kosekta 8606 Pasir Kaliki, Cicendo, Bandung, pada 11 Maret 1981, dibebaskan. Mereka juga menuntut tebusan uang sejumlah USD 1,5 juta, untuk pembebasan tahanan dan terbang ke tujuan yang dirahasiakan. 

Selain itu, para ekstremis ini mengancam telah memasang bom di pesawat Woyla dan tidak segan untuk meledakkan diri bersama pesawat tersebut jika Pemerintah Indonesia dianggap tak kooperatif.

Menanggapi hal itu, militer Indonesia memutuskan untuk mengerahkan pasukan Kopassandha (Nama satuan Kopassus saat itu) untuk melakukan penyergapan di bandara Thailand tersebut. Penderitaan para sandera pun mereda ketika Jenderal Yoga Sugama berhasil mengelabui pembajak dengan berpura-pura mengabulkan semua tuntutan mereka pada hari ketiga. Negosiasi itu hanyalah upaya mengulur waktu hingga tim antiteror dari Kopassandha siap bergerak.

Dan operasi pembebasan pesawat Woyla akhirnya dilaksanakan pada Selasa pukul 02.30 waktu Thailand. Tim antiteror yang dikomandoi Letkol Sintong Panjaitan dan dinamakan Operasi Don Mueang itu berlangsung cepat. Para pembajak yang sudah lengah, meskipun sempat mengadakan perlawanan, relatif mudah dilumpuhkan tim antiteror Kopassandha. Sekitar pukul 02.46, operasi pun selesai.

Namun dalam serbuan operasi kilat Grup-1 Para-Komando yang dipimpin Letnan Kolonel Infanteri Sintong Panjaitan, pilot pesawat Garuda, Kapten Herman Rante, dan Achmad Kirang, salah satu anggota satuan Para-Komando Kopassandha, meninggal dalam insiden baku tembak.

Bagi para penumpang yang disandera selama kurang lebih tiga hari itu, peristiwa ini  menjadi saat-saat berat yang menguras mental dan fisik. Kelompok pembajak, yang dikomandoi Mahrizal, tak segan melakukan kekerasan terhadap sandera.

Para anggota Grup-1 Para-Komando termasuk pimpinan Letnan Kolonel Infanteri Sintong Panjaitan dianugerahi Bintang Sakti dan dinaikkan pangkatnya satu tingkat, kecuali Achmad Kirang yang gugur di dalam operasi tersebut dinaikkan pangkatnya dua tingkat secara anumerta.

Usai peristiwa itu, sejumlah anggota Komando Jihad ditahan. Imran bin Muhammad Zein selaku otak peristiwa pembajakan pesawat DC-9 ini kemudian dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada tahun 1981. Maman Kusmayadi dan Salman Hafidz bernasib sama dengan Imran dan dieksekusi mati.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password