Sejarah 13 Maret: Pecahnya Perang Badar

Ilustrasi yang menggambarkan perang badar (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Terdapat beberapa perang besar dalam sejarah umat Islam yang terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW, dan Perang Badar adalah salah satunya. Perang Badar dalam bahasa Arab disebut Ghazwat Badr yang terjadi pada 13 Maret tahun 624 M atau pada 17 Ramadhan Tahun 2 Hijriah.

Perang ini merupakan pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh – musuhnya. Lokasi pertempuran terletak di Kota Badar, yang berjarak 80 mil barat daya Kota Madinah, di area Hijaz Arabia Barat yang sekarang dikenal sebagai Arab Saudi. Pihak – pihak yang terlibat dalam sejarah perang badar adalah umat muslim dari Madinah dan kaum Quraisy dari Mekkah.

Badar sendiri adalah nama sebuah lembah yang terletak diantara Makkah dan Madinah. Lembah ini diapit oleh dua bukit, di sebelah timur bukitnya bernama ‘Udwah al Qushwa’ dan di barat bukitnya bernama ‘Udwah ad Dunya’.

Di sisi selatan, Lembah Badar dibatasi oleh bukit bernama bukit ‘al-Asfal’. Sejak masa sebelum Islam, lembah tersebut sudah menjadi jalur yang banyak dilintasi kafilah-kafilah dagang asal Makkah atau Yaman yang hendak berniaga ke Syam (Suriah dan Lebanon).

Saat ini, lembah badar menjadi salah satu kota yang berada di wilayah Provinsi Madinah dengan nama lengkap Kota Badar Hunain. Jarak kota ini dari Kota Madinah mencapai sekitar 130 km. Sebagian wilayah lembah yang pernah menjadi lokasi pertempuran Perang Badaral Qubro, masih dibiarkan menjadi padang terbuka. 

Bahkan, pada satu lokasi di lembah tersebut, terdapat bangunan tembok menyerupai benteng yang mengelilingi areal cukup luas. Lokasi itu diperkirakan menjadi tempat pertempuran sekaligus tempat dimakamkannya para syuhada yang gugur dalam Perang Badar.

Lembah Badar memang menjadi sangat dikenal dalam sejarah Islam. Tempat ini menjadi saksi suatu peristiwa besar yang menjadi tonggak sejarah tatkala pertempuran besar antara umat Islam dari Madinah dan kaum musyrikin dari Mak kah terjadi. 

Sebelum Perang Badar terjadi, kaum Muslim Madinah dan penduduk Makkah sebenarnya sudah beberapa kali terlibat konflik bersenjata skala kecil. Ketegangan antara kelompok masyarakat di Makkah dan Madinah ini terjadi akibat serangan umat Islam di Madinah pada rombongan dagang kaum Quraisy.

Umat Islam Madinah yang sebelumnya berasal dari kaum Quraisy Makkah berpendapat, penyerangan terhadap rombongan dagang dari Makkah sah dilakukan. Pasalnya, kaum Quraisy Makkah telah mengusir dan menjarah barang-barang yang mereka tinggalkan di Makkah.

Pada akhir tahun 623 Masehi, aksi penyerangan terhadap para pedagang Makkah ini makin sering dilakukan. Puncaknya, terjadi menjelang pertempuran Badar. Saat itu, umat Islam Madinah mendengar kabar mengenai rencana kedatangan kafilah dagang kaum Quraisy dari Syam, yang berada di bawah perlindungan pasukan Abu Sufyan bin Harb.

Mendapat informasi tersebut, sahabat Rasulullah SAW, Hamzah, meminta ijin untuk membalas perlakuan orang kafir Quraisy. Saat itulah, turun ayat 39-40 Surah Al Hajj yang memberikan ijin pada kaum Muslimin untuk berperang jika mereka dizalimi.

Mendapat wahyu ini, Rasulullah pun memimpin sendiri pasukannya untuk melakukan penghadangan. Dengan pasukan yang terdiri atas 313 orang, 8 pedang, 6 baju perang, 70 ekor unta dan 2 ekor kuda. Didalam pasukan tersebut juga terdapat paman nabi. Dan tiga calon khalifah. Yaitu Abu bakar, Umar bin khotob, dan Ali bin abu tholib. Dan mereka semua menuju suatu tempat bernama Shafra (di luar Kota Madinah).

Upaya penghadangan dari pasukan Muslimin ini tercium oleh Abu Sufyan, sehingga dia mengambil rute kembali ke Makkah dengan melalu jalur tepi laut. Sementara, kaum musyrikin Quraisy yang mendapat kabar rombongan Abu Sufyan dihadang pasukah Rasulullah mengirimkan bantuan dengan mengirim 1.000 orang, 600 persenjataan lengkap, 700 unta, dan 300 pasukan kuda. Dan pasukan ini dipimpin oleh Abu Jahal.

Rasulullah SAW dan para sahabat yang mendapat kabar Abu Sufyan sudah sampai Makkah dan kaum Quraisy mengirimkan pasukan, tidak mengurungkan perjalanan. Tapi bertekad menghadapi pasukan yang dipimpin Abu Jahal.

Ketika informasi bahwa tentara kafir quraisy telah bersiap. Baginda Nabi Muhammad segera memanggil dewan perang, karena masih ada waktu untuk mundur dan karena banyak dari para pejuang disana ada orang yang baru masuk islam (disebut kaum Ansar atau “Penolong”), yang pada awalnya hanya berjanji untuk membela Madinah.

Sebagai mana dalam ketentuan Piagam Madinah, mereka akan berada dalam hak mereka untuk menolak berperang dan meninggalkan pertempuran. Tapi, dalam sebuah perjanjian, mereka siap untuk berperang juga, bahkan Sa’d ibn Ubadah menyatakan, “Jika Anda (Muhammad) memerintahkan kami untuk menjatuhkan kuda kami ke laut, kami akan melakukannya.”Jadi, kaum Muslimin terus melanjutkan menuju Badar.

Baca Juga:   Sejarah 30 Maret: Peringatan Hari Film Nasional, Ini Sejarahnya

Pada 11 Maret kedua pasukan itu sekitar satu hari berada di Badar. Beberapa pasukan kaum Muslim Sayyidina Ali yang telah berkuda di garda depan, berhasil menciduk dua pengangkut air di Mekah di sumur Badar. Mengharapkan mereka untuk mengatakan bahwa mereka bersama karavan, umat Muslim merasa kaget mendengar mereka mengatakan bahwa mereka bersama pasukan Quraisy utama.

Beberapa tradisi juga mengatakan bahwa, setelah mendengar nama-nama semua bangsawan Quraisy yang menyertai tentara, baginda nabi berseru, “Mekah telah melemparkan kepadamu potongan hati yang terbaik.” Keesokan harinya Nabi Muhammad memerintahkan untuk melanjutkan ke Badar dan tiba sebelum orang-orang Mekah.

Sumur Badar terletak di lereng yang landai di sisi timur lembah yang disebut “Yalyal”. Sisi barat lembah itu dikelilingi oleh sebuah bukit besar yang disebut ‘Aqanqal. Ketika tentara Muslim tiba dari timur, Baginda Nabi awalnya memilih untuk membentuk pasukannya di sumur pertama yang dia temui.

Namun, Hubab ibn al-Mundhir, bertanya kepada Baginda Nabi, apakah pilihan ini merupakan instruksi ilahi atau pendapat Baginda Nabi sendiri? Ketika Nabi menjawab dalam yang intruksi dirinya, Hubab menyarankan kepada nabi agar Muslim menduduki sumur yang paling dekat dengan tentara Quraisy, dan memblokir yang lain. Nabi Muhammad pun menerima keputusan ini dan segera pindah.

Sebaliknya, sementara sedikit yang diketahui tentang kemajuan tentara Quraisy sejak saat meninggalkan Mekkah sampai tiba di luar Badar, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: meskipun banyak tentara Arab dalam tradisinya membawa perempuan dan anak-anak mereka untuk merawat dan memotivasi mereka. Tapi kali ini mereka tidak melakukannya.

Juga, kaum Quraish tampaknya melakukan sedikit atau tidak ada usaha untuk menghubungi sekutu yang mereka telah tersebar di seluruh Hijaz. Kedua fakta itu menunjukkan bahwa Quraisy tidak memiliki waktu untuk mempersiapkan strategi yang tepat dengan tergesa-gesa untuk melindungi kafilah dagang.

Selain itu, diyakini mereka mengharapkan kemenangan yang mudah, mengetahui mereka kalah jumlah Muslim oleh tiga lawan satu.

Ketika Quraisy mencapai Juhfah, tepat di sebelah selatan Badar, mereka menerima pesan dari Abu Sufyan yang mengatakan bahwa kafilah itu aman di belakang mereka, dan bahwa mereka dapat kembali ke Mekah. Pada titik ini, menurut peniliti Karen Armstrong, perebutan kekuasaan pecah di tentara kafir Mekkah. Abu Jahl ingin melanjutkan, tetapi beberapa klan yang hadir, termasuk Banu Zuhrah dan Banu Adi, segera pulang ke mekkah.

Menurut Tariq Ramadan dalam bukunya, In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad (2007), Perang Badar dimulai dengan perang tanding satu lawan satu oleh Hamzah, Ali, dan Ubaydah ibn Harits melawan tiga orang Mekkah.

Hamzah dan Ali berhasil mengalahkan lawan mereka, sementara Ubaydah terluka parah. Pertempuran pun segera pecah. Pertempuran terlaksana di bawah langit mendung pagi berikutnya. Barisan orang-orang beriman tetap rapat, sementara barisan pasukan Mekkah—dengan masing-masing kabilah bertempur sebagai unit-unt terpisah dan tak ada kesatuan komando—carut marut dan tercerai-berai.

Dalam pertempuran sengit yang menyusul, kaum Quraisy segera mendapati bahwa mereka sedang menghadapi hal ihwal yang terburuk. Mereka berperang dengan semangat kenekatan yang ceroboh, seakan-akan ini adalah sebuah turnamen kekesatriaan, dan tidak memiliki rencana yang matang. Mereka mengawali dengan memborbardir musuh dengan panah, baru menarik pedang mereka untuk bertarung satu lawan satu pada menit-menit terakhir. Menjelang tengah hari, suku Quraisy telah kabur. Mereka kalah.

Kemenangan Nabi Muhammad merupakan sebuah titik balik: status dan supremasi orang Quraisy benar-benar jatuh dan kabar ihwal kekalahan mereka menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru Semenanjung Arab. Apa yang terjadi di Badar hampir tidak mungkin dalam tatanan yang mereka yakini.

Tatanan alami dunia mereka telah terjungkir balik. Kaum Mukmin kehilangan 14 orang, sementara orang Mekkah kehilangan lebih dari 70 orang, termasuk Abu Jahl, salah seorang musuh Islam paling bengis dan paling menginginkan terjadinya pertempuran. Abbas, paman Nabi (yang sangat dipercayai oleh Muhammad di Mekkah, dan yang menyaksikan semua persiapan Hijrah), termasuk di antara orang yang ditawan.

Nabi Muhammad pun dengan segera memerintahkan pasukannya untuk menahan diri. Sebuah wahyu turun untuk memastikan bahwa para tawanan perang harus dibebaskan atau ditebus. Bahkan dalam perang, kaum Mukmin meninggalkan kebiasaan bengis masa lampau.

Sejarah perang badar lengkap yang terjadi selama bertahun – tahun menjadi jalan bagi Nabi Muhammad untuk memantapkan kepemimpinan dan pemerintahannya di Madinah. Kemenangan dalam Perang Badar merupakan kemenangan militer pertama umat Islam, dan semangat jihad yang dikobarkan pada masa itu sangat memberi pengaruh besar terhadap berjalannya dakwah Islam di masa berikutnya.

Al Qur’an telah menggambarkan kekuatan serangan dan kekuatan kaum Muslim dalam banyak ayat yang diturunkan sesudahnya, termasuk ribuan malaikat yang berperan untuk membantu perjuangan kaum Muslim.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password