Budi Dalton, Tukang ‘Ngobat’ yang Masih Memegang Kuat Adat Istiadat

Lewat talkshow NGOBAT, Budi Dalton menghadirkan bintang tamu yang jarang diekspos sebelumnya (Ilustrasi : Bumper Ngobat)

Bosscha.id – Nama Budi Dalton tentu sudah tak asing lagi di telinga kita, sosok Budayawan Sunda satu ini sudah dikenal banyak orang di seantero negeri. Selain dikenal sebagai seorang Budayawan, pria yang bernama asli Budi Setiawan Garda Pandawa ini juga merupakan seorang dosen, aktor, host, dan juga musisi.

Selain itu, Budi Dalton juga aktif di komunitas motor tua Brotherhood, dan tercatat pernah menjabat sebagai pucuk pimpinan tertinggi yaitu ‘El Presidente’ di komunitas tersebut. Di Brotherhood dan di kalangan para bikers lainnya nama Budi Dalton cukup disegani. Ia disegani bukan karena sosoknya yang terkesan “menyeramkan” dengan tubuh yang dipenuhi tato. Namun yang membuat Budi Dalton disegani adalah oleh karena ketajaman ilmunyalah yang membuat ia disegani.

Tak hanya di kalangan bikers saja, bahkan di kalangan seniman, budayawan dan para pelaku seni lainnya pun Budi begitu disegani. Tumbuh dan besar di lingkungan yang kental akan seni, berhasil menjadikannya sebagai sosok yang patut diperhitungkan.

Pada awal tahun 80-an Budi Dalton sudah aktif bergabung di Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB) asuhan Alm. Harry Roesli. Di DKSB Budi, aktif sebagai pemain perkusi, yang menjadi gerbang awal karirnya di dunia seni dan dunia akademis.

Pada medio tahun 90-an, Budi Dalton sempat menjadi drummer sejuta band. Saat itu di Bandung banyak sekali cafe yang terdapat live music  di dalamnya, dan jika band-band pengisi acara di cafe tersebut drummernya berhalangan hadir, pasti Budi Dalton lah yang mengisi kekosongan di posisi itu.

Hampir semua band Bandung di era itu pasti pernah memakai “jasa” Budi Dalton untuk posisi drumm, seperti Brown Sugar, T Five, KSP, M.E, Project Pop, Rida Sita Dewi, dan masih banyak yang lainnya.

Dan terjunnya Budi Dalton di dunia akademis dimulai pada tahun 1999, saat pertama kali didirikannya fakultas musik di Universitas Pasundan (Unpas), dengan Alm. Harry Roesli di sana Budi Dalton menjadi dosen luar biasa. Setelah itu Dalton sempat berhenti mengajar di Unpas selama kurang lebih 5 tahun. Dan kembali lagi setelah “diamanati” oleh Alm. Harry Roesli yang kala itu sedang sakit, untuk mengajar lagi di Unpas.

Bicara soal budaya dan adat istiadat, Budi Dalton pun termasuk salah satu orang yang concern terhadap keberlangsungan dan kelestarian nilai-nilai dari kebudayaan dan adat istiadat khususnya sunda. Terbukti, Budi Dalton adalah salah satu orang yang masih intens melakukan berbagai hal yang bersinggungan dengan budaya dan adat istiadat leluhurnya.

Budi Dalton memiliki pemahaman bahwa salah satu cara untuk melumpuhkan sebuah bangsa adalah dengan cara menghancurkan bahasanya, sejarahnya dan budayanya. Dan dewasa ini, bahasa sunda kan hancur, karena mulai dilupakan. Dan upaya-upaya penghancuran sejarah dan budaya Nusantara umumnya dan sunda khususnya sudah semakin jelas terlihat. Maka hal inilah yang mungkin menjadi alasan kuat kenapa Budi masih concern memelihara budayanya.

Bicara soal budaya sunda maka tak bisa terlepas dari Jawa Barat, yang dimana itu adalah sebuah provinsi yang notabene adalah wilayah dimana budaya dan adat istiadata sunda itu lahir. Dan jika bertanya apa senjata khas dari daerah Jawa Barat‎, sudah barang tentu orang akan menyebut Kujang. Bahkan logo dari pemerintah Jawa Barat pun ada gambar kujang di dalamnya.

Bicara soal kujang Budi Dalton termasuk salah satu kolektor benda ini. Dan berdasarkan hasil penelitiannya, ternyata dalam berbagai literatur kesundaan kujang tidak pernah disebut sebagai senjata. Menurutnya pemahaman masyarakat tentang kujang sebagai senjata harus diubah, baginya kujang memiliki nilai yang lebih tinggi dari hanya sekadar senjata. Tapi kujang itu adalah simbol kedaulatan sebuah negara.

Bentuk kujang yang penuh estetika namun jauh dari bentuk ergonomis sebuah senjata. Bahkan dalam beberapa literatur kesundaan yang dipelajarinya, Budi sama sekali tidak pernah mendengar kujang digunakan untuk perang. Kalau pun dibawa, kujang hanya untuk menunjukan kasta seseorang dalam perang.

Tak hanya jadi kolektor kujang, Budi Dalton pun aktif menajdi penggiat seni tarawangsa. Sebuah kesenian musik gesek asli dan tertua di tatar sunda, yang kini semakin tergerus oleh jaman dan perlahan mulai dilupakan oleh masyarakatnya sendiri.

Infografis: Bosscha.id

Salah satu ikon yang melekat pada orang sunda adalah, dikenal sebagai pribadi yang humoris, begitu pun dengan Budi Dalton. Sisi humorisnya, ia salurkan lewat sebuah acara talkshow di kanal Youtube yang dipandu olehnya yang diberi nama ‘Ngobat’ yang adalah akronim dari Ngomongkeun Batur atau dalam bahasa indonesia berarti ‘Membicarakan Orang Lain’.

Acara yang tayang setiap hari senin setiap minggunya tak ayal menarik perhatian publik terutama orang sunda. Karena isi talkshow-nya yang selalu mengundang gelak tawa bagi siapa saja yang menyaksikannya.

Acara yang dipandu langsung oleh artis layar sentuh; demikian Budi Dalton menyebut dirinya di acara Ngobat ini, adalah sebuah acara yang dikemas secara ringan mengupas sosio kultural masyarakat. Canda tawa dan sindiran kerap menjadi bumbu yang menggiring acara talkshow tersebut. Di acara ini jelas tidak ada wacana yang melontarkan teori dengan bahasa pelik yang membuat garis ketuaan di kening terlihat.

Semua serba ringan tanpa filter atau sensor yang memotong apa pun. Namun meski demikian acara tersebut tetap berjalan pada koridor yang ditentukan, yakni mengangkat profesi seseorang kepada khalayak luas melalui siaran langsung di kanal Youtube.

Budi Dalton pun menyatakan acara yang digarapnya merupakan program untuk mengangkat profesi seseorang yang unik dan tidak pernah terungkap media mainstream. Hal ini lah yang menjadi alasan kenapa acara ini diminati banyak orang.

Secara tidak langsung kehadiran Ngobat, menjadi media alternatif untuk menginformasikan pesan sosial pada masyarakat Bandung. Terutama ketika melihat kecendrungan beragam media alternatif berbasis internet yang dapat menjangkau audiens dalam segmentasi beragam.

Melawan hegemoni media mainstream untuk membangun kesadaran publik terhadap isu sosial budaya masyarakat urban Bandung, merupakan sasaran bidik yang ingin dicapai Dalton bersama para punggawa Ngobat lainnya. Dan nyatanya Ngobat sukses hadir sebagai bentuk Media Baru dalam koridor komunikasi.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password