Sejarah 17 Maret: Ribuan Korban Jiwa Melayang Karena Targedi Gunung Agung di Bali Meletus

Aktivitas vulkanik Gunung Agung terjadi hampir satu tahun penuh Februari 1963 - Januari 1964 (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – 17 Maret 1963, langit Bali diselimuti gelap dan terdengar gemuruh yang menggelegar dari puncak Gunung Agung. Orang-orang panik dan menyangka ini adalah hari kiamat. Hari itu, gunung Agung memuntahkan lahar dingin yang membuat ribuan nyawa orang melayang, tanaman hangus terbakar dan ratusan bangunan rusak parah.

Pada hari itu, Gunung Agung menyemburkan abu vulkaniknya ke udara, setinggi kurang lebih 10 kilometer. Inilah puncak erupsi. Letusan masih terjadi beberapa kali dalam pekan-pekan berikutnya. Gunung memuntahkan lahar dingin di sepanjang lereng selatan, tenggara, dan utara, yang menghancurkan banyak bangunan.

Jauh sebelum tanggal 17 maret, dari hari ke hari Gunung Agung memang semakin aktif. Pemerintah memberikan peringatan agar Pura Besakih dikosongkan mulai tanggal 9 Maret 1963. Warga yang masih tinggal di sekitarnya pun harus segera mengungsi.

Pasalnya, dentuman keras sebenarnya sudah terdengar pada 18 Februari 1963, disertai asap tebal. Enam hari berselang, aliran lahar berlangsung terus-menerus selama beberapa pekan. Namun, masih ada orang yang tetap bertahan di Besakih untuk merampungkan Upacara Eka Dasa Rudra.

Erupsi Gunung Agung pun sebenarnya sudah pernah terjadi pada awal abad ke-17. Namun, sebagian warga Bali meyakini bahwa gunung sakral ini tidak akan mencelakai mereka. Terlebih di kawasan itu terdapat Puri Besakih yang menjadi tempat peribadatan untuk menggelar upacara adat terkait Gunung Agung dan alam sekitarnya.

Salah satu ritual tersebut adalah Eka Dasa Rudra, upacara khusus yang dihelat setiap 100 tahun sekali. Dan, siapa yang menyangka, siklus Eka Dasa Rudra bertepatan dengan hari-hari menjelang meletusnya Gunung Agung pada 1963 itu.

Eka Dasa Rudra merupakan upacara besar dan istimewa. Ribuan masyarakat Bali dan para pendeta Hindu berbondong-bondong menuju Puri Besakih di lereng gunung. Gunung Agung terbatuk-batuk dan sesekali melontarkan abu, pasir, juga kerikil. Namun, umat masih tetap melaksanakan ritual tersebut tanpa ada ketakutan sedikit pun.

Dari Pura Besakih gunung agung ini tampak dengan kerucut runcing sempurna, tetapi sebenarnya puncak gunung ini memanjang dan berakhir pada kawah yang melingkar dan lebar. Masyarakat Hindu Bali percaya bahwa Gunung Agung sebagai tempat keramat yang disucikan karena di sini dipercaya tempat bersemayamnya Batara Siwa, satu dari tiga dewa utama (Trimurti) dalam agama Hindu.

Dalam konsep dasar spiritual Bali, dikenal istilah Caturlokapala–ruang pemujaan Tuhan yang menekankan pada keseimbangan semesta lewat representasi arah mata angin. Pada Caturlokapala itu, Gunung Lempuyang berada di sisi timur, Gunung Bratan di sisi barat, Gunung Mangu di utara, dan Gunung Andakasa di selatan. Keempatnya berporos di Gunung Agung dan Gunung Batur–dan Pura Besakih di lereng Gunung Agung adalah poros mandala (area sakral) dari Gunung Caturlokapala tersebut.

Baca Juga:   Sejarah 31 Maret: Diresmikannya Menara Eiffel, Salah Satu Ikon Monumental Prancis

Kosmologi itu memengaruhi cara pandang umat Hindu Bali, termasuk kacamata mereka dalam melihat erupsi Gunung Agung. Maka bila lahar dianggap sebagai dewa yang turun menyambangi manusia, tak semua penduduk berlari ketika melihat lahar turun. Sebagian malah menerjang bahaya dengan menanti dan menyambutnya.

Diantara cerita lisan turun-temurun soal letusan Gunung Agung 1963, umum dikisahkan tentang orang-orang yang melakukan ritual menyambut awan panas dan lahar. Alih-alih berlari karena takut ditelan awan panas, isi perut gunung berapi yang dimuntahkan dianggap sebagai “Batara Rawuh” atau kedatangan dewa.

Gunung Agung adalah gunung tertinggi di pulau Bali dengan ketinggian 3.031 meter dari permukaan laut. Gunung ini terletak di kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali. Gunung Agung adalah gunung berapi tipe stratovolcano.

Erupsi Gunung Agung pada 17 Maret 1963 ini termasuk bencana alam terbesar yang pernah terjadi di Indonesia dalam 100 tahun terakhir. Letusan itu menewaskan 1.549 orang, dengan tambahan 200 orang lagi yang terseret pada banjir lahar dua bulan berikutnya, Mei 1963. Letusan kala itu juga menyebabkan 1.700 rumah hancur dan 225.000 orang kehilangan mata pencaharian.

Angka-angka tersebut cukup menjadi pengingat bahwa harus ada langkah-langkah mitigasi agar kehancuran bisa dihindarkan di hari selanjutnya. Dan generasi berikutnya yang lahir dengan bayang-bayang masa lalu itu langsung tanggap menghadapi intaian bencana letusan Gunung Agung.

Begitu status Gunung Agung ditingkatkan ke level tertinggi, yaitu Awas, warga Kabupaten Karangasem yang berada di zona bahaya, Kawasan Rawan Bencana III, harus bergegas mengungsi. Dan wilayah itu harus dikosongkan. Bahkan ketika pemerintah menetapkan hanya 27 desa di Kabupaten Karangasem yang berada di zona merah, penduduk 52 desa lain yang berada di luar zona itu pun harus ikut mengungsi.

Tahun 1963 sungguh menjelma menjadi tahun bencana bagi Bali. Setelah Gunung Agung meletus 17 Maret, Gunung Batur–yang bersama Gunung Agung menjadi poros Gunung Caturlokapala–juga meletus pada bulan September. Belum lagi gempa tektonik besar yang mengguncang Bali pertengahan Mei tahun yang sama.

Bencana-bencana tersebut menjadi ujian berat bagi masyarakat Bali. Sebanyak 316.000 ton bahan pangan hancur dikubur abu vulkanik, 25.000 hektare lahan musnah, dan 100.000 hektare lahan tak bisa ditanami. Paceklik memperparah kondisi Bali yang harus mengurusi hampir 100.000 pengungsi.

Letusan Gunung Agung 1963 memang begitu besar hingga menjadi catatan penting dalam sejarah bencana di Indonesia. Laporan PVMBG kepada UNESCO tahun 1964 menyebut aktivitas vulkanik Gunung Agung kala itu terjadi hampir satu tahun penuh, mulai 2 Februari 1963 sampai 27 Januari 1964.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password