Bimbo, Selasar Bagi Yang Tersasar dan Penyejuk Bagi Yang Merajuk

Bimbo meraih penghargaan khusus dari Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2019, yaitu Legend Award. (Dok.Suara.com)

Bosscha.id – “Tuhan, tempat aku berteduh, di mana aku mengeluh, dengan segala peluh.. Tuhan, Tuhan Yang Maha Esa, tempat aku memuja, dengan segala doa..”

Penggalan lirik lagu tersebut pasti sudah tak asing lagi di telinga kita. Penggalan Lirik tersebut adalah salah satu hasil karya dari Trio balada asal Bandung, Bimbo. Lirik yang sederhana. Tapi justru kesederhanaan itu mendapat sambutan luas. Lagu ini abadi karena selalu hadir pada berbagai momentum yang berkaitan dengan hal-hal keagamaan.

Bimbo, yang beranggotakan Sam, Acil, Jaka dan dalam perkembangannya kemudian ditambah oleh adik perempuan mereka Iin Parlina, adalah pelantun sekaligus pencipta lagu yang berjudul Tuhan tersebut. Selain lagu tersebut, masih banyak lagi karya Bimbo lain yang liriknya kerap beririsan dengan tema cinta, lingkungan, hingga kritik sosial.

Namun tema cinta dalam lagu mereka tidak terjebak dalam lirik-lirik yang meratap. Sebagai grup, Bimbo sukses mendikte pasar. Seiring berjlannya waktu, Bimbo berhasil mengkombinasikan iringan instrumen musik dengan lirik-lirik puitis religius.

Hal ini kemudian memunculkan penilaian bahwa aksentuasi Bimbo, justru ada pada lagu-lagu kasidah dengan tema-tema lirik ilahiah. Untuk mengetahui awal mula kisah Bimbo berkutat di jalur industri lagu religi, kita bisa merujuk dari buku 30 tahun perjalanan “Sajadah Panjang Bimbo” yang ditulis budayawan Sunda terkenal, Tatang Sumarsono.

Lagu ‘Tuhan’ sendiri, diciptakan Sam di Masjid Salman, ITB. Alkisah, suatu saat Sam sedang Salat Jumat. Tapi begitu berada di dalam masjid, batinnya menangkap suasana berbeda. Dalam perenungan yang semakin dalam ia merasakan ketenangan batin yang amat sangat kala itu. Tiba-tiba inspirasi itu datang dan mendesaknya mewujudkan dalam sebuah karya. Dalam waktu dua menit, lirik sebuah lagu legendaris itu pun lahir.

Lagu Tuhan yang dibuat Sam amatlah spesial pada zaman itu. Pasalnya kata ‘Tuhan’ mungkin pernah kita dengar dalam setiap lagu pop. Tapi ‘Tuhan’ yang hadir di sana bukan sebagai tema yang mengusung jiwa dari lirik lagu. Melainkan hanya dimasukkan ke dalam rangkaian kata sebagai pelengkap pengungkapan sebuah seruhan atau rintihan.

Dalam setiap lagu pop lain, Tuhan terkesan tidak mengandung muatan sakral. Namun, Tuhan dalam syair lagu Bimbo tidak demikian. Ia hadir sebagai judul, tema dan nyawa dari sebuah lirik. Bagi orang muslim, lagu ‘Tuhan’ yang dibuat Sam memang bersumberkan pada ajaran tauhid.

Rangkaian kalimatnya mengandung idiom yang termaktub dalam Al-Quran. Tapi pada kenyataannya lagu itu teramat universal. Sam mengakui, lagu Tuhan pernah dijadikan lagu wajib pada lomba menyanyi yang diselenggarakan oleh gereja-gereja se-DKI Jakarta.

Dan pada September 1974, menjelang datangnya bulan suci Ramadan, album kasidah pertama Bimbo akhirnya dirilis ke publik. Hal ini secara tidak langsung menjadikan Bimbo sebagai musisi atau band pionir yang memproduksi lagu-lagu dengan tema religi menjelang Ramadan.

Baca Juga:   Presiden Rusia Putin Ucapkan Duka Atas Korban Sriwijaya Air SJ 182

Menurut Acil, dirinya terilhami saat sedang berkunjung ke Singapura pada medio tahun 1971. Waktu itu kebetulan menjelang hari Natal, dan di Singapura hampir semua tempat selalu memutar lagu-lagu keagamaan, sehingga memberikan ambience suasana religi yang begitu kental. Kemudian Acil, Sam dan Jaka sepakat agar suasana keagamaan macam itu dibawa ke Indonesia, khususnya saat momentum hari raya umat islam tiba.

Lazimnya, kasidah yang hidup di masyarakat kita kala itu selalu berasosiasi dengan lagu-lagu berbahasa arab, dengan iringan rebana yang bunyinya datar dan harmonisasinya sulit dikerjakan. Lalu Bimbo ingin mengubah kesan lagu kasidah dengan alunan musik seperti itu menjadi lebih harmoni, dengan ditambahkan berbagai instrumen modern.

Namun, untuk hal lirik, lagu kasidah tak cukup hanya indah, tetapi juga harus khidmat, syahdu dan bernyawa. Bimbo pun menyadari kekurangannya dalam hal ini. Kapasitas mereka dalam menyusun lirik belum sampai taraf itu. Lalu, kedekatan mereka dengan para sastrawan di Taman Ismail Marzuki, membuat Taufiq Ismail akhirnya turun tangan.

Tercatat ada 10 lagu pada album kasidah pertama BImbo ; delapan lagu diantaranya ditulis oleh Taufiq Ismail, dua lagi adalah lagu ‘Tuhan’ dibuat oleh Sam dan lagu ‘Cerita untuk orang yang lupa’ milik Iwan Abdurrahman.

Namun hal ini bukan tanpa hambatan. Lagu kasidah Bimbo sempat dipertentangkan oleh beberapa kalangan umat islam tertentu. Sebab istilah kasidah sudah dianggap terminologi khusus yang terlalu aneh jika dikombinasikan dengan unsur pop yang selama ini diusung oleh Bimbo.

Hal tersebut dikhawatirkan dapat menodai segi-segi nilai keagamaan dalam musik kasidah itu sendiri. Perdebatan diantara kalangan ulama pun muncul. Namun, setelah Buya Hamka yang menjabat ketua MUI kala itu menyatakan kasidah tak ada kaitannya dengan agama, dan akhirnya perdebatan pun reda dengan sendirinya.

Dan untuk meredakan isu yang panas ini, Acil bahkan mesti memberikan pledoi pembelaan dalam acara MTQ VIII di Palembang. Dia menegaskan apa yang dilakukan Bimbo dengan melahirkan kasidah berbahasa Indonesia, tidak lain agar pendengar dapat memahaminya dengan mudah. “Sasaran kami lagu-lagu kasidah tersebut bisa populer di kota besar, yaitu masyarakat yang amat mudah dan cepat menerima komunikasi dari luar,” tutur Acil dalam Pledoinya yang dimuat Majalah Variasi.

Bimbo adalah jalan panjang yang melegenda. Selama lebih dari 50 tahun berkarya dalam dunia musik, mereka melahirkan sekitar 800 lagu dalam 200 album. Dengan berbagai macam genre seperti Pop, Keroncong, Dangdut, Klasik Melayu, Pop Sunda, dan tentu saja lagu-lagu rohani yang bisa menjadi selasar bagi jiwa-jiwa yang tersasar dan penyejuk bagi hati-hati yang sedang merajuk.
 

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password