Sejarah 21 Maret: Wafatnya Nurtanio Pringgoadisuryo, Sang Pelopor Industri Penerbangan Indonesia

Atas jasanya Nurtanio dimuat sebagai portrait yang terpampang di perangko (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Pada masa kepemimpinan Sukarno, Indonesia pernah mempunyai Nurtanio Pringgoadisuryo, salah satu putera terbaiknya dalam dunia kedirgantaraan. Nurtanio termasuk segelintir orang Indonesia yang terobsesi untuk terbang. Bukan sekadar terbang sebagai pilot, tapi juga membuat pesawatnya.

Sejak masih duduk di bangku sekolah, dia sudah berlangganan majalah penerbangan Vliegwereld. Dia tidak sulit memahami bacaan berbahasa Belanda, karena itu adalah bahasa pengantarnya di sekolah (ELS dan MULO). Minatnya pada pesawat ditunjang dengan pendidikan formalnya. Di zaman Jepang, Nurtanio belajar teknik di Kogyo Senmon Gakko, Surabaya. Selain itu dia pernah aktif di Junior Aero Club (JAC) demi memuaskan minat pada penerbangan ketika masih sekolah.

Di JAC, Nurtanio dan sahabatnya, R.J Salatun, juga bertemu dengan guru olahraga yang bernama Iswahyudi yang juga memiliki pengetahuan terkait masalah penerbangan, yang ketika perang dunia II pecah, sedang mengikuti pendidikan penerbang militer Belanda yang kemudian diungsikan ke Australia.

Perhatian Nurtanio pada masa itu tidak hanya dalam masalah pesawat model tetapi bahkan menekuni buku-buku teknik penerbangan yang saat itu banyak berbahasa Jerman serta sudah menekuni dan menggambar rancangan glider atau pesawat layang type Zogling yang merupakan obsesinya.

Setelah Indonesia merdeka, Nurtanio termasuk pemuda yang ikut serta masuk Angkatan Udara Republik. Bersama Wiweko Supono, yang sama-sama doyan membuat pesawat, Nurtanio ditempatkan di Biro Rencana dan Konstruksi Angkatan Udara di Maospati, Madiun.

Tugas dari biro ini diantaranya adalah mengadakan perbaikan, perawatan, dan pembuatan pesawat mandiri dengan bahan-bahan yang ada. Kala itu Republik Indonesia sangat sulit mendapatkan mesin dan bahan-bahan lain untuk membuat pesawat. Apalagi Angkatan Laut Belanda mengadakan blokade laut yang menyulitkan.

Pada masa awal Revolusi, dengan dibantu teknisi-teknisi AURI, Wiweko dan Nurtanio berhasil membuat pesawat glider bernama Zogling NWG. Di bawah perwira-perwira macam Nurtanio dan Wiweko, sebenarnya terdapat teknisi-teknisi AURI yang juga ahli pesawat, tapi kurang dikenal dalam sejarah. Salah satunya Achmat bin Talim—pemuda Sunda kelahiran 1910—yang pernah bekerja di penerbangan KNIL dan pernah ikut membuat pesawat kayu PK-KKH pesanan pengusaha roti di Bandung.

Dan sejarah pun mencatat gebrakan pertama biro AURI yang dipimpin Nurtanio ini adalah pesawat olahraga berkursi tunggal dengan mesin silinder Harley Davidson berkekuatan 15 pk yang dinamai Nurweko dengan registrasi RI-X pada 1947.

Kawan-kawan lain di AURI yang juga “gila” dalam membuat pesawat adalah Yum Sumarsono. Di masa Revolusi dia bekerja keras dengan swadaya dan bantuan kawan membuat helikopter berbekal mesin BMW 500cc 24 pk. Usaha sulit ini lalu tergagalkan oleh Agresi Militer II.

Sekitar tahun 1948, Nurtanio dengan kedua rekan lainnya kemudian ditugaskan ke Manila, Filipina untuk melanjutkan studi kedirgantaraannya di FEATI (Far Eastern Air Transport Incorporated ). Dan pada 1959, FEATI memberi penghargaan kepada alumninya asal Indonesia, yaitu Nurtanio Pringgoadisurjo, berupa Distinguish Achievement Medal. Penghargaan disematkan Wakil Presiden FEATI G.Y. Zara.

Baca Juga:   Sejarah 28 Maret: Pesawat 'Woyla' Milik Garuda Indonesia dibajak Oleh Kelompok Ekstrimis

Nurtanio dan kawan-kawan terus membuat pesawat percobaan. Di antaranya adalah Si Kumbang, Kunang-kunang, Belalang, dan lainnya. Si Kumbang pertama kali terbang pada 1 Agustus 1954 dan terus disempurnakan.

Dan pada 1958 Nurtanio menciptakan pesawat latih Belalang untuk pendidikan penerbangan. Dia menguji terbang pada 26 April 1958. Dia memperbaiki kekurangan-kekurangannya sehingga kecepatannya mencapai 144 km per jam.

Setelah itu, tiga Belalang diproduksi dan dikirim ke sekolah penerbangan AU di Yogyakarta, Tangerang, dan sekolah penerbangan AD di Semarang. Pada tahun yang sama, Nurtanio juga menciptakan pesawat Si Kunang untuk olahraga. Pesawat berbadan kayu ini menggunakan mesin Volkswagen 25HP berkapasitas 1190cc. Eksperimen Nurtanio berlanjut dengan beberapa pesawat ciptaannya seperti Gelatik, Benson (gyrocopter), dan helikopter Kepik.

Dan berbagai pencapaian itu berbanding lurus dengan kariernya. Setahun setelah pulang dari Filipina, dia memegang berbagai jabatan: mulai dari kepala Djawatan Tehnik Udara sampai anggota Dewan Perancang Nasional. Bersama beberapa perwira AURI lain, seperti Wiweko Soepono dan Halim Perdanakusuma serta dibantu Prof. Rooseno, dia membenahi tata kepangkatan AURI. Atas pencapaian-pencapaian itu, Kementerian Pertahanan memberinya penghargaan pada 17 Februari 1959.

Sewaktu Menteri/KSAU Suryadi Suryadarma membentuk Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (Lapip) pada 1 Agustus 1960, Nurtanio menjadi salah satu pendirinya. Bersama perwira-perwira lain dari berbagai angkatan, dia juga dipercaya membesarkan Panitia Industri Angkatan Perang yang didirikan KASAB Nasution.

Infografis : Bosscha.id

Nurtanio merintis kerjasama dengan berbagai pihak, yang terpenting dengan CEKOP, pabrik pesawat terbang Polandia. Kontrak kerjasama itu berjalan setelah pemerintah membentuk Komando Pelaksana Proyek Industri Pesawat Terbang (Kopelapip) –terdiri dari Lapip dan PN Industri Pesawat Terbang Berdikari– pada 1965.

Kesepakatan dalam kontrak kerjasama itu meliputi pembangunan pabrik, pelatihan karyawan, dan lisensi produksi pesawat PZL-104 Wilga. Selain dengan CEKOP, Kopelapip juga bekerjasama dengan Fokker, perusahaan pesawat terbang Belanda. Kopelapip memproduksi pesawat Gelatik, nama Indonesia PZL-104 Wilga yang diberikan Presiden Sukarno, sebanyak 44 unit.

Meski mengotaki beberapa pesawat buatan dalam negeri, Nurtanio tetap rajin menerbangkan pesawat. Bahkan, dia bercita-cita terbang nonstop Sabang-Merauke. Dan dalam uji coba penerbangan pesawat Super Aero-45 bermesin ganda buatan Cekoslovakia, Nurtanio dan Supadio jatuh di Bandung, saat baru tiga menit di udara pada 21 Maret 1966 tepat hari ini 54 tahun yang lalu.

Insiden ini terjadi karena satu mesin tiba-tiba mati sehingga pesawat kehilangan tenaga. Pesawat menghantam bangunan dan pecah berkeping-keping. Nurtanio dan Soepadio tewas seketika. Dunia penerbangan kehilangan dua pionir penerbangannya. B.J. Habibie, yang  dipercaya pemerintahan Suharto untuk mengembangkan industri penerbangan, kemudian mengabadikan nama Nurtanio untuk lembaga yang dipimpinnya: Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (LIPNUR).

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password