Sejarah 20 Maret: Lahirnya Sang Maestro Sastra Sapardi Djoko Damono

Sajak Sapardi ramai menghiasi kartu undangan pernikahan (Bosscha.id)

Bosscha.id – Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono merupakan seorang sastrawan, mantan Dekan Fakultas Sastra UI, penerjemah, juri berbagai sayembara penulisan, lomba baca puisi, dan festival teater.

Pria kelahiran Surakarta pada 20 Maret 1940 ini dikenal lewat beragam puisi-puisinya yang memakai kata-kata sederhana, namun memiliki makna yang sama sekali tidak sederhana. Ia menulis puisi-puisinya dalam buku fenomenal, Hujan Bulan Juni. Hal ini lah yang membuat banyak karyanya menjadi populer, baik di kalangan sastrawan ataupun khalayak umum.

Sejak masih duduk di bangku SMA, Sapardi sudah tekun membuat puisi. Salah satu sajaknya yang ia tulis sewaktu umur 17 tahun sudah dijadikan sajak wajib dalam pertemuan Kesenian Nasional Indonesia sampai tiga kali.

Meski usianya sudah senja, namun tak mengendurkan semangat Pak Sapardi masih besar. Terbukti hingga kini masih tetap produktif menghasilkan karya-karya sastra dan sempat mengajar di program pascasarjana Institut Kesenian Jakarta.

Terhitung sejak tahun 1969 hingga saat ini, Pak Sapardi tercatat sudah merilis pulihan buku kumpulan sajak. Beberapa di antaranya, ‘Duka-Mu Abadi’, ‘Mata Pisau’, ‘Akuarium’ dan yang terbaru ‘Melipat Jarak dan Babad’.

Sajak-sajaknya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Hindi, Jepang, Tiongkok, Prancis, Inggis, dan lainnya. Sajak-sajaknya yang meraih berbagai penghargaan di bidang sastra ini juga telah dikutip untuk undangan pernikahan, kalender, poster, t-shirt, blocknote, bahkan sajak-sajak Sapardi telah dimusikalisasi dan diadopsi menjadi film.

Masa muda Sapardi dihabiskan di Surakarta (lulus SMP Negeri 2 Surakarta tahun 1955 dan SMA Negeri 2 Surakarta tahun 1958). Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Dan kesukaannya menulis ini semakin berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sapardi pun sempat bekerja sebagai dosen tetap, Ketua Jurusan Bahasa Inggris, IKIP Malang Cabang Madiun, tahun 1964—1968. Dia diangkat sebagai dosen tetap di Fakultas Sastra-Budaya, Universitas Diponegoro, Semarang, tahun 1968—1973.

Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, Dia menjabat Pembantu Dekan III, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia tahun 1979—1982. Lalu diangkat sebagai Pembantu Dekan I pada 1982—1996 dan akhirnya menjabat Dekan pada 1996—1999 di fakultas dan universitas yang sama. Pada masa tersebut Ia juga menjadi redaktur pada majalah “Horison”, “Basis”, dan “Kalam”.

Pada tahun 1989 Sapardi Djoko Damono memperoleh gelar doktor dalam ilmu sastra dengan disertasi yang berjudul “Novel Jawa Tahun 1950-an: Telaah Fungsi, Isi, dan Struktur”. Dan pada tahun 1995 ia dikukuhkan sebagai guru besar di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.

Spardi pun memasuki masa pensiun sebagai guru besar Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia tahun 2005, tetapi masih diberi tugas sebagai promotor konsultan dan penguji di beberapa perguruan tinggi, termasuk menjadi konsultan Badan Bahasa.

Baca Juga:   Sejarah 2 April: Antraks, Senjata Biologis Buatan Uni Soviet Bocor dan Menewaskan Banyak Korban

Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 Sapardi mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima Penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.

Dalam usaha mendukung pengembangan kariernya sebagai sastrawan, Sapardi sering menghadiri berbagai pertemuan internasional. Tahun 1971 ia menghadiri Translation Workshop dan Poetry International, Rotterdam, Belanda.

Pada tahun 1978 itu juga ia menghadiri Seminar on Literature and Social Change in Asia di Australia National University, Camberra, dan sebagai penulis dalam Festival Seni di Adelaide. Pada tahun itu juga ia mengikuti Bienale International de Poesie di Knokke-Heusit, Belgia.

Sejak tahun 1978 Sapardi menjabat Country Editor majalah Tenggara Journal of Southeast Asian Literature, Kuala Lumpur. Sejak 1982 ia tercatat sebagai anggota penyusun Anthropology of Asean Literature, COCI, ASEAN. Tahun 1988 Sapardi menjadi panelis dalam Discussion dan sebagai anggota Komite Pendiri Asean Poetry Centre di Bharat Bhavan, Bhopal, India.

Peranan Sapardi Djoko Damono dalam kehidupan sastra Indonesia sangat penting. A. Teeuw dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989) menyatakan bahwa Sapardi adalah seorang cendekiawan muda yang mulai menulis sekitar tahun 1960.

Ada perkembangan yang jelas terlihat dalam puisi Sapardi, terutama dalam hal susunan formal puisi-puisinya. Oleh sebab itu, sudah barang tentu sangat perlu mengikuti jejak Sapardi dalam tahun-tahun mendatang. Dia seorang penyair yang orisinil dan kreatif, dengan percobaan-percobaan pembaharuannya yang mengejutkan, tetapi dalam segala kerendahan hatinya, boleh jadi menjadi petunjuk tentang perkembangan-perkembangan mendatang.

Dalam dunia teater, Sapardi pernah menjadi sutradara menggarap sebuah pentas drama Petang di Taman karya Iwan Simatupang. Ia juga pernah berperan sebagai lakon ketika tergabung dengan Teater Rendra pimpinan W.S. Rendra.

Tatkala menempuh studi di UGM, Sapardi kerap mengisi acara-acara kampus dengan membacakan puisi bersama dengan teman-temannya yang memiliki kecintaan yang sama pada bidang seni.

Pernah juga Sapardi menjadi gitaris ketika belajar di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM. Diceritakan oleh Umar Kayam, ketika menjadi Dekan di Fakultas Sastra UI, Sapardi kerap membawa gitar di kantornya. Namun, dari sekian banyak kemampuan Sapardi dalam bidang seni, ia lebih dikenal sebagai seorang sastrawan lantaran karya-karyanya yang fenomenal.

Banyak pengamat menilai sajak-sajak Sapardi dekat dengan Tuhan dan kematian. “Pada Sapardi, maut atau kematian dipandang sebagai bagian dari kehidupan; bersama kehidupan itu pulalah maut tumbuh,” tulis Jakob Sumardjo dalam harian Pikiran Rakyat, 19 Juli 1984.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password