Sejarah 27 Maret: Diculiknya Perdana Menteri Sutan Sjahrir

Kekecewaan beberapa pihak akan sikap Syahrir menuai aksi penculikan terhadapnya (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Setelah merdekanya Republik Indonesia pada tahun 1945, negara kita belum menemukan arah politiknya yang jelas. Sekalipun partai-partai politik seperti Masyumi, Partai Sosialis, Partai Nasional Indonesia, dan sebagainya telah dibentuk, pendirian serta pandangan yang diambil sangat berbeda satu sama lain. Akibatnya, setiap wilayah memiliki sikap tersendiri dalam menjaga tempat bernaungnya.

Kondisi Rapublik Indonesia pada pertengahan tahun 1946, situasinya tidak menentu. Terutama setelah Belanda kembali mencoba peruntungannya, untuk menguasai Indonesia. Sejumlah daerah dibuat bergolak karenanya. Sementara itu di ranah politik terjadi beberapa peristiwa penting, di antaranya pembentukan Kabinet Sjahrir II, penangkapan Tan Malaka, dan peristiwa Tiga Daerah di Pekalongan.

Mengetahui keadaan semakin genting, Perdana Menteri Sutan Sjahrir kala itu terus mengusahakan perundingan dengan pihak Belanda. Dia bersikeras agar Belanda mengakui kekuasaan Indonesia secara de facto dan menghentikan pendaratan bala tentaranya ke tanah air. Memang sejak dari perundingan di Hooge Veluwe tidak ada usulan baru yang diajukan Sjahrir, tetap pada persoalan hubungan baik antar dua negara berdaulat.

Dan usul perundingan antara Sjahrir dengan pihak Belanda diberitakan secara seenaknya oleh pers Belanda di Jakarta, sehingga terjadi salah persepsi di antara para pembaca. Pemerintah Sjahrir pun dituduh oleh rakyatnya sendiri telah menjual negara kepada Belanda.

Sikap Sjahrir tersebut dinilai oleh sejumlah pihak sebagai sikap yang lemah. Dia dianggap tidak tegas dalam mendukung upaya kemerdekaan. Mohammad Hatta dalam otobiografinya Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi menyatakan dirinya pernah mencoba untuk mengendalikan suasana dengan memberi penjelasan tentang isi usul balasan Indonesia pada sebuah rapat raksasa di Yogyakarta.

Namun tokoh-tokoh seperti Mr Soebardjo, Chaerul Saleh, Iwa Kusumasumantri, dan Dr Buntaran tetap menilai Sjahrir perlu “diamankan” agar proses melepaskan diri dari Belanda dapat berjalan lancar. Kelompok yang tergabung dalam Persatuan Perjuangan ini dikenal sebagai oposisi pada era Kabinet Sjahrir. Mereka menginginkan Indonesia bebas sepenuhnya, tanpa intervensi Belanda sedikitpun. Dan penangkapan Sjahrir diyakini dapat mengubah politik diplomasi terhadap Belanda.

Hal ini memicu banyak ketidakpuasan kelompok mengenai hasil politik dengan pemerintah Belanda malah membuat suhu perpolitikan Indonesia menjadi panas. Oposisi kecewa karena diplomasi yang dipimpin Perdana Menteri Sutan Sjahrir hanya mampu membuat Belanda memenuhi wilayah Indonesia sebatas Jawa dan Madura saja.

Baca Juga:   Sejarah 19 September: Rapat Raksasa Ikada dan Pidato Bung Karno yang Membakar Semangat

Lalu kemudian santer muncul kabar bahwa tokoh-tokoh yang tergabung dalam kelompok Persatuan Perjuangan akan menculik Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Lalu pada 23 Maret 1946, sejumlah tokoh pun ditangkap. Diantara adalah Tan Malaka, Ahcmad Soebardjo, dan Sukarni. Lalu pada 27 Maret 1946, Perdana Menteri Sutan Sjahrir dan beberapa anggota kabinet diculik oleh orang tak dikenal. Lalu di kemudian hari diketahui bahwa dalang penculikan adalah Walikota Jenderal RP Sudarsono.

Infografis: Bosscha.id

Salah satu orang kepercayaan Sjahrir, Soebadio Sastrosatomo, mengisahkan tentang bagaimana awal mula terjadinya penangkapan terhadap sang perdana menteri. Menurut pemaparannya, penangkapan ini terjadi di Javasche Bank, Solo. Saat itu dirinya sedang bersama dengan Sjahrir, Menteri Dalam Negeri Dr Sudarsono, Soemitro Djojohadikusumo, Mayjen Sudibjo, dan Darmawan Mangunkusumo. Sjahrir yang baru pulang dari Jawa Tengah, menginap di Javasche Bank. Sementara Soebadio sendiri telah lebih dahulu berada di Solo.

Sekira pukul 11.16 malam, kata Soebadio, Mayor AK Yusuf bersama empat orang masuk ke dalam gedung Javasche Bank. Sambil menodongkan senjata, mereka memaksa Sjahrir untuk ikut ke dalam mobil yang telah mereka siapkan. Sang perdana menteri sempat protes dan berdebat dengan nada keras. Namun ancaman senjata akhirnya membuat Sjahrir tak berdaya. Akhirnya rombongan itu menuruti apa kemauan AK Yusuf. Menurut pengakuannya pula, ternyata tidak semua orang berhasil diamankan. Soebadio dan Sudarsono yang melihat gelagat aneh sesaat setelah perdebatan dimulai segera pergi melepaskan diri.

Menurut Sejarawan Ricklefs, setelah mendengar kabar penculikan Sjahrir, Sukarno pun berusaha secepatnya membuat siaran radio. Baginya kejadian itu merupakan peristiwa yang dapat membahayakan persatuan bangsa. Untuk itu, demi menjaga pemerintahan tetap berjalan baik, Sukarno langsung melakukan pengambilalihan kekuasaan.

Pada 28 Juni pemerintahan RI di Yogyakarta belum mengetahui dengan jelas lokasi penahanan Sjahrir. Sukarno lalu melakukan siaran radio pada malam 29 Juni. Dia sangat mengecam aksi orang-orang yang melakukan penculikan tersebut. Sukarno juga menuntut pembebasan secepatnya.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password