Penting! Ini Cara Kendalikan Rasa Cemas Berlebihan Saat Pandemi Corona

Pandemi Corona berdampak pada psikologis sehingga menimbulkan rasa takut yang berlebihan (Shutterstock)

Bosscha.id – Wabah virus corona yang masuk ke Indonesia, tidak bisa dipungkiri telah menyebabkan kecemasan di kalangan masyarakat. Bahkan Presiden Joko Widodo juga telah mengakui bahwa pihak pemerintah sengaja tak banyak membuka informasi penanganan corona agar warga tak semakin cemas.

Namun, masifnya berita yang beredar tentang corona di internet ditambah lagi dengan serangan berita hoax di media sosial tak ayal membuat kecemasan dan kepanikan warga makin menjadi-jadi. Mengikuti perkembangan tentang virus corona memang penting untuk kewaspadaan. Namun jika terus-menerus terpapar informasi, baik yang terpercaya maupun tidak, juga dapat membuat seseorang menjadi lebih stres.

Orang yang sebelumnya sudah mengalami gangguan mental adalah kelompok yang mungkin paling rentan terkena dampak psikis dari krisis pandemi ini. Begitu pula dengan anak-anak dan orang-orang yang turun langsung di lapangan untuk menghadapi virus corona, khususnya dokter atau tenaga kesehatan lain.

Efek fisik maupun psikologis yang bisa muncul meliputi rasa takut dan khawatir berlebihan terhadap kesehatan diri sendiri maupun orang-orang tercinta, perubahan pola tidur dan pola makan, serta memburuknya masalah kesehatan yang sudah ada.

Seperti dilansir goodhousekeeping.com, perasaan cemas dalam menanggapi sesuatu termasuk sifat alami tubuh, hal tersebut normal, kata profesor psikiatri di Weill-Cornell School of Medicine New York-Presbyterian Hospital, Gail Saltz, M.D.

“Karena saat ini ada banyak hal yang menimbulkan kecemasan. Ini adalah evolusi, normal, dan sehat untuk memiliki kecemasan dalam reaksi terhadap sesuatu, dengan tingkat kepedulian yang sesuai,” kata Saltz. Namun dia mengingatkan jika seseorang mengalami kecemasan berlebihan yang mengganggu fungsi organ tubuh, maka sebaiknya berkonsultasi ke ahli medis.

Infografis: Bosscha.id

Namun jangan dulu terburu-buru. Jika kecemasan telah berubah menjadi ketakutan, perasaan tidak berdaya, atau panik dalam kehidupan sehari-hari, Anda bisa menenangkan diri sambil tetap mendapat informasi yang memadai. Dan berikut ini bosscha.id akan berbagi cara tentang bagaimana caranya mengendalikan kecemasan yang dikutip dari berbagai sumber.

Jangan Menangkal Perasaaan Cemas

Joseph McNamara, Ph.D., co-direktur Pusat OCD, Anxiety and Disorders dari University of Florida mengatakan, mencoba menangkal perasaan cemas itu tidak akan membantumu mengelola stres. “Kecemasan membantu kita untuk bersiap dan aman. Jika kita tidak memiliki kecemasan sebelum ujian, kita tidak akan belajar,” katanya.

Megan Barthle-Herrera, Ph.D., asisten profesor di departemen UF psikiatri. Jeffrey Cohen, Psy.D, seorang psikolog klinis di departemen psikiatri di Irving Medical Center, Columbia University, juga mengatakan, dengan menyadari kecemasan, itu dapat membantu diri bersiap lebih baik. “Semakin kita tidak mau menerima kecemasan, semakin banyak kecemasan kita meningkat, jadi berlatihlah membiarkan kecemasan hadir, dan mengingatkan dirimu sendiri bahwa boleh saja merasa cemas,” katanya.

Baca Juga:   Lima Strategi Pembangunan Era Aa Umbara dan Hengki Kurniawan

Jangan Fokus Hanya Pada Berita dan Informasi Negatif

Kasus Covid-19 ini memang telah mencapai lebih dari 100.000 di dunia. Namun cobalah jangan hanya fokus pada berita negatifnya saja. Fakta bahwa tingkat pemulihan untuk Covid-19 saat ini jauh melebihi angka kematiannya, menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia WHO. Pikiran cemas itu cenderung memperhatikan informasi negatif, jadi pastikan juga Anda fokus dan memperhatikan berita positif tentang Covid-19 ini, seperti pengalaman dari orang-orang yang telah sembuh dan pulih dari wabah virus ini.

Batasi Hubungan Dengan Media Sosial
sepenuhnya bergantung pada berita di media sosial sebagai sumber informasi tentang Covid-19 malah akan meningkatkan kecemasan. Perlu digarisbawahi bahwa tak menutup kemungkinan ada juga banyak informasi yang salah di sana. Karena tak menutup kemungkinan ada beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan isu ini untuk berbagai kepentingan, yang menggunakan media sosial sebagai alatnya. Sebaiknya kita sebagai masyarakat hanya menerima informasi dari media-media yang kredibel, dari kementerian kesehatan atau WHO atau ahli epidemiologi kesehatan masyarakat yang terpercaya.

Konsumsi Makanan yang Sehat dan Tidur Tepat Waktu

Konsumsi makanan sehat itu penting, dan terutama hindari konsumsi alkohol. “Saya telah melihat lelucon tentang anggur di kanan dan kiri di media sosial, tetapi penting untuk memahami bahwa pada kenyataannya, alkohol adalah sumber depresi,” kata Dokter Saltz. Dokter Saltz mengingatkan bahwa berusaha menjaga pola tidur akan benar-benar meningkatkan kemampuan tubuh untuk mengatasi stres di siang hari.

Tetap Berpikir positif

Mungkin ini terdengar klise, tapi menghadapi krisis dengan pikiran negatif tidak akan membuat diri Anda lebih tenang, bukan?

Ada banyak cara yang bisa Anda lakukan untuk memelihara pikiran positif. Mulai dari memberikan sugesti positif pada diri sendiri, lebih berfokus pada hal-hal baik dan menyenangkan dalam hidup, serta berbagi cerita dan canda dengan orang-orang tercinta maupun orang-orang yang membuat Anda lebih semangat.

Stres dan krisis emosional lainnya juga tidak boleh dianggap remeh. Jika Anda atau orang-orang terdekat mengalami gangguan kesehatan mental terkait pandemi corona yang sedang berlangsung, Anda disarankan untuk menghubungi pihak yang dapat membantu, seperti psikolog. Menghadapi wabah corona tanpa terpancing kepanikan maupun virus anxiety, niscaya dapat membantu Anda menjaga kesehatan mental dan fisik di tengah krisis kesehatan global ini.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password