Sejarah 24 Maret: Terjadinya Peristiwa Bandung Lautan Api, yang Membuat Bandung Terbakar Hangus

Pembumihangusan merupakan jalan tengah daripada menyerahkan Kota Bandung pada sekutu (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Hari ini 74 tahun yang lalu, tepatnya pada 24 Maret 1946 kobaran api dari pemukiman warga dan sejumlah bangunan di kota Bandung yang sengaja dibakar dan peristiwa itu, kini kita kenal sebagai Bandung Lautan Api.

Revolusi merebak di berbagai daerah sejak Agustus 1945. Para pemuda bergerak, melucuti serdadu Jepang yang kalah di beberapa daerah. Bandung Lautan Api merupakan salah satu rangkaian kobaran revolusi itu.

Revolusi juga berlangsung membabi buta. Di Depok, Jakarta, dan Bandung, segala hal berbau Belanda menjadi korban amuk massa. Itulah masa orang-orang Belanda ketakutan terhadap pribumi. Periode itu dikenal sebagai “Masa Bersiap”.

Peristiwa Bandung Lautan Api itu bermula ketika Belanda dan Sekutu datang ke Bandung tanggal 12 Oktober 1945. Mereka ingin merebut kembali wilayah-wilayah Indonesia dengan cara melucuti senjata Tentara Keamanan Rakyat (TKR), laskar-laskar pejuang, milisi Indonesia, tentara Jepang dan membebaskan tawanan Eropa Belanda.

Kehadiran sekutu di Kota Kembang ini mendapat sambutan kurang ramah dari para pejuang. Sejumlah pertempuran sempat terjadi diantaranya peretmpuran Cihargeulis, Sukajadi, Pasirkaliki, viaduct (jembatan di atas jalan) dan balai kereta api.

Geram dengan sikap rakyat Bandung yang enggan meletakan senjata, tentara sekutu di bawah komando Kolonel McDonald memberi ultimatumnya yang kedua pada tanggal 23 Maret 1946 agar Bandung selatan segera dikosongkan oleh milisi serta rakyat sipil.

Sebetulnya seruan itu telah jauh-jauh hari digembar-gemborkan oleh Belanda dan Sekutu melaui selebaran kertas yang jatuhkan oleh pesawat Dakota milik RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris), yang berisi: “Para ekstrimis Indonesia harus mengosongkan Bandung selambat-lambatnya pada 24 Maret 1946, jam 24.00 dan mundur sejauh 11 km dari tanda kilometer nol”.

Mendapat ultimatum tersebut para pejuang Bandung yang tergabung dalam TRI (Tentara Republik Indonesia), laskar-laskar, dan ribuan rakyat lainnya geram dan dengan tegas menolak menyerahkan tanah tumpah darah kepada Belanda.

Terkait ultimatum itu, Pemerintah Republik Indonesia melaui Perdana Menteri Sutan Sjahrir dan Komandan Divisi III TRI, Kolonel AH Nasution, menyarankan agar para pejuang Bandung memenuhi ultimatum Sekutu.

AH. Nasution sempat bicara soal opsi mempertahankan atau menyerahkan kota Bandung pada Perdana Menteri Sutan Syahrir. Syahrir begitu pesimistis akan kekuatan TKR, yang baru berganti nama menjadi TRI pada 26 Januari 1945. Bagi Syahrir, TRI tak akan bisa menghadapi Tentara Sekutu. Senjata TRI sangat sedikit. Syahrir yang tak suka kekerasan dan tak suka melihat darah, menekan Nasution untuk menerima ultimatum agar Bandung dikosongkan.

Syahrir berusaha membebaskan Indonesia dari tekanan militer negara Adidaya Inggris dengan menampilkan wajah Republik Indonesia sebagai pemerintahan yang beradab dan cinta damai. Syahrir pun ikut melobi agar Jenderal Inggris mau meminjamkan 100 truk untuk mengeluarkan orang-orang Indonesia dari Bandung. Tawaran truk itu ditolak Kolonel Nasution.

Infografis: Bosscha.id

Karena sejatinya, Nasution dan para perwira lainnya enggan menyerahkan Bandung. Namun, dia harus taat apa kata perdana menteri. Sebagai perwira profesional, dengan pengalaman di KNIL juga, sudah seharusnya Nasution tunduk pada apa kata pemerintah. Nasution lalu melakukan rapat bersama pimpinan militer Indonesia lainnya. Mereka sepakat tidak mempermudah kehadiran Tentara Sekutu di Bandung.

Baca Juga:   Sejarah 28 Maret: Pesawat 'Woyla' Milik Garuda Indonesia dibajak Oleh Kelompok Ekstrimis

Perintah Syahrir sebagai Perdana Menteri tetap ditaati, tetapi diputuskan bahwa akan ada Operasi pembakaran Bandung. Dan ini dikatakan sebagai operasi “bumihangus”. Keputusan untuk membumihanguskan kota Bandung diambil lewat musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoangan Priangan (MP3), yang dilakukan di depan seluruh kekuatan perjuangan pihak Republik Indonesia, tanggal 23 Maret 1946.

Hasil musyawarah itu lalu diumumkan oleh Kolonel Abdul Haris Nasution sebagai Komandan Divisi III TRI. Ia juga memerintahkan evakuasi Kota Bandung. Lalu, hari itu juga, rombongan besar masyarakat Bandung mengalir. Pembakaran kota berlangsung malam hari sambil para penduduknya pergi meninggalkan Bandung.

Pembumihangusan jadi jalan tengah bagi Nasution. Dia dan orang Indonesia lainnya keluar dari Bandung, seperti perintah Syahrir tapi dengan membakar kota yang ditinggalkannya itu. Perintah Syahrir ditaati dan Bandung dibiarkan lepas begitu saja karena sudah jadi lautan api. Itu lebih baik ketimbang menyerahkan Kota Bandung begitu saja pada Tentara Sekutu. Sekutu tidak boleh dapat manfaat apapun dari kota Bandung karena sudah terbakar.

Dan pembakaran Bandung mulai dilaksanakan dini hari pada 24 Maret 1946. Rakyat sipil akan langsung diungsikan hari itu juga. Namun, ada yang memulai sejak pukul 21.00 tanggal 23 Maret 1946. Gedung pertama yang dibakar adalah Bank Rakyat. Lalu sekitar Banceuy, Cicadas, Braga dan Tegallega pun dibakar. Asap pun membumbung tinggi, hingga terlihat di luar kota.

Di dalam kondisi genting ini, tentara Inggris juga menyerang sehingga pertempuran sengit tidak terhindarkan. Pertempuran terbesar berlangsung di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung. Di tempat inilah adanya gudang amunisi besar milik Tentara Sekutu.

Rupanya, pejuang Indonesia Muhammad Toha serta Ramdan, dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) memperoleh misi penghancurkan gudang amunisi itu. Muhammad Toha berhasil meledakkan gudang senjata itu dengan dinamit. Walau demikian, kedua milisi itu turut terbakar di dalam gudang besar yang diledakkannya itu.

Awalnya, staf pemerintahan kota Bandung merencanakan untuk tetap berada di dalam kota. Akan tetapi, untuk keselamatan mereka, maka pukul 21.00 itu, mereka juga turut dalam rombongan yang dievakuasi dari Bandung. Dan sekitar pukul 24.00, Bandung kosong dari masyarakat serta TRI. Sementara, api masih membubung membakar kota, hingga Bandung menjadi lautan api.

Strategi operasi bumihangus ini merupakan strategi yang tepat karena kekuatan TRI serta milisi rakyat memanglah tak sebanding dengan kekuatan pihak Sekutu serta NICA yang besar. Sesudah peristiwa Bandung Lautan Api tersebut, lalu TRI bersama dengan milisi rakyat melakukan perlawanan dari luar Bandung lewat cara bergerilya.

Cerita heroik terkait dengan bumi hangus kota Bandung oleh Nasution dan kawan-kawan itu belakangan melahirkan lagu perjuangan Halo Halo Bandung, yang masih diperdebatkan siapa penciptanya. Sementara kisah Mohamad Toha dan kawannya Ramdan yang jadi martir dalam peledakan gudang mesiu Tentara Sekutu, difilmkan Usmar Ismail dengan judul: Toha Pahlawan Bandung Selatan.

Jejak-jejak perjuangan mempertahankan Bandung masih ada hingga kini. Mereka hadir sebagai pengingat atas jasa para pejuang yang tidak rela Bandung jatuh ke tangan penjajah.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password