Kang Nano S, Seniman Sunda Yang Tak Lelah Berkarya

Popularitas Kang Nano menanjak setelah mengorbitkan Nining Meida (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Nano Suratno adalah seniman dan musisi yang mencurahkan lebih sebagian hidupnya kepada perkembangan kesenian dan kebudayaan Sunda. Semasa hidupnya, Kang Nano S sudah menciptakan banyak sekali lagu-lagu Sunda. Beliau juga sangat ahli memainkan alat-alat musik Sunda seperti Kecapi, Kendang dan Suling.

Pria kelahiran Garut, pada 4 April 1944 ini sejak umur lima tahun sudah dibawa mengadu nasib ke Bandung. Kedua orang-tuanya, Iyan S dan Nyi Nonoh termasuk keluarga pecinta seni. Di lingkungan keluarga, sejak kecil Nano dianggap memiliki kemampuan menyanyi yang diwarisi dari kakek dan buyutnya yang juga dalang wayang. 

Karena minatnya yang besar kepada musik karawitan, setelah lulus SMP, Kang Nano kemudian masuk ke Konservatori Karawitan (Kokar) di Bandung (1961). Setelah tamat, ia mengajar di SMPN 1 Bandung (1965-1970) kemudian pindah ke Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) (1970-1995) dimana dia pernah menjabat Ketua Jurusan Karawitan dan Wakil Kepala SMKI. Beberapa tahun kemudian Ia melanjutkan kuliah ke Akademi Seni Tari (ASTI) Bandung dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Jurusan Karawitan Sunda.

Kang Nano juga tercatat pernah mendirikan kelompok seni Sunda bernama Gentra Madya pada tahun 1972, namun sebelumnya beliau bergabung dengan kelompok Ganda Mekar pimpinan Mang Koko. Pada Festival Komponis Muda Indonesia 1 yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (1979), dan mendapat perhatian sebagai komposisi yang sarat dengan kekuatan akar etnis karawitan Sunda yang penuh inovasi pengembangan.

Ia pun pernah mendapat beasiswa fellowship dari The Japan Foundation, selama setahun di Tokyo Gedai (Universitas Kesenian Tokyo), untuk mempelajari perbandingan tangga nada Sunda dan Jepang, terutama antara alam musik Kecapi dan Koto. Selain itu, ia juga belajar meniup Sakuhachi dan memetik Shamisen, yang kemudian membuat kolaborasi alat-alat itu pada ciptaannya dan membuat beberapa lagu karawitan Sunda yang berbahasa Jepang, diantaranya Katakana Hiragana Uta, Ueno Koen dan D’enshano Uta (1981-1982).

Ia pun pernah menciptakan lagu yang berjudul “Hiroshima“, yang dibuat khusus untuk memenuhi permintaan Wali Kota Hiroshima yang mengenalnya sebagai pencipta lagu. Selain itu, ia pun diundang oleh departemen musik Universitas Santa Cruz untuk mengajar dan membuat pergelaran dalam Spring Performance (1990).

Popularitasnya semakin menanjak setelah album-album rekaman kasetnya banyak diminati oleh masyarakat, diantaranya Kalangkang (1989), lewat suara Nining Meida yang sekaligus mengorbitkan nama penyanyi itu, Kalangkang dalam versi pop Sunda yang dipopulerkan Detty Kurnia pun meraih penghargaan BASF Award (1989), dan setahun kemudian meraih penghargaan HDX Award yang terjual dua juta copy.

Tiga tahun kemudian Cinta Ketok Magic (1992), melalui suara penyanyi dangdut Evie Tamala, meledak di pasaran. Hingga membuatnya mendapat HDX Award tingkat Nasional. Meskipun lagu-lagu ciptaannya lebih dominan berjenis karawitan, namun dengan cepat Ia memperoleh penggemar di seluruh Indonesia, apalagi setelah lagu-lagunya bertransformasi ke pop Sunda.

Oleh karena konsistensinya dalam menggekuti kesenian sunda, Ia pun kerap diminta untuk tampil di berbagai negara. Kang Nano pun pernah diminta oleh Min on impresario, sebuah kelompok kesenian Jepang yang cukup besar, untuk mengadakan pertunjukan kesenian Sunda di berbagai kota seluruh Jepang selama 40 hari dengan 22 kali pertunjukan.

Pertunjukan ini pun mendapat sambutan antusias karena keindahan yang ditampilkan. Saking mempesonanya penampilan Kang Nano, Ia pun banyak mendapat tawaran untuk tampil mempertunjukan kepiawaiannya dalam bermusik, di kota-kota lain di Jepang. Selain Jepang, negara-negara yang pernah dikunjunginya untuk mengadakan pertunjukan diantaranya adalah, Hongkong, Philipina, Belanda, Australia, Amerika Serikat, dan sebagainya.

Selain sebagai musisi dan pencipta lagu, Ia pun dikenal sebagai penulis sajak dan cerita pendek berbahasa Sunda. Karya-karyanya pernah dimuat di majalah Mangle, Hanjuang, dan lainnya. Cerita pendeknya dikumpulkan dan dibuat buku dengan judul Nu Baralik Manggung.

Dan konsistensi Kang Nano dalam berkarya pun terhenti pada tahun 2010. Pasalnya pada 29 November 2010, seniman sunda yang tak kenal lelah berkarya ini meninggal dunia dalam usia 66 tahun. Meski kini beliau telah tiada, namun jasanya terhadap dunia seni khususnya seni sunda akan selalu dikenang sebagai warisan budaya.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password