Sejarah 21 Februari: Tan Malaka Toko Revolusi Indonesia Wafat

Misteri menyelimuti kematian Tan Malaka, sampai detik ini tidak ada kepastian dimana letak jasadnya disemayamkan (Bosscha.id)

Bosscha.id – Pasca merdekanya Indonesia, langkah yang diambil pemerintah berjuang mempertahankan kemerdekaan lewat diplomasi kepada Belanda, oleh sebagian kalangan, terutama kaum revolusioner, dianggap terlalu lembek.

Pemerintah juga dianggap tidak serius dalam upaya menegakkan kedaulatan Republik Indonesia. Merespon hal ini, Tan Malaka—sosok yang amat berpengaruh di kalangan kaum revolusioner—kemudian menjawabnya dengan membentuk kelompok oposisi.

Pada 3 sampai 5 Januari 1946, di Gedung Serba Guna Purwokerto, diadakan kongres pertama para pejuang revolusioner yang dihadiri 132 organisasi sipil, partai, laskar, dan ketentaraan. Tampil sebagai pembicara utama adalah Tan Malaka dan Jenderal Soedirman.

Pada pertemuan pertama ini, Tan Malaka menjelaskan tentang rencana pembentukan Volksfront (Front Rakyat) dan Minimum Program. Keduanya diperlukan agar tujuan rakyat Indonesia tercapai dalam melawan Belanda dan sekutunya, yang pada akhirnya nanti akan mengakui kemerdekaan Indonesia seutuhnya.

Pada kongres kedua yang berlangsung pada 15-16 Januari 1946 di bekas gedung Balai Agung Solo, perhatian rakyat semakin besar. Hal ini terbukti dengan kedatangan utusan-utusan berbagai organisasi yang berjumlah kurang lebih 500 orang, mewakili 141 organisasi.

Langkah Tan Malaka yang tidak mau berdamai dengan Pemerintahan Kolonial Belanda, kemudian membuatnya mendirikan Persatuan Perjuangan. Yang menjadi alternarif terhadap Pemerintah Moderar yang kooperatif terhadap penjajah.

Sebagai oposisi, Persatuan Perjuangan memutuskan untuk berunding dengan pemerintah pusat di bawah pimpinan Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Tujuh butir Minimum Program tersebut didesakkan kepada pemerintah agar segera direalisasikan.

Dalam perundingan itu, Persatuan Perjuangan diwakili anggota yang berasal dari Organisasi Pemberontakan Rakyat Indonesia, Partai Buruh Indonesia, Masyumi, Pesindo, Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia, dan Perwari.

Minimum Program yang diajukan Persatuan Perjuangan ditolak pemerintah karena dianggap terlalu radikal. Reaksi beberapa tokoh Persatuan Perjuangan atas penolakan tersebut juga tidak digubris pemerintah.

Pada 17 Februari 1946, Persatuan Perjuangan melakukan aksi massa dengan gelombang demonstrasi di mana-mana. Semua organisasi yang tergabung di dalamnya diimbau untuk melakukan aksi massa dengan lima poin tuntutan. Seperti diungkap sejarawan asal Belanda yang meneliti tentang Tan Malaka, Harry A. Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid 1 (2008), lima tuntutan tersebut adalah:

1.) Isi Minimum Program Persatuan Perjuangan. 2.) Penarikan tentara Inggris-NICA dari Indonesia. 3.) Lenyapnya pengadilan dan polisi internasional dari Indonesia. 4.) Kembalinya pemuda dan gadis-gadis yang ditawan Inggris-NICA. 5.) Membatalkan perundingan dengan Kerr-van Mook sebelum syarat atas pengakuan Indonesia merdeka ditepati.

Dan dua bulan sebelum demonstrasi pecah atau empat bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan dibacakan, Tan Malaka sudah menyimpulkan bahwa Sukarno-Hatta tidak mengejawantahkan cita-cita rakyat dan pemuda. Selain itu, ia juga berpendapat, tenaga revolusioner telah dirobek-robek ke dalam berbagai organisasi dan salah paham, kecurigaan, kesimpang-siuran telah sangat merugikan Republik.

Maklumat politik sengit yang dikeluarkan Persatuan Perjuangan itu pun membuat situasi politik semakin memanas. Banyak rakyat yang melihat, bahwa argumentasi yang disajikan organisasi oposisi tersebut sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Hal ini juga sekaligus membuat rakyat sangsi atas sikap pemerintah dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga:   Sejarah 23 September: Lahirnya Negara Arab Saudi dari Tangan Abdul Aziz al Sa’ud

Berbagai macam gerakan dan Propaganda Tan Malaka yang anti politik diplomasi Sukarno-Hatta dianggap sebagai ancaman oleh pemerintah. Sebagai contoh kesuksesan propaganda Tan Malaka, sebanyak 17-19 batalion bergabung dalam Gabungan Pembela Proklamasi (GPP) untuk menghadapi serangan Belanda bilamana sewaktu-waktu datang. GPP mesti bertindak sesuai petunjuk Gerpolek.

Tan bersama GPP berpindah-pindah markas dan akhirnya melarikan diri ke arah selatan Jawa Timur. Dalam gerilya menyusuri lereng Gunung Wilis, di Selopanggung, Kediri, Tan Malaka ditangkap oleh Letnan Dua Sukoco dari Batalion Sikatan Divisi Brawijaya.

Tan Malaka pun tewas ditembak oleh pasukan militer Indonesia tanpa pengadilan, di Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, pada 21 Februari 1949. Eksekustornya berasal dari Brigade Sikatan atas perintah petinggi militer Jawa Timur.

Tapi sebelum diketahui kuburannya, kisah kematian Tan Malaka masih diselubungi misteri. Bahkan lokasi kuburannya pun tidak diketahui persis. Titik terang mulai tampak berkat kegigihan Harry Albert Poeze, sejarawan Belanda yang mengabadikan seluruh karier akademisnya sampai sekarang untuk menulis hikayat dan karya Tan Malaka.

Harry Poeze menemukan makam Sutan Ibrahim gelar Tan Malaka tersebut sekitar tahun 2007. “Berdasarkan data sejarah, penelitian saya, dan pendapat ahli forensik antropologi sudah jelas bahwa Desa Selopanggung merupakan tempat peristirahatan terakhir Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka,” katanya.

Pihak keluarga besar Tan Malaka pun sama yakinnya dengan Harry Albert Poeze jika jenazah Tan Malaka bersemayam di Selopanggung. Ketika penggalian, kerangkanya dalam keadaan duduk dan terikat. “Itu terungkap waktu dibongkar pertama kali untuk tes forensik,” kata Direktur Tan Malaka Institute Sumatera Barat, Yudilfan Habib Datuak Monti.

Menurut Yudilfan, pihak keluarga saat ini berupaya memindahkan jenazah dari Kediri ke Nagari Pandam Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Itu sesuai adat di kampung halaman yang tak pernah lagi ditinggali Tan sejak sekolah di Bukittinggi.

Poeze sangat teliti memperhatikan detail sumber-sumber sejarah Tan Malaka. Poeze bahkan bisa menemukan Tan Malaka di antara ribuan orang yang hadir dalam Rapat Raksasa di Lapangan Ikada (Monas) pada 19 September 1945. Ia juga merekonstruksi lagu yang dinyanyikan orang-orang di sekitar Tan Malaka.

Poeze menunjukan kedua hasil rekonstruksinya itu dalam sebuah diskusi di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada 2009. Lebih dari separuh hidup Poeze diabdikan untuk Sutan Ibrahim gelar Tan Malaka ini. Ketika Tan Malaka terbunuh pada 1949, sejarawan yang lahir di Loppersum pada 20 Oktober 1947 ini belum genap 2 tahun.

Tak ada perjumpaan fisik yang pernah terjadi antara dirinya dan Tan Malaka. Tan Malaka dikenalnya melalui arsip-arsip, terbitan-terbitan, juga kesaksian-kesaksian pelaku sejarah. Poeze mengenal Tan Malaka karena buku-buku sejarah perjuangan Indonesia sering menyebut namanya.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password