Sejarah 19 Maret: Lahirnya W.R. Supratman, Sang Pencipta Lagu Kebangsaan Indonesia Raya

Lagu Indonesia Raya berhasil menggelorakan semangat para pejuang (Bosscha.id)

Bosscha.id – Semua orang Indonesia pasti tahu lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’. Lagu yang kerap kali dikumandangkan dalam setiap upacara resmi kenegaraan. Namun pasti ada beberapa orang yang belum mengetahui siapa orangnya yang menciptakan lagu kebangsaan tersebut.

Pencipta lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ itu bernama Wage Rudolf Supratman. Pria kelahiran purworejo pada 19 Maret 1903. Bicara soal tanggal lahir dari pahlawan nasional ini, ternyata sempat menimbulkan perdebatan. Pada masa kepemimpinan Megawati Sukarnoputri menjadi Presiden, Bu Mega menetapkan tanggal 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional, yang dimana hari itu bertepatan dengan hari kelahiran Supratman yaitu 9 Maret 1903.

Namun, Penelusuran yang dilakukan oleh Dwi Rahardja, peneliti dan pembuat film dokumenter Saksi-saksi Hidup Kelahiran Bayi Wage, justru menghasilkan temuan bahwa sang pencipta lagu ‘Indonesia Raya’ itu lahir tanggal 19 Maret 1903. Pendapat ini didukung keluarga Supratman, bahkan dikuatkan dengan keputusan Pengadilan Negeri Purworejo pada 29 Maret 2007. Akan tetapi, entah kenapa tanggal lahir Supratman yang diabadikan sebagai Hari Musik Nasional ini masih diperingati setiap 9 Maret hingga detik ini.

Mengenai lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’, Supratman pertama kali memperkanalkan lagu ini  pada malam penutupan Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 di Batavia. Kongres inilah yang menghasilkan rumusan Sumpah Pemuda, ikrar setia untuk bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu Indonesia, kendati masih di bawah cengkeraman rezim kolonial.

Demi keamanan dan kelancaran acara, tidak ada lirik yang ditembangkan, apalagi dilafalkan bersama-sama. Nada-nada yang terangkai hanya berupa instrumental dengan gesekan biola saja. Walau begitu, semua yang hadir di situ sudah sangat paham bahwa inilah nantinya yang akan menjadi lagu kebangsaan jika Indonesia merdeka.

Itulah pertama kalinya “Indonesia Raya” diperkenalkan meskipun tanpa syair. Atas saran Soegondo Djojopuspito selaku pemimpin kongres, lirik lagu itu sengaja disimpan karena memuat materi yang berpotensi menimbulkan perkara dengan penjajah.

Namun, hadirin nampaknya belum puas. Sebagian besar peserta kongres yang menghasilkan ikrar Sumpah Pemuda itu meminta agar lagu tersebut diperdengarkan lagi, namun kali ini dengan lirik alias dinyanyikan.

Lantaran desakan hadirin, akhirnya disepakati bahwa lagu ‘Indonesia Raya’ akan dinyanyikan dengan sedikit perubahan lirik. Seorang gadis remaja yang turut serta dalam kongres itu didapuk untuk melantunkannya. Ia adalah Dolly Salim.

Nama asli gadis remaja itu adalah Theodora Atia Salim dan akrab dipanggil Dolly Salim. Gadis cerdas ini ternyata adalah putri seorang tokoh intelektual Muslim terkemuka. Ia adalah anak pertama Haji Agus Salim, sang dedengkot pergerakan nasional, mantan anggota Volksraad (dewan rakyat), juga petinggi Sarekat Islam (SI) paling kesohor bersama H.O.S. Tjokroaminoto.

Musik dan Pena Jadi Senjata

Minat Supratman terhadap seni bermula dari kakak dan kakak iparnya yaitu Roekijem dan suaminya, Willem van Eldik, yang memang penyuka musik. Tak jarang, Willem dengan sejumlah teman tentaranya menggelar pertunjukan teater di mes militer mereka di Makassar. Sejak lulus sekolah dasar pada 1914, Supratman sudah ikut kakak perempuannya itu ke Sulawesi.

Lingkaran inilah yang membuat Ia begitu akrab dengan nada-nada. Ia banyak membaca buku tentang musik, juga berlatih biola. Pada 1920, Supratman membentuk grup band bernama Black & White di Makassar yang mengusung aliran jazz. Band ini boleh dibilang salah satu perintis jazz di Indonesia. Tiap akhir pekan, Black & White memainkan musik ala Barat itu untuk mengiringi pesta dansa tuan dan nyonya Belanda kala itu.

Pada tahun 1924, Supratman meninggalkan Makassar dan merantau ke Batavia kemudian ke Bandung. Di kota kembang, ia justru tertarik dengan dunia jurnalistik. Di Bandung Ia bekerja sebagai wartawan di surat kabar Kaoem Moeda yang pernah dipimpin oleh salah seorang dedengkot pergerakan nasional, Abdoel Moeis. Setelahnya, Supratman bekerja untuk surat kabar Sin Po.

Supratman juga mulai menulis buku. Salah satu karyanya yang berjudul “Perawan Desa” disita dan dilarang beredar lantaran dituding bisa menimbulkan keresahan masyarakat serta dianggap menghina pemerintah kolonial.

Baca Juga:   Sejarah 2 April: Antraks, Senjata Biologis Buatan Uni Soviet Bocor dan Menewaskan Banyak Korban

Walaupun sempat menggeluti ranah jurnalistik dan penulisan, tapi bakat bermusik Supratman tidak lantas luntur begitu saja. Justru dengan menjadi wartawan dan sering menulis, pengetahuan dan nalurinya terhadap dunia musik semakin kuat dan kian berbobot.

Suatu hari, Ia pernah membaca artikel di majalah Timboel yang isinya menantang ahli-ahli musik Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan. Dari sanalah Supratman tertantang untuk menulis lirik lagu dalam bahasa Melayu yang baik. Karena pada dekade kedua abad ke-20 itu, bahasa Belanda lebih dominan digunakan dan banyak dipelajari ketimbang bahasa negeri sendiri.

Supratman pun mulai menggubah nada dan syair hingga akhirnya terangkailah untaian lirik sarat semangat nasionalisme dengan balutan aransemen yang menggugah kalbu. Itulah lagu “Indonesia Raya” yang dirampungkan Supratman pada 1924, dan pertama kali dirilis ke publik pada penutupan Kongres Pemuda ke-II tanggal 28 Oktober 1928.

Gugur Sebelum Merdeka

Beberapa hari setelah deklarasi Sumpah Pemuda, suratkabar Sin Po—tempat di mana Supratman bekerja sebagai jurnalis—mengulas tuntas tentang kongres tersebut. Bahkan, lirik lagu “Indonesia Raya” dimuat dengan jelas. Sin Po kala itu memang dikenal sebagai koran milik peranakan Tionghoa yang mendukung penuh upaya kemerdekaan bangsa Indonesia.

Nama Supratman pun menjadi buah bibir karena semua orang akhirnya tahu bahwa ia adalah penyusun aransemen serta lirik lagu yang menggugah semangat kebangsaan itu. Terlebih pada 1929, “Indonesia Raya” direkam dalam piringan hitam dan disebarluaskan ke publik.

Selain ‘Indonesia Raya’ Supratman juga menciptakan beberapa lagu nasionalis lainnya, termasuk ‘Ibu Kita Kartini’. Karya-karya Supratman saat itu sangat populer di kalangan aktivis pergerakan karena bernafaskan semangat perjuangan. Ia kerap diminta menciptakan lagu-lagu mars untuk partai atau organisasi yang memang sedang menjamur saat itu.

Dan di ranah pergerakan, aksi Supratman semakin kuat. Ia pernah bergabung dengan sejumlah partai politik seperti Partai Nasional Indonesia (PNI) pimpinan Sukarno, Partai Indonesia (Partindo) pimpinan Sartono, hingga Partai Indonesia Raya (Parindra) yang digagas Dr. Soetomo.

Ia adalah satu dari sedikit orang Indonesia yang mampu menggelorakan semangat kebangsaan lewat musik. Di sisi lain, sepak-terjang Soepratman justru membahayakan dirinya sendiri. Pergerakannya selalu diawasi oleh jejaring kolonial, bahkan ia menjadi salah satu orang yang paling dicari oleh polisi Hindia Belanda ketika itu.

Dan pada Awal Agustus 1938, maut semakin dekat mengintai Supratman, usai menciptakan karya terakhirnya berjudul “Matahari Terbit”. Ia ditangkap pada saat menyiarkan lagu tersebut bersama bersama kaum muda di Surabaya. Lalu Ia pun dikurung di rumah tahanan. Dan Wage Rudolf Supratman meninggal dunia tanggal 17 Agustus 1938, tepat 8 tahun sebelum kemerdekaan republik indonesia. Ia wafat di usia yang masih muda, 35 tahun.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password