Raden Ayu Lasminingrat, Intelektual Wanita Dari Tatar Sunda

Raden Ayu Lasminingrat sudah menerjemahkan dan menerbitkan buku-buku yang dijadikan buku bacaan wajib di HIS, Schakelschool, dan sekolah lainnya (Dok.Istimewa)

Bosscha.id – Nama Raden Ayu Lasminingrat mungkin masih luput dari sejarah bangsa kita . Namun, wanita dar tatar Sunda ini merupakan tokoh bagi kemajuan wanita (sunda khususnya) jauh sebelum muncul Dewi Sartika dan RA Kartini.

Raden Ayu Lasminingrat lahir di Garut, Jawa Barat pada tahun 1843. Ayahnya bernama Raden Haji Muhammad Musa, seorang perintis kesusastraan cetak Sunda, pengarang, ulama, dan tokoh Sunda abad ke-19, sedangkan sang ibu bernama Raden Ayu Ria.

Empat tahun sebelum Dewi Sartika lahir, Raden Ayu Lasminingrat sudah fasih menulis buku untuk bacaan anak-anak sekolah. Dan Ketika R.A. Kartini lahir tahun 1879, Raden Ayu Lasminingrat sudah menerjemahkan dan menerbitkan buku-buku yang dijadikan buku bacaan wajib di HIS, Schakelschool, dan sekolah lainnya, hingga akhir masa penjajahan Belanda.

Perjuangan Lasminingrat dititik-beratkan pada dunia literasi dan pendidikan bagi kaum perempuan. Dia juga menulis beberapa buku berbahasa Sunda yang ditujukan untuk anak-anak sekolah, baik karangan sendiri maupun terjemahan. Buku-buku tersebut meliputi pendidikan moral, sosial, matematika dan psikologi.

Terobosan baru yang dicapai Lasminingrat di dunia kepengarangan adalah penggunaan kata ganti orang pertama. Seperti yang ditulis oleh Mikihiro Moriyama dalam bukunya yang berjudul Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19 mencatat bahwa Lasminingrat merupakan penulis pribumi pertama yang menggunakan kata ganti orang pertama dalam tulisan berbahasa Sunda.

Lasminingrat, tulis Mikihiro, memakai kata “kula” yang merujuk kepada saya dalam kata pengantar bukunya Warnasari atawa Roepa-roepa Dongeng yang terbit pada 1876. Buku ini merupakan kumpulan berbagai macam karya terjemahan.

Setelah menjadi istri Bupati Garut RAA Wiratanudatar VIII, Lasminingrat menghentikan aktivitas kepengarangannya. Ia lalu berkonsentrasi dalam bidang pendidikan bagi kaum perempuan Sunda. Sejak kecil Lasminingrat bercita-cita memajukan kaum hawa melalui pendidikan.

Mimpinya ini terwujud pada tahun 1907, ketika beliau mendirikan sekolah Keutamaan Istri di ruang gamelan Pendopo Kabupaten Garut. Di sekolah ini Lasminingrat mulai menggunakan kurikulum. Tidak disangka, pada 1911 sekolahnya berkembang.

Baca Juga:   Sejarah 17 September: Utuy Tatang Sontani, Sastrawan yang Dilupakan Indonesia

Jumlah muridnya mencapai 200 orang, dan lima kelas dibangun di sebelah Pendopo. Sekolah ini akhirnya mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hindia Belanda pada 1913 melalui akta nomor 12 tertanggal 12 Februari 1913. Hingga pada 1934, cabang-cabang Keutamaan Istri dibangun di kota Wetan Garut, Bayongbong, dan Cikajang.

Di sekolah Keutamaan Istri, murid-muridnya diajari cara memasak, merapikan pakaian, mencuci, menjahit pakaian, dan segala hal yang ada hubungannya dengan kehidupan berumah tangga. Tujuannya, supaya kelak saat dewasa dan menikah, mereka bisa membahagiakan suami dan anak, juga mengerjakan sendiri apa saja yang berhubungan dengan rumah tangga.

Lasminingrat dikenal sebagai sosok yang peduli terhadap orang lain. Dalam catatan sejarah, ia merupakan salah seorang tokoh yang mendukung Dewi Sartika untuk mendirikan sekolah bagi kaum perempuan pada 1904. Hingga kini, lebih dari 1 abad kemudian, mimpinya masih terus mengalir di darah setiap perempuan sunda.

Dan saat terjadi peristiwa BLA (Bandung Lautan Api ) pada 24 Maret 1946, masyarakat Bandung banyak yang mengungsi ke Garut. Hingga, kemudian Garut pun menjadi sasaran penyerbuan tentara Belanda, karena komandan tertinggi Tentara di Jawa Barat, Kolonel AH Nasution terendus berada di daerah ini.

Dalam situasi demikian, Lasminingrat yang saat itu dalam usia yang sudah sepuh, dibawa mengungsi keluarganya ke kampung Waas Pojok, Bayongbong, Garut. Ia merelakan rumah tinggalnya di Regenweg, kini jalan Siliwangi, ditempati sebagai Markas Tentara Republik Indonesia (TRI).

Dan pada tanggal 10 April 1948, Lasminingrat wafat dalam usia 105 tahun. Jenazahnya dimakamkan di belakang Masjid Agung Garut, disamping makam suaminya, RAA Wiratanudatar VIII.

R.A. Lasminingrat adalah satu-satunya perempuan Indonesia asal Garut yang mampu menulis dan berbahasa Belanda pada jaman kolonial. Posisi dirinya sangat menonjol sebagai seorang intelektual wanita.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password