Jadi Barang Langka Saat Corona Melanda, Ternyata Ini Sejarah Masker

Covid-19 membuat peredaran masker menghilang dipasaran (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Saat terjadi wabah penyakit menular, seperti SARS, MERS, Ebola dan yang terbaru yaitu Corona. Seketika, masker menjadi barang yang sulit untuk dicari, dibeberapa penjual besar atau pun kecil, masker mendadak menjadi barang yag langka untuk ditemukan.

Terlebih ketika virus Corona atau yang dikenal dengan nama Covid-19 ini juga sudah masuk Indonesia. Masker pun hilag dari peredaran, meskipun ada tentu harganya sudah meroket berpuluh kali lipat dari biasanya, lantaran banyak orang memburunya.

Terlepas dari kelangkaan yang kini terjadi di beberapa lokasi, mungkin Anda belum mengetahui tentang sejarah masker itu sebenarnya bagaimana. Setelah mengutip dari berbagai sumber, kali ini bosscha.id akan berbagi sedikit informasi tentang bagaimana sejarah masker.

Diciptakannya masker berawal untuk melindungi pasien dan dokter dari bakteri dan virus demi menghindari segala bentuk penularan. Namun masker punya presentasi dan tujuan yang berbeda. Yang paling populer, salah satunya masker bedah.

Masker bedah kali pertama digunakan oleh Paul Berger. Dia adalah seorang ahli bedah Prancis yang menggunakan masker tersebut saat melakukan operasi pada akhir abad ke-19. Kemudian dokter dan ahli bedah mengikutinya sebagai tindakan pencegahan keamanan demi menghindari penularan penyakit.

Akhirnya, perawat dan petugas medis lainnya pun memakai masker tersebut. Hingga akhirnya masker menjadi tren publik, dimana masyarakat menggunakan masker untuk menghindari diri dari polusi udara hingga virus.

Di Asia, terutama Asia Timur, penggunaan masker oleh masyarakat umum sebenarnya sudah jamak. Jepang menjadi negara yang punya sejarah panjang penggunaan masker oleh masyarakatnya. Hal ini dimulai pada awal-awal tahun abad ke-20 ketika pandemi influenza menewaskan sekitar 20-40 juta orang di seluruh dunia.

Saat itu, masyarakat menutupi wajah mereka dengan syal atau selendang untuk menangkal penyakit hingga epidemi memudar pada akhir tahun 1919. Namun beberapa tahun kemudian, gempa besar Kanto pada 1923 yang menyebabkan kualitas udara turun selama berbulan-bulan, masker kembali digunakan dan menjadi aksesori khas di jalanan Tokyo dan Yokohama kala itu.

Kemudian, epidemi flu global kedua terjadi pada tahun 1934 kembali membuat warga Negeri Sakura itu memakai masker secara teratur selama musim dingin demi menghindari penularan kuman. Lalu pada tahun 1950-an, industrialisasi yang cepat di Jepang usai Perang Dunia II menyebabkan polusi udara merajalela, sehingga mengenakan masker pun menjadi kebiasaan sepanjang tahun.

Bermula dari situ, negara-negara tetangga Jepang, seperti China dan Korea yang menghadapi masalah polusi akut pun akhirnya ikut mengadopsi kebiasaan negeri sakura tersebut. Tentu saja polusi dan virus ada di mana-mana yang ditularkan lewat udara, tapi kemudian tren menggunakan masker didominasi di negara-negara Asia Timur.

Berbagai alasan yang mendasarinya bisa karena faktor filosofi. Ketiga negara itu secara luas dipengaruhi ajaran Taoisme dan pengobatan tradisional China, dimana napas dan pernapasan dipandang sebagai elemen sentral dalam kesehatan yang baik.

Di Jepang sendiri penggunaan masker oleh sejumlah anak muda tidak sekedar menghindari penyakit, mereka sengaja menggunakannya untuk menghangatkan wajah, menyembunyikan ekspresi wajah, dan menghindari obrolan dengan orang lain.

Tren masker membuat sejumlah produsen masker kesehatan meluncurkan koleksi masker dengan hiasan manik-manik. Bahkan, salah satu produsen di Jepang merilis masker yang tidak mudah terkena noda lisptik.

Produsen asal Jepang itu juga memberi sejumlah saran untuk menyesuaikan masker dengan gaya busana sehari-hari. Para selebriti kemudian ikut meramaikan bisnis masker di Jepang. Seperti Zawachin yang dikenal sebagai penata rias AKB48. Ia mengeluarkan masker yang diklaim mampu memberi efek tirus pada wajah.

Sementara di China, masker dijadikan ladang bisnis oleh salah satu perusahaan retail online terbesar di sana. Mengutip South China Morning Post, perusahaan tersebut telah menjual ratusan ribu masker dan diklaim bisa menangkal partikel PM2,5. Tak sedikit penjual masker yang mengambil kesempatan, malah ada yang bisa menjual lebih dari 10.000 masker dalam beberapa minggu, selama festival musim semi berlangsung.

Kemudian sejarah masker beralih ke sejumlah negara di Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Selandia Baru. Sejumlah pengusaha di negara-negara tersebut mulai melirik bisnis masker yang dianggap cukup potensial.

Mengutip dari laman Vox, perusahaan asal California Utara, Amerika Serikat mengeluarkan masker dan jadi salah satu yang paling laris di Asia. Pendiri perusahaan tersebut menyebut ide penjualan masker muncul sejak tahun 2011. Sejak saat itu, pendapatan perusahaan masker itu meningkat menjadi 10%.

Kini, perusahaan masker itu memoles produknya hingga dikenal sebagai masker kesehatan kelas premium. Masker kesehatan yang dikeluarkan akan tersedia dalam beraneka ragam warna dan juga motif.

Sejarah masker memulai babak baru ketika beberapa pengusaha asal Amerika Serikat tertarik dengan bisnis masker fashion. Sejumlah pengusaha rela banting setir dengan berjualan masker, setelah tren penggunaannya meningkat untuk menghindari virus.

Untuk di Indonesia sendiri sejarah penggunaan masker diawali saat penggunanya bepergian dengan mengendarai sepeda motor. Masker dianggap berguna untuk menangkal polusi jalanan. Selain itu, masker juga lazim digunakan oleh sejumlah tenaga kesehatan, seperti dokter, perawat dan pekerja medis.

Ditambah bencana kabut asap yang sering terjadi di Indonesia, seperti Riau dan Kalimantan. Dan di berbagai kesempatan sejumlah perempuan, menggunakan masker bukan hanya untuk menghindari penyakit akibat polusi, namun menjadi bagian dari tren fashion

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password