Sejarah 14 Februari: Peringatan Hari Valentine dan Asal Usulnya

Kaum muda merayakan euphoria tanggal 14 Februari untuk mengungkapkan kasih sayang (Shutterstock)

Bosscha.id – Hari Valentine atau hari kasih sayang yang kerap diperingati pada tanggal 14 Februari setiap tahunnya.  Selalu menjadi momen yang kerap digunakan banyak orang untuk mencurahkan kasih sayang pada pasangan dengan berbagai macam hadiah seperti coklat atau bunga.

Euphoria hari kasih sayang ini bahkan telah terasa sebelum harinya tiba. Hampir di semua pusat perbelanjaan atau mall-mall didominasi dengan hiasan bunga, balon, maupun pernak-pernik yang melambangkan hari kasih sayang ini. Tak jarang banyak restoran pun memberikan diskon makan malam romantis pada momen ini. melihat fenomena Hari Valentine kini, tak jauh adalah soal strategi pemasaran yang menghasilkan perputaran uang.

Bahkan banyak diantara kita, terutama kaum muda ada yang menganggap bahwa hari kasih sayang adalah hari yang tepat untuk mengungkapkan perasaan, untuk memilih pasangan, untuk melakukan ritual romantis bareng pasangan dan lain sebagainya. Namun nyatanya, hingar bingar perayaan valentine saat ini, justru berbanding terbalik dengan apa yang terjadi dahulu kala, yang menjadi asal muasal peringatan ini ada.

Saat hari Valentine menjadi sebuah perayaan umum, gereja merayakannya sebagai penghormatan untuk Santa Valentine. Perayaan tersebut pertama kali dilakukan pada tahun 496 oleh Paus Gelasius I, yang menyebut Valentine sebagai, “yang namanya dihormati di antara manusia tapi yang tindak kebaikannya hanya diketahui oleh Tuhan.”

Namun, detail sejarah hidup orang kudus tersebut memiliki banyak versi, namun Santa Valentine diyakini adalah seorang martir dan meninggal lalu dikuburkan pada 14 Februari di pemakaman orang Roma di Via Flaminia, sebuah jalan pada zaman Roma Kuno. Legenda paling populer mengenai Valentine adalah bahwa ia adalah seorang pendeta Roma, yang ditahan karena melayani pasangan Kristen yang menikah, yang sebenarnya dilarang oleh Kaisar Claudius II pada abad ketiga Masehi, karena pria harus fokus pada militer, bukan keluarga.

Membantu orang Kristen adalah sebuah pelanggaran bagi Kaisar (pada masa itu Kristen dianggap agama sesat di Roma). Valentine kemudian ditangkap dan dipenjara. Saat Kaisar memanggilnya, dengan berani ia justru bersaksi dan menyuruh Kaisar bertobat.

Baca Juga:   Sejarah 21 Februari: Tan Malaka Toko Revolusi Indonesia Wafat

Oleh karena perbuatannya itu Valentine pun dihukum mati. Dia dirajam batu sebelum kepalanya dipenggal di luar gerbang Flaminia. Berdasarkan kisah lainnya, ketika dalam penjara, Valentine jatuh cinta dengan putri sipir penjara dan mengirim surat pada tanggal 14 Februari sebagai ungkapan perasaannya dan ucapan perpisahan sebelum di eksekusi. Mengenakan mahkota bunga, tengkorak Santa Valentine diletakkan di Chiesa di Santa Maria di Cosmedin, Plaza Bosca de lla Verita, Roma. Para pasangan menganggap tempat tersebut sebagai situs suci yang mengisahkan keabadian dan pengorbanan cinta.

Namun ada versi lain yang menyatakan, perayaan ini merujuk pada sebuah festival di Roma yang disebut Festival Lupercalla. Festival ini diadakan untuk menyambut musim semi yang diadakan pada pertengahan bulan Februari. Di festival tersebut, laki-laki akan mengambil perempuan berdasarkan undian yang didapatnya dari sebuah kotak undi, mereka akan berkencan dan saling mengasihi selama festival berlangsung.

Beberapa kemudian berlanjut pada pernikahan. Di kemudian hari, gereja ingin mengubah festival ini menjadi sebuah perayaan Kristen, sekaligus untuk mengenang Santa Valentine. Seiring berjalannya waktu, nama Santa Valentine mulai dipakai orang untuk mengekspresikan kasih sayang kepada orang-orang yang mereka cintai.

Lalu ada Seorang profesor di University of Kansas, Jack B. Oruch, memiliki teori berbeda dari dua sebelumnya dan coba menelitinya. Jack meyakini sumber gagasan modern mengenai St. Valentine berasal dari seorang penyair Geoffery Chaucer.

Chaucher adalah orang pertama yang menghubungkan kisah St. Valentine dengan romantisme. Menurut Jack, Chaucher mendapatkan ide itu karena Februari di Inggris adalah awal musim semi ketika burung-burung mulai mencari pasangan.

Dikutip dari New York Times, Jack juga berargumen bahwa Chaucher menilai nama Valentine terdengar lebih bagus ketimbang orang kudus lainnya yang dirayakan pada Februari di telinga orang Eropa. Syair dan puisi-puisi Chaucher lah yang kemudian melahirkan tradisi modern Valentine sebagai hari kasih sayang.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password