Sejarah 11 Maret: Dikeluarkannya Surat Sakti ‘Supersemar’ Yang Penuh Misteri

Supersemar dianggap surat sakti karena melegitimasi Suharto mengambil alih pimpinan negara (Bosscha.id)

Bosscha.id – Surat Perintah Sebelas Maret atau Supersemar yang dikeluarkan 54 tahun yang lalu, masih menyimpan misteri hingga saat ini. Supersemar yang mengantarkan Suharto ke puncak kekuasan di Republik Indonesia ini ditanda tangani oleh Sukarno pada 11 Maret 1966.

Dilihat dari sisi sejarah Supersemar adalah surat yang mengawali peralihan kepemimpinan nasional dari pemerintahan Orde Lama ke Orde Baru. Supersemar juga merupakan ‘surat sakti’ yang menentukan kelahiran dan keabsahan pemerintahan Suharto, sekaligus sebagai bentuk pelengseran Sukarno.

Inti dari Supersemar adalah surat perintah dari Presiden Sukarno yang isinya adalah instruksi presiden kepada Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) Letnan Jenderal Suharto untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu dalam pengamanan negara yang memang sedang rentan saat itu, salah satunya karena dampak peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Fakta penerapannya memang sangat fatal. Terlepas dari segala kepentingan dan “kesaksian” dari sejumlah pihak yang kemudian disangkal atau muncul “kesaksian” lainnya dan lantas berbantah klaim, Suharto menggunakan Supersemar untuk “mengamankan” jalannya pemerintahan.

Supersemar pun difungsikan sebagai ‘surat sakti’ yang pada akhirnya menjadi legitimasi Suharto untuk mengambil-alih pucuk pimpinan negara dari Sukarno. Inilah sinyal awal dari lahirnya rezim Orde Baru yang berkuasa hingga 30 tahun lebih, dan itulah kenyataan sejarah yang telah terjadi.

Infografis Bosscha.id

Persoalan selanjutnya, Supersemar tidak hanya ada satu versi saja sehingga apa yang sebenarnya diperintahkan Presiden Sukarno kepada Letjen Suharto saat itu belum terkuak dengan pasti: apakah sekadar menjaga keamanan negara termasuk presiden dan keluarganya, atau pengalihan kekuasaan? Penafsiran dan pengaruh penguasa saat itu juga turut menentukan jalannya sejarah di negeri ini.

Sampai saat ini setidaknya ada tiga versi naskah Supersemar yang beredar di masyarakat. Pertanyaannya: Mengapa ada tiga? Mana yang asli? Apakah ada bagian yang ditutupi? Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) saat ini menyimpan tiga Supersemar.

Namun, ketiganya memiliki versi masing-masing. Pertama, Supersemar yang diterima dari Sekretariat Negara, dengan ciri: jumlah halaman dua lembar, berkop Burung Garuda, diketik rapi, dan di bawahnya tertera tanda tangan beserta nama “Sukarno”.

Kedua, Supersemar yang diterima dari Pusat Penerangan TNI AD dengan ciri: jumlah halaman satu lembar, berkop Burung Garuda, ketikan tidak serapi versi pertama. Penulisan ejaan sudah menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku pada saat itu. Jika pada versi pertama di bawah tanda tangan tertulis nama “Sukarno”, pada versi kedua tertulis nama “Soekarno”.

Baca Juga:   Sejarah 3 April: Lahirnya Tokoh Pers Nasional Herawati Diah

Ketiga, Supersemar yang diterima dari Yayasan Akademi Kebangsaan, dengan ciri: jumlah halaman satu lembar, sebagian surat robek sehingga tidak utuh lagi, kop surat tidak jelas, hanya berupa salinan. Tanda tangan Soekarno pada versi ketiga ini juga berbeda dengan versi pertama dan kedua.

Beberapa sumber pun menyebutkan bahwa naskah asli Supersemar disimpan di sebuah bank di luar negeri, sedangkan sumber lain menyebut yang asli sebenarnya sudah tidak ada karena dibakar dengan tujuan tertentu. Dalam wawancara oleh Majalah Forum edisi 13, 14 Oktober 1993, mantan Pangdam Jaya sekaligus mantan Menteri Dalam Negeri Amirmachmud mengatakan bahwa naskah asli Supersemar diserahkan oleh Basuki Rachmat, M Jusuf, dan dirinya kepada Suharto yang saat itu menjabat Menteri Panglima Angkatan Darat.

Namun kemudian Pak Harto menyerahkan surat itu pada Sudharmono untuk keperluan pembubaran PKI. Setelah itu surat tersebut “menghilang”. Apakah dikembalikan pada Suharto, karena Sudharmono mengaku tidak menyimpannya, atau disimpan orang lain? Menurut Amirmachmud naskah asli Supersemar terdiri dari dua lembaran. Itu sebabnya buku ‘30 Tahun Indonesia Merdeka’ ditarik dari peredaran karena di dalamnya memuat naskah Supersemar yang palsu, hanya satu lembar.

Ada yang bilang bahwa Supersemar adalah media untuk upaya kudeta merangkak Suharto. Bila itu yang memang terjadi, tetap saja kemunculan Orde Baru adalah sah karena telah diakui oleh dunia internasional.

Supersemar masih seperti lorong tanpa ujung, hanya menjadi komoditas semu yang ramai diributkan dan diperdebatkan manakala tanggal kenangan itu datang tiap tahunnya, begitu pun dengan hari ini, yang dimana tepat 54 tahun lalu Supersemar dikenang.

Walau kini Suharto tak lagi berkuasa, dan tak ada dampak langsung secara politik, namun pengungkapan misteri Supersemar tetap memiliki arti bagi bangsa Indonesia. Setidaknya sebagai bangsa, sejarah kita bisa dengan gamblang diceritakan, agar tidak ada pembelokkan sejarah.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password