Sejarah 28 Februari: Lahirnya Legenda Bulu Tangkis Indonesia, Liem Swie King

Momen ketika Liem Swee King bertanding di ajang All England (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Hari ini 64 tahun lalu, tepatnya pada 28 Februari 1956, legenda bulu tangkis Indonesia Liem Swie King lahir. Terlahir di keluarga yang menggemari bulu tangkis, King telah akrab dengan raket sejak usia belia.

Dari tujuh bersaudara, King merupakan satu-satunya anak lelaki di keluarganya. Meski demikian, dua kakak King, Megah Inawati dan Idawati adalah atlet bulu tangkis Indonesia. Sehingga banyak berperan dalam perkembangan King.

Sedari awal mengenal bulu tangkis, ayah King merupakan pelatih pertamanya. Dilanjutkan dengan kakak iparnya, Agus Susanto ketika permainan King mulai menanjak. Pada 1969, ia bergabung dengan Persatuan Bulu Tangkis (PB) Djarum Kudus, klub yang melambungkan namanya.

Sejarah emas telah banyak ditorehkan oleh legenda bulu tangkis Indonesia yang pernah merajai panggung internasional pada dekade 1970 dan 1989-an ini. Selama kariernya, Liem Swie King, setidaknya telah mengoleksi sederet prestasi bergengsi, diantaranya adalah masing-masing tiga kali juara All England dan Thomas Cup.

Ini belum termasuk gelar kampiun atau medali yang diraihnya di ajang lain, seperti Kejuaraan Dunia, rangkaian turnamen grand prix, Asian Games, juga SEA Games, baik sebagai atlet tunggal maupun ganda.

Pada usia belia, Liem Swie King langsung menunjukkan bakatnya dan meraih prestasi dengan menjuarai turnamen bulu tangkis se-Jawa Tengah level junior pada 1972 saat berumur 15 tahun, lanjut dengan juara POPSI (Pekan Olahraga Pelajar Indonesia) tingkat provinsi.

Setahun berikutnya, King merebut juara Piala Gubernur Jawa Tengah Moenadi Cup di sektor tunggal putra maupun ganda putra yang diraihnya bersama Kartono Hariamanto. Selain itu, ia juga meraih medali perak PON 1973 untuk cabang bulu tangkis putra.

King menjadi simbol kesuksesan atlet bulu tangkis (Bosscha.id)

Debut King di All England terjadi pada usia 18 tahun. Namun, ia kandas di babak perempatfinal setelah takluk dari pemain Denmark, Sven Pri, dua set langsung. Di All England 1975 King malah terhenti di perdelapan final, dikalahkan wakil Denmark lainnya, Flemming Delfs. Selain itu, King meraih medali perunggu di Asian Games 1974 yang digelar Teheran, Iran. Berturut-turut pada 1974 dan 1975, ia menjadi juara di Kejuaraan Nasional (Kejurnas).

King pun tampil gemilang di All England 1976 dan lolos ke final untuk menghadapi seniornya, Rudy Hartono. Meskipun kalah, capaian King yang masih berusia 20 tahun kala itu mengejutkan. King juga turut mempersembahkan Thomas Cup 1976 di Bangkok untuk Indonesia setelah menang telak atas Malaysia 9-0.

Dan Swedia Open 1977 menjadi milik King berkat kemenangan atas Flemming Delfs di final. Namun, Delfs membalas di All England 1977 dengan mengalahkan King dalam pertarungan tiga set. Sementara di Kejuaraan Dunia 1977 di Swedia, King tersingkir di babak perdelapanfinal.

Para pemain terbaik dunia pun ditundukkannya, termasuk Rudy Hartono dalam final All England 1978. King akhirnya merengkuh gelar All England pertamanya. Di tahun ini, King juga menjuarai Denmark Open 1978 dan medali emas Asian Games 1978.

Dan gelar juara All England pun berhasil dipertahankan King pada 1979, juga ikut mengantarkan Indonesia menjuarai Piala Thomas. Namun, ia mendapatkan sanksi skorsing tiga bulan dari PBSI karena telat datang ke lapangan saat SEA Games di Jakarta. Selama masa skorsing itu, King ikut membintangi film Sakura dalam Pelukan.

Baca Juga:   Sejarah 3 April: Lahirnya Tokoh Pers Nasional Herawati Diah

Lalu skorsing ternyata membuat King sempat melemah. Setelah tak terkalahkan sejak Kejuaraan Dunia 1977, kembalinya King ke lapangan bulu tangkis justru berakhir dengan kekalahan, yakni di ajang Dwi Lomba Indonesia-Cina yang digelar di Singapura pada 1980.

Kembali berjumpa dengan Prakash, King memenangkan duel di final All England 1981 dan menghasilkan gelar juara ketiga baginya. Namun, ia kandas di semifinal All England 1982 oleh Morten Frost Hansen dari Denmark. King sempat meraih gelar juara Piala Dunia di tahun ini.

King pun berhasil menggondol dua gelar dari turnamen Indonesia Open dan Malaysia Open pada 1983. Piala Thomas bersama Indonesia pun kembali ia persembahkan setahun berikutnya, juga medali emas SEA Games 1985.

Selanjutnya, King berlaga di ganda putra. Gelar Indonesia Open 1985-1986 dan Piala Dunia 1986 disabetnya bareng Kartono. Bersama Bobby Ertanto, pada 1987 King meraih juara Asia dan medali emas SEA Games. Sedangkan saat dipasangkan dengan Eddy Hartono, King menjadi kampiun Indonesia Open dan Japan Open 1987.

Setelah 15 tahun menjalani kiprah bertabur kejayaan di kancah badminton, pebulutangkis yang terkenal dengan smash kerasnya atau “King Smash” ini memutuskan gantung raket pada 1988, ketika usianya menginjak angka 32 tahun.

Setelah pensiun dari dunia bulu tangkis, King terjun di dunia hotel dan spa milik mertuanya di Jalan Melawai Jakarta Selatan. Setelah itu, ia melebarkan sayap dengan membuka usaha griya pijat kesehatan berkantor di Kompleks Perkantoran Grand Wijaya Centre Jakarta Selatan. Ia juga membuka usaha griya pijat kesehatan Sari Mustika. Kini, King telah membuka griya pijatnya di tiga lokasi, Grand Wijaya Centre, Jalan Fatmawati Jakarta Selatan, dan Kelapa Gading Jakarta Utara.

Kisah Liem Swie King memberikan inspirasi bagi Nia Zulkarnaen dan Ari Sihasale selaku pemilik rumah produksi Alenia, untuk membuat film berjudul King. Film ini memang bukan membahas Liem Swie King secara langsung, namun sebagai bentuk apresiasi atas sepak-terjang dan jejak-prestasi yang telah diguratkan oleh sang raja sekaligus legenda bulu tangkis itu.

Asal mula King bisa tertarik pada bisnis perhotelan dan pijat kesehatan, rupanya sebagai pemain bulu tangkis yang sering menginap di hotel berbintang, King tertarik dengan keindahan penataan hotel dan keramahan para pekerjanya.

Begitu pula soal griya pijat. Saat menjadi atlet, King selalu membutuhkan terapi pijat setelah lelah berlatih dan bertanding. Kala itu, ia kerap mengunjungi griya pijat kesehatan di kawasan Mayestik Jakarta Selatan yang penataan ruangannya begitu bagus.

Ia pun berpikir bahwa usaha pijat kesehatan (spa) ini sangat prospektif. Kalangan eksekutif dan pengusaha Jakarta yang gila kerja butuh kesegaran fisik dan relaksasi. Maka dia membuka usaha griya pijat kesehatan Sari Mustika. Ia pun merasa bahagia karena bisa membuktikan griya pijat tidak selalu berkonotasi negatif seperti yang dibayangkan kebanyakan orang.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password