Sejarah 4 Maret: Dibentuknya Pemerintahan Kota Batavia

Jakarta atau Batavia tahun 1927 (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Batavia adalah sebutan untuk suatu kota pelabuhan yang sekarang adalah Jakarta. Nama Batavia dipakai sejak tahun 1621 oleh orang-orang Belanda, yang sebelumnya bernama Jayakarta, setelah mereka merebutnya dari kekuasaan Kesultanan Banten.

Sebelum bernama Batavia, ia disebut Sunda Calapa (sampai tahun 1527) lalu Jayakarta (1527-1619). Dokumen tertua yang menyebut nama Sunda Calapa adalah Suma Oriental karya Tome Pires, yang memuat laporan kunjungannya dari tahun 1512-1515. Sedangkan nama Jayakarta (tertulis Xacatara) untuk pertama kalinya disebutkan dalam dokumen tertulis yang berasal dari sekitar tahun 1553, yaitu Decadas da Asia karya Joao de Barros.

Dari kota pelabuhan inilah Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan kemudian pemerintahan Kolonial Belanda mengendalikan perdagangan dan kekuasaan militer serta politiknya di wilayah Nusantara. Nama ini bertahan sampai tahun 1942. Pada tahun itu kekuasaan Belanda jatuh ke tangan Jepang. Sebagai bagian dari de-Nederlandisasi, nama kota Batavia diganti menjadi Jakarta. Bentuk bahasa Melayu Batavia, yaitu “Betawi” tetap bertahan dan masih tetap dipakai sampai sekarang.

Nama Batavia sendiri berasal dari suku Batavia, sebuah suku Jermanik yang bermukim di tepi Sungai Rhein pada Zaman Kekaisaran Romawi. Bangsa Belanda dan sebagian bangsa Jerman adalah keturunan dari suku ini.

Batavia juga merupakan nama sebuah kapal layar tiang tinggi yang cukup besar asal Belanda yang dimililki perusahaan Hindia Timur Belanda atau VOC , dibuat pada 29 Oktober 1628, dinakhodai oleh Kapten Adriaan Jakobsz. Kapal tersebut kini berada di sebuah museum di Fremantle , Australia. Kapal tersebut akhirnya kandas di pesisir Beacon Island, Australia Barat. Dan seluruh awaknya yang berjumlah 268 orang berlayar dengan perahu sekoci darurat menuju kota Batavia ini.

Pada tahun 1611, VOC mendapat izin untuk membangun satu rumah kayu dengan fondasi batu di Jayakarta, sebagai kantor dagang. Kemudian mereka menyewa lahan sekitar 1,5 hektare di dekat muara di tepi bagian timur Sungai Ciliwung, yang menjadi kompleks perkantoran, gudang dan tempat tinggal orang Belanda, dan bangunan utamanya dinamakan Nassau Huis.

Baca Juga:   Sejarah 24 September: Hari Tani Nasional, Perjuangan Petani Terlepas dari Sistem Feodal

Ketika Jan Pieterszoon Coen menjadi Gubernur Jenderal (1618 – 1623), ia mendirikan lagi bangunan serupa Nassau Huis yang dinamakan Mauritius Huis, dan membangun tembok batu yang tinggi, di mana ditempatkan beberapa meriam. Tak lama kemudian, ia membangun lagi tembok setinggi 7 meter yang mengelilingi areal yang mereka sewa, sehingga benar-benar menjadi satu benteng yang kokoh, dan mulai mempersiapkan untuk menguasai Jayakarta.

Dari basis benteng ini, kemudian pada 30 Mei 1619 Belanda menyerang Jayakarta, yang memberi mereka izin untuk berdagang, dan membumihanguskan keraton serta hampir seluruh pemukiman penduduk. Berawal hanya dari bangunan separuh kayu, akhirnya Belanda menguasai seluruh kota.

Semula Coen ingin menamakan kota ini sebagai Nieuwe Hollandia, namun De Heeren Zeventien di Belanda memutuskan untuk menamakan kota ini menjadi Batavia, untuk mengenang orang Batavia.
Jan Pieterszoon Coen menggunakan semboyan hidupnya “Dispereert niet, ontziet uw vijanden niet, want God is met ons” menjadi semboyan atau motto kota Batavia, singkatnya “Dispereert niet” yang berarti “Jangan putus asa”.

Dan akhirnya pada 4 Maret 1621, pemerintah Stad Batavia (kota Batavia) dibentuk. Jayakarta pun dibumiratakan dan dibangun benteng yang bagian depannya digali parit. Di bagian belakang dibangun gudang juga dikitari parit, pagar besi dan tiang-tiang yang kuat. Selama 8 tahun kota Batavia sudah meluas 3 kali lipat. Pembangunannya selesai pada tahun 1650. Kota Batavia sebenarnya terletak di selatan Kastil yang juga dikelilingi oleh tembok-tembok dan dipotong-potong oleh banyak parit.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password