Sejarah 2 Maret: Hari Lahir Dai Sejuta Umat, KH. Zainuddin MZ

Bakat pidato Zainuddin MZ diasah sejak kecil (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – KH. Zainuddin MZ. adalah dai kondang pada tahun 90-an, ceramahnya yang selalu menyejukkan hati dan dapat diterima oleh berbagai kalangan, membuat setiap kajiannya selalu dihadiri puluhan ribu jamaah.

Dalam berdakwah Ia menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, lebih banyak menggunakan pendekatan humanistis (kemanusiaan) artinya dalam berdakwah ia lebih banyak menyentuh, bukan menyinggung, mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul, ibarat mencubit tetapi tidak terasa sakit.

Motode dakwah seperti ini mencontoh metode dakwah yang diterapkan oleh Rasulullah SAW. Tujuannya dalam berdakwah adalah pesan dakwah harus mengena, sampai pada sasaran. Hal ini dibuktikan  dengan  hausnya umat atas siraman rohani dari Dai Sejuta Umat tersebut.

Pria kelahiran Jakarta pada 2 Maret 1952 ini sudah ditinggal sang ayah pada saat usianya masih 2 tahun. Dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sejak kecil beliau sering membantu sang ibu untuk berjualan nasi uduk.

Sejak kecil Udin nama panggilan keluarganya, sudah  mahir berpidato. Dia suka naik ke atas meja untuk berpidato di depan tamu yang berkunjung ke rumah kakeknya. Bakat berpidatonya itu tersalurkan ketika mulai masuk Madrasah Tsanawiyah hingga tamat Madrasah Aliyah di Darul Ma’arif, Jakarta.

Di sekolah ini ia belajar pidato dalam forum Ta’limul Muhadharah (belajar berpidato) Kebiasaanya berceritera dan berpidato kian berkembang, setiap kali tampil, ia memukau teman-temannya. Kemampuannya itu terus terasah, berbarengan permintaan ceramah yang terus mengalir.

Perkembangan karir Zainuddin mulai dikenal luas sejak ceramah-ceramahnya mulai masuk dunia rekaman. Kasetnya beredar tidak hanya di Indonesia tetapi ke beberapa negara di Asia. Sejak itu, dai penggemar Dangdut yang juga sahabat Rhoma Irama itu mulai dilirik untuk tampil di layar kaca, bahkan dikontrak sebuah biro perjalanan haji untuk bersafari bersama beberapa artis ke berbagai daerah lewat program Nada dan Dakwah.

Zainuddin MZ menikah dengan Hj. Kholilah, dari pernikahannya dengan Hj Kholilah, Zainuddin dikaruniai empat orang anak yakni Fikri Haikal MZ, Lutfi MZ, Kiki MZ, dan Zaki MZ. Keluarga ini juga dikenal sebagai keluarga yang fokus mengusung adat Betawi asli.

Baca Juga:   Sejarah 21 September: Liam Gallagher, Rockstar ‘Bermulut Besar’ yang Menolak Pudar

Pada tahun 1977-1982 ia bergabung ke dunia politik dengan terjun ke partai PPP. Keterlibatannya dalam PPP tidak bisa dilepaskan dari guru ngajinya, KH Idham Chalid. Sebab, gurunya yang pernah jadi ketua umum PBNU itu salah seorang deklarator PPP, Zainuddin pun aktif menjadi pengurus PPP sebagai dewan penasehat DPW DKI Jakarta, sebelum akhirnya terlibat ke DPP.

Partai yang merupakan fusi beberapa partai Islam itu jauh-jauh hari sejak Pemilu 1977 sudah memanfaatkannya sebagai vote-getter. Bersama Raja Dangdut H Rhoma Irama, K.H. Zainudiin M.Z. berkeliling ke berbagai wilayah mengkampanyekan partai yang saat itu bergambar Ka’bah ini.

Hasil yang diperoleh sangat signifikan dan mempengaruhi dominasi Golkar kala itu. kondisi itu membuat penguasa Orde Baru waswas dan membuatnya tak lepas dari ancaman teror. Totalitas K.H. Zainuddin M.Z. untuk PPP bisa dirunut dari latar belakangnya. Pertama, secara kultural dia warga nahdliyin, atau menjadi bagian dari keluarga besar NU. Dengan posisinya tersebut, dia ingin memperjuangkan NU yang saat itu menjadi bagian dari fusi PPP yang dipaksakan Orde Baru pada 5 Januari 1971.

Pada 20 Januari 2002 K.H. Zainudiin M.Z. bersama rekan-rekannya mendeklarasikan PPP Reformasi yang kemudian berubah nama menjadi Partai Bintang Reformasi dalam Muktamar Luar Biasa pada 8-9 April 2003 di Jakarta. Ia juga secara resmi ditetapkan sebagai calon presiden oleh partai ini. Zainuddin MZ menjabat sebagai Ketua umum PBR sampai tahun 2006. 

Dan akhirnya Dai sejuta umat ini meninggal dunia pada 5 Juli 2011, bertepatan dengan 5 Sya’ban 1432 H dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Pusat Pertamina, karena serangan jantung dan gula darah. Sehabis Shubuh Ia sarapan bersama keluarga di rumahnya Gandaria I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan lalu mendadak pingsan dan tak sadar. KH Zainuddin MZ bin Tarmuzi meninggal dalam usia 59 tahun, dimakamkan di area Masjid Fajrul Islam, yang tak jauh dari kediamannya.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password